oleh

Survei GNFI: Hanya 21% Anak Muda yang Optimis Terhadap Politik dan Penegakan Hukum

JAKARTA – Good News From Indonesia (GNFI) yang selama ini menyebarkan berita positif tentang Indonesia melalui portal dan media sosial kembali melakukan survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020. Survei yang dilaksanakan pada Juli-Agustus 2020 ini bertujuan seberapa optimistis generasi muda terhadap masa depan Indonesia pada berbagai sektor kehidupan. Survei ini juga coba mengukur bagaimana dampak pandemi Covid-19 yang telah mengubah perilaku, kebiasaan, dan dinamika kehidupan masyarakat.

Selain itu, GNFI bersama Datamixr ingin melihat sejauh mana penilaian generasi muda Indonesia terhadap kinerja pemerintah. Topik isu yang akan menjadi fokus adalah sektor Infrastruktur Dasar, Politik dan Hukum, Ekonomi dan Kesejahteraan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, serta Kehidupan Sosial di Indonesia selama 10 tahun ke depan. Sebelumnya, GNFI pernah melakukan survei yang sama pada 2018.

Hasilnya, pada lima sektor kehidupan yang diteliti, responden menyatakan optimisme pada empat sektor, yakni Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, Infrastruktur Dasar, serta Ekonomi dan Kesejahteraan. Optimisme ini tampak dari perolehan angka net indeks optimisme ≥50 persen. Lalu sektor yang paling dipandang biasa saja oleh generasi muda adalah sektor Kehidupan Sosial. Sementara satu-satunya sektor yang mendapat angka net indeks optimisme di bawah 50 persen adalah Politik dan Hukum.

“Masyarakat Indonesia memiliki beberapa ‘DNA’ yang bisa membuat bangsa ini semakin dikenal dan maju untuk bersaing dengan bangsa lain di dunia. Apalagi 10 tahun ke depan, di tengah puncak Bonus Demografi, generasi muda inilah yang akan memimpin seluruh sektor pembangunan. Untuk itu kita perlu tahu bagaimana pandangan mereka dan seberapa besar optimisme mereka terhadap negerinya sendiri,” ujar Akhyari Hananto, pendiri dan Pemimpin Redaksi GNFI.

BACA JUGA:  Tahap IV Beasiswa Sarjana LUAS Dimulai

Optimisme yang Tinggi pada Sektor Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan

Generasi muda Indonesia paling optimistis terhadap sektor Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dengan perolehan angka net indeks 68 persen. Salah satu aspek yang paling dipandang positif menurut adalah perkembangan pariwisata, terutama terkait informasi dan pengenalan tempat-tempat pariwisata yang kini semakin mudah diakses, dan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi.

“Akses informasi melalui internet, mobile phone, dan media sosial membuat anak muda bisa belajar secara langsung tentang tren. Fenomena yang saya temukan adalah anak muda saat ini sedang bergeliat mencari dan memperkuat identitas kelokalan mereka. Mereka mencari currency, sesuatu yang berasal dari kekhasan kota dan etnis untuk diangkat menjadi sebuah tren global,’’ kata Muhammad Faisal, pendiri Youthlab Indonesia, yang selama satu dekade telah meneliti generasi muda Indonesia.

Harap-harap Cemas di Sektor Ekonomi Akibat Kesenjangan dan Pandemi Covid-19

Berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri kreatif, perusahaan rintisan (startup) dan iklim kewirausahaan dipandang positif oleh generasi. Salah satunya karena perkembangan ini juga membuat pilihan lapangan pekerjaan makin beragam. Yang dinilai sebagai pendorong kemajuan ini adalah perkembangan teknologi digital. Sektor ini mendapat angka Indeks 64 persen. Namun, responden masih meragukan kemampuan pemerintah menurunkan angka ketimpangan sosial antara kaya dan miskin di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  Diskusi Mundurnya Shinzo Abe dan Naiknya Sang "Tangan Kanan"

Generasi muda lebih mengkhawatirkan aspek ekonomi daripada aspek kesehatan dari pandemi Covid-19. Hal yang paling disoroti adalah kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membuat roda perekonomian bergerak melambat yang dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi.

“Wajar jika masyarakat khawatir akan kondisi ini karena pandemi merupakan situasi darurat yang tak pernah terprediksi. Namun, perlu diketahui bahwa hingga akhir 2019 lalu, indeks kepercayaan konsumen masyarakat masih tetap tinggi. Salah satunya alasannya adalah kepercayaan dan optimisme mereka akan ketersediaan lapangan pekerjaan dan tingkat harga yang masih terjaga. Sejak adanya pandemi, bantuan sosial yang disediakan oleh pemerintah mulai dirasakan oleh masyarakat terutama bagi kelompok masyarakat miskin,’’ ujar Moekti Prasetiani Soejachmoen, Chief Economist Danareksa Research Institute.

Pesimisme Membayang pada Sektor Politik dan Hukum

Sementara itu, responden merasa pesimistis terhadap sektor Politik dan Hukum dengan perolehan angka net indeks hanya 21 persen. Hal ini terefleksikan dari masih rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap dukungan pemerintah dalam pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang lebih tegas hingga ke ranah kota kecil dan kabupaten.

“Melihat hasil survey indeks optimisme yang tinggi di ekonomi dan rendah di politik, sejatinya saya kurang setuju. Karena sejatinya ekonomi dan politik saling berkaitan satu dengan yang lain. Saat ini sudah banyak politisi muda, eksekutif muda dan juga pengusaha muda, yang memiliki peran penting. Dalam bidang politik dan hukum, kami akan rampungkan kebijakan, yang berdampak baik bagi Indonesia ke depan. Salah satunya RUU Perlindungan Data Pribadi. Ini akan jadi momentum bagi kami untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, bahwa keamanan bukan hanya kejahatan konvensional di jalanan, melainkan juga kejahatan di dunia siber. Saya cukup optimis dengan masa depan politik Indonesia.’’ kata Farah Putri Nahlia, anggota Komisi I DPR RI.

BACA JUGA:  Didin Hafidhuddin dan Adian Husaini Terpilih Pimpin Dewan Da'wah Islamiyah

Survei ini dilakukan dengan metode kuantitatif yang diperkuat dengan hasil wawancara mendalam kepada para responden generasi muda dengan rentang usia 18-40 tahun. Pemilihan sampling menggunakan metode multi stage random sampling di lima kota di Indonesia, yakni Jabodetabek, Makassar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta.

“Sebagai platform media berbagi berita baik tentang Indonesia, GNFI merasa perlu untuk menyelenggarakan survei ini, dan secara reguler melihat apa saja yang membuat masyarakat terutama generasi muda optimis maupun pesimis dalam melihat negerinya. Hasil studi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi serta melakukan langkah-langkah perbaikan terhadab sektor-sektor yang masih menimbulkan pesimisme di kalangan generasi muda. Sementara pada sektor yang telah mencatatkan persepsi optimisme, dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk lebih menggerakkan kemajuan di sektor tersebut,’’ ungkap Wahyu Aji, CEO GNFI. []

Komentar

Berita lainnya