oleh

Sebuah Koreksi Siklus Hidup Mahasiswa

Oleh: Fatimah Azzahrah Hanifah, Mahasiswi Universitas Indonesia

Fenomena mahasiswa stres, depresi, merasa kesepian dan kelelahan kian meningkat. Berdasarkan laporan Student Minds, stres termasuk dalam sepuluh kesulitan besar yang dihadapi mahasiswa terkait kesehatan mental. Menurut hasil penelitian yang dilakukan National Collage Health Assessment di tahun 2019, sebanyak 34,2% mahasiswa mengalami stres dan 13.3% di antaranya mempertimbangkan untuk bunuh diri. Di dalam penelitian yang sama, stres berada diperingkat pertama yang mempengaruhi kinerja akademik.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa mengalami stres, seperti tekanan akademik, tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat, tekanan sosial, hubungan dalam keluarga, pertemanan, percintaan, kurangnya kepercayaan diri dan sebagainya. Timbullah pertanyaan, bagaimana seorang mahasiswa sebagai agent of chance dapat membawa solusi bagi masyarakat, sementara dirinya pun berada dalam kurungan masalah?

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, perlu melihat kembali bagaimana siklus kehidupan mahasiswa. Umumnya aktivitas mahasiswa dimulai sejak pagi hingga sore atau malam hari. Patut diperhatikan, aktivitas mahasiswa tidak hanya seputar akademik saja. Kepanitiaan, organisasi di dalam maupun di luar kampus, hingga bekerja merupakan aktivitas yang biasa dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk mengasah soft skill ataupun hard skill mereka. Sayangnya aktivitas ini hanya untuk memenuhi tuntutan duniawi semata yaitu memenuhi CV demi mendapat pekerjaan.

BACA JUGA:  Jangan Anti Nasihat!

Tuntutan serba duniawi ini disebabkan sistem hidup kapitalis yang diterapkan saat ini. Kapitalis memang memusatkan perhatian pada kehidupan dunia dan menganggap akhirat adalah filosofi yang boleh dipercaya dan boleh diabaikan. Sistem hidup ini telah tertanam di dalam masyarakat hingga kepada masing-masing individu. Sistem kapitalis dengan akidahnya yaitu sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) akhirnya mengorientasikan kehidupan untuk mencari materi semata, sehingga membuat mahasiswa kehilangan arah, stres, depresi, bahkan memikirkan untuk bunuh diri.

Sistem hidup kapitalisme ini berpengaruh kepada tiga hal, yaitu: Pertama, individu mahasiswa. Saat ini telah terjadi distorsi makna kebahagiaan dan kesuksesan. Menurut pandangan saat ini, kebahagiaan selalu dikaitkan dengan upaya mengejar tujuan hidup berupa materi seperti memiliki barang-barang tertentu, mengenakan pakaian tertentu, menjaga bentuk penampilan tertentu dan menikmati hidup dengan gaya hidup tertentu. Inilah standar kebahagian dan kesuksesan yang secara sadar tertanam di dalam diri mahasiswa.

Karena standar inilah terjadi perubahan niat menuntut ilmu pada mahasiswa. Mahasiswa menuntut ilmu bukan lagi untuk mencerdaskan dirinya dan sekitarnya. Melainkan untuk dapat bekerja dan meraih materi.

BACA JUGA:  Merangkul Milenial, Kenali dan Pahami Karakteristiknya

Padahal menurut Islam, kebahagian dan kesuksesan individu diraih ketika berhasil meraih ridha Allah SWT dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hal ini membuat mahasiswa Muslim senantiasa meniatkan segala aktivitasnya untuk beribadah kepada Allah SWT dalam rangka meraih ridha-Nya termasuk ketika menuntut ilmu. Seluruh aktivitas yang dilakukan di dunia ini seharusnya diarahkan agar dapat dinikmati hasilnya di akhirat, bukan semata-mata untuk kenikmatan di dunia saja.

Kedua, pada pandangan masyarakat. Masyarakat saat ini memandang mahasiswa ‘bermanfaat’ ketika ia dapat bekerja dan mandapatkan gaji yang besar. Dalam pandangan kapitalis, aktivitas yang bermanfaat adalah segala sesuatu yang dapat memberikan manfaat duniawi seperti materi. Pandangan seperti ini jelas mencederai aktivitas menuntut ilmu itu sendiri. Karena ilmu dijadikan sebagai faktor produksi yang menghasilkan materi semata. Padahal kedudukan ilmu jauh lebih tinggi dibandingkan sebatas faktor produksi.

Yang membuat ilmu itu ‘bermanfaat’ adalah bagaimana ia menerapkannya. Seperti mahasiswa kedokteran yang mempelajari berbagai gejala penyakit, obat-obatan dan dosisnya. Boleh jadi, ia menerapkan ilmu tersebut untuk mengobati pasien hanya demi kepentingan pasien, atau sebagai pekerjaan belaka, atau untuk mendapatkan materi dari pekerjaannya. Namun, dalam Islam penerapan ilmu lebih jauh dari itu. Seorang dokter mengobati pasien semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT. Karena Allah senantiasa mendorong hamba-Nya untuk menolong orang-orang yang kesulitan, termasuk orang-orang yang sedang sakit.

BACA JUGA:  Apa Itu Literasi ?

Ketiga, sistem pendidikan berasaskan kapitalisme membuat pendidikan tinggi menjadi tempat pencetak robot-robot pekerja. Pada pendidikan tinggi Indonesia, mahasiswa dibebani materi pelajaran yang tidak menunjang keilmuan yang ingin dikuasai. Beban materi ini membuat mahasiswa kurang berpikir produktif.

Dalam Islam, mahasiswa di pendidikan tinggi disiapkan untuk menjadi individu cerdas yang ahli dalam keilmuannya, mencerdaskan masyarakat dan dapat menyelesaikan problematika masyarakat. Materi yang disampaikan pun fokus pada keilmuan sehingga menjadikan mahasiswa berpikir produktif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, Islam dengan kesempurnaannya dapat meluruskan makna kebahagiaan dan kesuksesan didasarkan dengan niat karena Allah SWT, menjadikan masyarakat yang mendukung, serta menjadi sistem yang ideal (sesuai dengan fitrah manusia). Lingkungan pendidikan ala Islam menciptakan mahasiswa yang mencintai ilmunya. Maka, sebagai mahasiswa muslim sudah seharusnya kita memilih sistem hidup Islam. []

Komentar

Berita lainnya