oleh

Mencontoh Budaya K-Pop, Yakin?

Oleh: Dian Salindri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Hari ini Mamak agak terkejut dengan pernyataan Wakil Presiden RI, Kyai H. Ma’ruf Amin. Dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad 20 September 2020. Ia mengatakan, “Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.”

Kemudian saya bertanya-tanya, bagian budaya K-Pop mana yang diharapkan menginspirasi dan baik untuk ditiru oleh anak muda? Karena bagi saya kebudayaan K-Pop itu lebih banyak membawa dampak negatif daripada dampak positifnya. Sebagai orang tua yang memiliki anak lelaki remaja dan anak perempuan yang menjelang remaja, saya justru merasa khawatir. Saya termasuk orang tua yang melarang adanya segala bentuk K-Pop masuk ke dalam lingkungan rumah.

Bayangkan saja, jika anak yang baru saja memasuki usia balig ini keracunan artis-artis dari Korea yang mengenakan pakaian serba kurang bahan, ditambah lenggak-lenggok menggoda yang pastinya akan membawa dampak sangat buruk bagi sisi seksualitanya. Bahkan, boyband K-Pop ini menciptakan lelaki cantik yang biasa berdandan layaknya perempuan, memakai lipstik, eyeshadow dan macam lainnya yang melahirkan krisis identitas bagi anak lelaki zaman sekarang. Tak ayal hal semacam ini juga memicu pemahaman kesetaraan gender dan mencetak generasi LGBT.

BACA JUGA:  Mulai Bisnis Online Saat Pandemi Covid -19, Menguntungkan!

Sungguh miris memang, melihat anak usia 7 tahun saja sudah pandai menyanyikan lagu dengan bahasa Korea tanpa mereka tahu apa artinya. Begitu juga, beredar video dengan konten Tik-Tok yang menirukan gaya menari ala-ala K-Pop, dilakukan tidak hanya oleh anak muda tapi kaum emak-emak cantik zaman now pake kerudung pula ikutan heboh dengan fenomena ini. Sungguh sakitnya tuh di sini, di kepala. Tak habis piker, ada apa dengan mereka ini wahai pencinta K-pop? Terbuai dengan kecantikan/ketampanan yang semu, menjual diri secara visual. Sungguh terlalu.

Belum lagi adegan film K-drama yang begitu banyak menghadirkan romansa percintaan anak muda, ditambah adegan ketika sang artis sedang stres pasti mencari kedai minum dan terlarut hingga mabuk. Ini menandakan budaya Korea penuh dengan segala yang tidak berfaedah dan tentunya diharamkan dalan Islam. Di mana budaya yang harus dicontohnya Pak?

Kenyataannya, dunia industri hiburan Korea ini sangat ketat, penuh dengan drama. Bullying antar sesama artis sudah jadi makanan sehari-hari. Belum lagi para fans yang terlalu fanatik dan juga haters begitu gencar celaan dan hinaannya di media sosial. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu banyaknya artis Korea yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

BACA JUGA:  Apakah Berita Berpengaruh bagi Kesehatan Kita saat Pandemi?

Album yang kurang melejit sampai sudah tak tenar lagi juga tak luput menambah tekanan para artis asal negeri gingseng tersebut. Salah satunya, Oh In Hye, artis yang cukup terkenal ini meninggal pada Senin, 14 September 2020 lalu disebabkan bunuh diri. Ternyata, di 2019 saja, ada 4 artis Korea yang melakukan bunuh diri. Berita ini cukup mengejutkan K-Pop lovers tentunya. Salah satunya adalah Sulli, penyanyi dan aktris film ini memilih mengakhiri hidupya karena tak kuat di bully netizen. Seminggu setelahnya, dunia K-Pop kembali berduka atas kematian Goo Hara yang bunuh diri demi menyusul sahabatnya (Sulli).

Begitu rentannya para artis K-Pop dengan tekanan hidup, yang jika dilihat dari kacamata Emak sih itu mah hal sepele. Bunuh diri seolah menjadi jawaban dan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Mudah sekali bagi mereka mengakhiri hidup yang diberi oleh Tuhan semesta Alam, Allah SWT.

Dari sini bisa kita simpulkan, jika manusia jauh dari Sang Pencipta dan merasa bahwa diri ini adalah miliknya sepenuhnya sehingga mereka berhak melakukan apapun terhadap diri mereka sendiri. Padahal jelas dalam Islam, diri ini milik Allah sepenuhnya. Mereka yang memilih bunuh diri sebagai jawaban atas semua masalahnya adalah orang yang ini tidak mengetahui makna dari kehidupan dan jauh dari keimanan membuat mereka tidak memiliki tujuan hidup.

BACA JUGA:  Menjalankan PHBS di Lingkungan Masyarakat saat Pandemi

Tujuan hidup mereka semata hanya demi penilaian manusia saja. Saat manusia tak lagi memberi penilaian yang baik, maka ia merasa depresi atau tertekan. Jelas pula bunuh diri adalah dosa besar dan Allah mengharamkan surga bagi pelakunya. Namun sayangnya seolah mati satu tumbuh seribu, kasus bunuh diri ini tetap saja tidak membuka mata kebanyakan K-Pop lovers. Yang mati segera tergantikan dengan ratusan artis lainnya yang muncul, karena begitulah kejamnya dunia hiburan yang hanya mengutamakan materi belaka.

Harusnya budaya yang seperti ini tidak ditiru dan segera ditinggalkan, bukannya malah didorong untuk memotivasi ‘kreativitas’ anak muda zaman now. Budaya ini sungguh rentan dan akan menghasilkan generasi yang rusak dan tidak lagi beradab. Maka, mencontoh budaya K-Pop, yakin?

Sepatutnya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia tidak mencontoh budaya Barat ataupun budaya K-Pop yang nyatanya merusak akal dan akhlak generasi zaman now. Jalan keluar yang terbaik tentunya mengembalikan generasi muda ini kepada ajaran Islam. Karena ajaran Islam ini sempurna, pastinya akan melahirkan generasi terbaik, yang akan membangun sebuah peradaban yang gemilang. []

Komentar

Berita lainnya