oleh

Literasi Milenial, Mengukir Prestasi Lewat Tulisan

Youth Journalism Indonesia (YJI) kembali menggelar bincang motivasi seputar literasi dan kepenulisan. Kali ini YJI akan menghadirkan dua penulis hebat yang sudah menghasilkan banyak prestasi dan karya dalam dunia literasi.

Dalam kesempatan ini peserta akan diajak menggali lebih banyak informasi dari narasumber bagaimana caranya bisa berkarya segitu banyak dalam waktu yang relatif pendek tanpa mengganggu aktifitas keseharian mereka.

Siapa saja narasumbernya?

Nuy Nagiga

Nagiga Nur Ayati atau lebih akrab dipanggil Nuy Nagiga, adalah seorang penulis yang telah menghasilkan lebih dari 300 judul buku.

Sepanjang hidupnya, dia menulis beragam tulisan. Berita, artikel, cerpen, buku cerita anak, buku aktivitas PAUD, novel, kumpulan kisah, komik, scrip, dan juga sebagai ghostwriter.

Lahir dan besar di Setiabudi, Jakarta Selatan. Sejak kecil ayahnya sering mendongeng sebelum tidur, sehingga dia merasa familiar dengan dunia bercerita.

Menulis sejak SMP. Saat SMP, cerpen petamanya berjudul “Papa” dimuat di koran Pelita Minggu, Jakarta.
Saat SMA suka mengisi koran sekolah.

BACA JUGA:  UNJ Gelar ICELS 2020: Sosialisasikan Pendekatan Baru Bahasa, Humaniora, dan Iptek Di Masa Covid-19

Saat kuliah di IISIP Jakarta, dia aktif menulis cerpen di Tabloid Mutiara.

Setelah lulus Sarjana, dia Bekerja di LKBN ANTARA (kantor berita di Indonesia). Selama bekerja sebagai pewarta, dia pun sering menulis artikel di koran Bisnis Indonesia, Republika dan Harian Neraca.

Pindah ke SCTV menjadi penulis skrip dan program berbagai acara.

Namun sejak tahun 2002, setelah anak pertamanya lahir, wanita ceria ini memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Kemudian mulai menetapkan diri berprofesi sebagai seorang PENULIS BUKU freelance di Grup Gramedia dan penerbit lain, juga di instansi dan perusahaan.

Buku pertama terbit tahun 2003 dengan judul “Suka Berbohong Siapa Mau Percaya” di Grup Gramedia.
Nuy Nagiga Meraih Piala Adikarya IKAPI tahun 2006 untuk kategori Penulis Buku Anak tingkat Nasional.

BACA JUGA:  UPH Percepat Transformasi Digital bagi Siswa dan Guru

Dia juga meraih penghargaan sebagai Ibu Berprestasi tingkat Nasional yang diprakarsai oleh Softener Soklin.

Buku Best Sellernya adalah Seri BILA ESOK TIADA. Dengan empat judul buku, yaitu BILA ESOK IBU TIADA, BILA ESOK AYAH TIADA, BILA ESOK ISTRI TIADA dan BILA ESOK SUAMI TIADA.

Hingga tahun 2020, penyuka warna oranye ini telah menghasilkan 300 judul buku selama 17 tahun. Alhamdulillah dia mampu membeli rumah, mobil dan sepeda motor dari hasil menulis.

Memiliki dua putra yang beranjak remaja. Saat ini Nuy Nagiga tinggal di Ciracas, Jakarta Timur dan mendirikan INSANUSA.COM

Fayanna Ailisha Davianny

Fayanna Ailisha Davianny adalah penulis cilik berbakat yang sudah menghasilkan 42 karya buku di usianya yang masih 13 tahun. Tentunya ini adalah sebuah pencapaian luar biasa dari remaja 13 tahun, belum tentu orang dewasa bisa seproduktif itu dalam menulis. Ketekunannya dalam menulis pastinya bukan didapatkan dengan cara yang instan tetapi dengan proses yang begitu panjang.

BACA JUGA:  UPH Percepat Transformasi Digital bagi Siswa dan Guru

Awalnya Fayanna adalah anak yang sering dibacakan buku oleh ibunya. Dari kebiasaan tersebut ternyata berkembang menjadi kesukaan pada dunia menulis. Fayanna kemudian mulai membangun kebiasaan untuk menulis cerita di buku tulisnya, setelah lebih berkembang kemudian baru mulai untuk menuangkan idenya tersebut dengan mengetik di laptop. Sehingga perkembangannya untuk menulis semakin berkembang.

Saat usianya 8 tahun, Fayanna ditawari untuk mengikuti lomba menulis cerpen tingkat nasional dan menjadi juara 2. Hasil dari lomba tersebut karya Fayanna akhirnya dibukukan dan itu menjadi karya buku pertamanya. Dari proses penerbitan buku ini kemudian Fayannad kenal dengan editor di penerbit buku.

Yuk Ikutan

So tunggu apalagi? ayo segera daftar dan pesan kursi karena peserta terbatas, jangan sampai terlewat kesempatan langka ini. GRATIS lho!

Komentar

Berita lainnya