oleh

Jangan Anti Nasihat!

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Ada yang perlu diluruskan tentang “nasihat”.

Nasihat, bukan nasehat. Itu artinya “ajaran atau pelajaran baik”. Atau lainnya berarti “anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik”. Maka bagi siapapun, menasihati atau menasihatkan pasti “pesannya baik, sesuatu yang positif”. Ada ajaran moral yang baik dari nasihat. Jadi sangat salah, bila ada orang menasihati sesuatu yang buruk, apalagi jahat.

Contoh nasihat, “Nasihat pemerintah, semua orang wajib pakai masker”. Tapi sebaliknya “Gimana tidak sakit, sudah dinasihati tidak mau” adalah bukan nasihat.

Di tengah wabah Covid-19, nasihat baik itu penting. Bahkan di era media sosial seperti sekarang pun nasihat yang baik sangat penting. Karena selain sebagai koreksi, nasihat juga sebagai evaluasi atas apa yang pernah diucapkan dan dilakukan. Agar ke depan jadi lebih baik, bukan lebih buruk. Maka nasihat adalah sesuatu yang baik.

BACA JUGA:  Tetap Stylish, Nyaman, dan Aman, Pakaian yang Tepat Saat Pandemi Covid 19

Maka nasihat, tidak tercermin darih kata-kata yang buruk. Tidak ada nasihat pada kata-kata yang jelek atau jahat. Berdalih nasihat. Tapi mencela, mencaci, menghujat, membenci, menyalahkan atau merendahkan orang lain. Sama sekali itu semua bukan nasihat. Berdebat yang tidak ada manfaatnya pun bukan nasihat. Coba cek di media sosial. Gayanya seperti bernasihat. Tapi nyatanya, kata-kata yang dipakai tidak baik, tidak pantas. Sekali lagi, itu bukan nasihat.

Kenapa nasihat? Karena manusia itu makhluk yang labil. Pemilik salah dan khilaf. Kan tidak ada manusia yang sempurna. Namanya manusia. Satu waktu berbuat baik, di waktu lain berbuat buruk. Saat ingat baik, saat lupa jahat. Hari ini benar, bsia jadi besok salah. Atas dasar itu tiap manusia pasti butuh nasihat, antara dinasihati atau menasihati. Tujuannya, untuk mengingatkan. Agar jadi lebih baik, jadi lebih benar, jadi lebih ingat. Itulah nasihat.

BACA JUGA:  Potret Kebijakan Ekonomi Indonesia

Maka siapapun, selagi masih jadi manusia. Jangan pernah merasa paling benar dan mengklaim tidak pernah salah. Manusia itu pasti ada salahnya. Dan orang yang anti nasihat, kemungkinannya hanya dua: 1) sombong atau 2) bebal. Merasa diri paling benar, sementara yang lain salah.

Sejatinya, nasihat itu untuk memperbaiki diri. Nasihat pun boleh disebut sebuah “investasi” kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Karena tanpa nasihat, manusia akan sulit dikontrol. Bahkan bisa menabrak aturan apa pun. Menjadi liar dan tidak terkendala. Hingga akhirnya membuat kerusakan dan kerugian. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain.

Maka di TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Saya pun membiasakan untuk memberi nasihat kepada anak-anak kampung usia sekolah dan masyarakat sekitar. Agar mereka lebih paham arti kehidupan dan mampu berdaya di tengah peradaban, bukan malah terlindas zaman. Taman bacaan bukan hanya jadi tempat baca. Tapi juga tempat bernasihat orang dewasa kepada anak-anak. Agar mereka tidak salah jalan. Agar hidup lebih bermanfaat untuk orang lain, bukan malah merusak orang lain.

BACA JUGA:  Mencuci Tangan Menjadi Tren Baru Pada Masa Pandemi Covid-19?

Karena saya percaya. Nasihat itulah yang duperlukan banyak orang hari ini. Agar jadi lebih baik, lebih bijak, lebih rendah hati, dan lebih peduli. Karena “sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS 103:2-3).

Mungkin karena nasihat, kesalahan dan kekurangan manusia bisa ditambal. Sebab pengetahuan manusia itu terbatas, tidak bisa menjangkau segala hal dalam kehidupan. Dan nasihat baik itu datangnya dari Allah, walau eksekusinya bisa saja melalui orang lain. Jadi, nasihat itu kebaikan bukan keburukan. Salam literasi.

Komentar

Berita lainnya