oleh

Refleksi Idul Adha 1441H; Taat Sempurna dan Siap Berkurban Menuju Solusi Pandemi

Oleh: Afifah Azzahra, Mahasiswi Kimia UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Hari istimewa kembali hadir di tengah umat Muslim, yaitu Hari Raya Idul Adha. Seperti halnya Hari Raya Idul Fitri, umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga kini. Berkurban merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Islam tepatnya pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Qurban sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang mampu. Allah SWT berfirman,“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-Mu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”(QS.Al-Kautsar : 2)

Ibadah qurban yang diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang mengacu  kepada sejarah qurbannya Nabi Ibrahim as. Perintah  mengorbankan anak yang dicintainya, Nabi Ismail as yang kemudian Allah gantikan dengan seekor kambing adalah salah satu bukti ketaatan Nabi Ibrahim as dalam  menjalankan perintah Allah SWT. Hal itu telah disampaikan Allah dalam firman-Nya di Surah As-Saafat ayat 105-109 yang artinya, “Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Pelaksanaan ibadah qurban harus diniatkan dalam  rangka takwa dan menjalankan perintah Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya di Surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. Inilah esensi ruhiyah yang menjadi dorongan bagi kaum Muslimin untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT dan ketakwaan dalam menjalankan syariat agama Islam.

BACA JUGA:  Momentum Taat Kala Pandemi

Karena itu, peringatan Hari Raya Idul Adha tidak boleh berhenti pada perayaan belaka tetapi harus menggelorakan semangat berkorban  pada setiap umat untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan dan berani menyuarakan kebenaran terlebih dalam sistem hari ini.

Pandemi menghasilkan banyak krisis bawaan dalam berbagai sektor kehidupan karena masih diterapkannya sistem kapitalisme. Pada sektor kesehatan misalnya, belum terpenuhinya kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan dan kebutuhan vaksin. Pada sektor ekonomi yaitu terjadinya kemandegan hingga resesi. Dan pada sektor sosial yaitu maraknya perceraian, pendidikan yang minus visi, juga membiarkan generasi muda kehilangan arah miskin teladan untuk menjadi generasi terbaik sebagaimana Nabi Ismail as.

BACA JUGA:  Wali Kota Depok Berkurban 50 Ekor Sapi Tersebar di 11 Kecamatan

Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda new normal tidak mampu menjadi solusi atasi pandemi. Menjadi kebutuhan mendesak bagi umat untuk  kembali pada sistem Ilahi dengan tegaknya seluruh syariat sebagai solusi. Marilah kita sudahi pengorbanan sia-sia yang hanya bertujuan untuk kemaslahatan dunia.

Saatnya kita membuktikan ketakwaan dan ketaatan sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Sudah selayaknya momentum Idul Adha atau idul kurban bukan hanya dijadikan hal yang bersifat rutinitas belaka yang terlaksana tanpa makna, melainkan momentum dijadikan sebagai upaya refleksi kita dalam menjalani hidup ini agar menjadi lebih bertakwa dan taat sempurna kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallahua’lam. []

Komentar

Berita lainnya