oleh

Muharram, Hijrah Dari Lahir Ke Batin

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

“Semoga tahun ini kita menjadi lebih baik”. Begitulah doa yang dilantunkan banyak orang dalam memperingati 1 Muharram 1442 H. Di grup WA, di facebook atau di media sosial lainnya. Seraya kita menjawab, “amiin”.

Menjadi lebih baik, itu berarti siapapun yang berdoa. Pasti merasa tahun sebelumnya belum baik atau kurang baik. Atau sudah baik tapi belum optimal, maka ingin lebih baik lagi. Kira-kira begitu. Karena ada niat dan tekad, untuk menjadikan tahun ini lebih baik. Dari keadaan yang sepenuhnya belum baik menjadi lebih baik lagi. Betul begitu kan? Nah itu berarti, banyak orang pun memaknai 1 Muharram sebagai hijrah. Hijrah yang berarti ‘meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat’. Kata anak zaman now, “move on”. Hijrah atau move on ada berbagai sisi kehidupan yang diniatkan untuk lebih baik. Sampai di sini sepakat ya.

Maka bolehlah disebut, muharram itu hijrah.

Hijrah dari suatu keadaan sekarang ke keadaan lain yang lebih baik. Tapi soalnya, tidak sedikit orang yang memaknai hijrah hanya sebatas lahir butan batin, sebatas fisik bukan nonfisik. Maka betapa banyak perubahan lahir yang diuber banyak orang. Tapi tidak berpengaruh terhadap batinnya. Ada yang makin pintar karena sekolahnya tinggi. Ada pula yang makin kaya karena kariernya maju. Ada pula yang makin tampan. Tapi sayang, hanya sebatas fisik. Tapi batinnya tetap kosong, batin yang tidak bersyukur. Bahkan batin yang gersang. Seperti di wabah Covid-19 sekarang. Makin banyak orang OTG (Orang Tanpa Gejala). Artinya, fisiknya sehat namun ternyata sakit. Wajahnya ceria namun hatinya duka. Kata-katanya indah, namun perbuatannya tidak indah. Begitulah realitasnya. Semua itu berarti, belum ada hijrah.

BACA JUGA:  Efektivitas Guru dan Siswa dalam Interaktif Pembelajaran Daring di Masa Pandemi

Urusan lahir atau fisik itu sangat mudah diukur. Cukup menggunakan mata. Saat lihat indah, begitulah kesan yang timbul. Seperti kata Imam Ghazali, penyakit lahir atau fisik itu banyak pakarnya. Sakit cancer ada dokternya, sakit kulit ada dokternya, sakit jantung pun ada dokter jantung. Tapi penyakit batin, sama sekali belum ada dokternya. Di jalan-jalan di rumah sakit di klinik, tidak ada dokter penyakit sombong. Tidak ada dokter penyakit dengki. Atau kita ingin berobat ke dokter penyakit benci? Sama sekali tidak ada.

Hijrah itu bukan soal lahir. Tapi batin. Lahir dan batin bersinergi untuk lebih baik.

Seperti penyakit lahir, pada siapapun, bisa dideteksi dan bisa didiagnosis. Orang yang sakit kepala tandanya pusing. Orang yang sakit flu pasti terasa tidak enak badan. Tapi penyakit batin, banyak orang mengidapnya tanpa tahu gejala sakitnya. Siapa di antara kita yang bisa mendeteksi penyakit sombong, dengki atau benci di diri sendiri? Fisiknya ngobrol tapi akhirnya bersusah payah mencari kejelekan orang lain. Bersikap sombong yang merasa wajar karena itu semua hasil jerih payahnya. Orang-orang yang mengaku hemat untuk menutupi kekikirannya. Maaf bila tidak berkenan ya.

BACA JUGA:  Nasib Anak dalam Lingkaran Setan

Jadi jelas, hijrah tidak hanya soal lahir atau fisik. Tapi hijrah harus dan harus melibatkan batin, menggunakan hati. Bila ada orang sombong masih tetap galau. Bila ada orang kaya tapi merasa miskin. Bila ada orang yang sudah berbuat tapi hatinya tidak tenang. Kata kuncinya, mereka belum berhjrah. Belum berpindah dari keadaan lahir menuju ke batin. Lebih bersifat fisik, bukan psikis.

Maka dengan tegas, hijrah atau berpindah tempat bukan soal lahir. Menjadi lebih baik di tahun ini daripada tahun sebelumnya bukan soal material. Tapi soal batin, soal psikis. Dan itu semua, hijrah hanya bisa terjadi bila kita berpegang kepada agama Allah. Hijrah dari belum dengan kepada Allah menjadi lebih dekat dan khusyuk bersama Allah.

Jadi bagaiaman bisa berhijrah?

Sederhana saja. Mungkin kemarin-kemarin kita sudah hebat dan mampu mencapai yang kita inginkan. Tapi sayang apa yang kita capai itu belum punya manfaat banyak orang lain. Atau bahkan malah menyakitkan orang lain. Sekali lagi hijrah bukan hanya lahir tapi batin. Maka 1 Muharram 1`441 H ini jadi momen hijrah, untuk siapapun. Berhijrahlah untuk 1) memberikan bantuan kepada orang lain, sekolahkan anak-anak yatim yang terancam putus sekolah, 2) buatlah orang lain senang bukan malah jadi benci atau hasud, dan 3) tebarkan manfaat kepada orang lain, bukan justru memanfaatkan orang lain. Bersikap untuk menghargai bukan menghina, bersikap untuk mengangkat bukan menjatuhkan. Itu semua cara sederhana untuk hijrah, momen tahun baru Islam yang lebih bermakna.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Muharram itu hijrah. Tentang kesadaran dan kesdiaan untuk berubah. Berpindah tempat dari yang belum baik menuju ke yang lebih baik. Dan untuk berhijrah, cukup dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Tidak perlu banyak mengeluh, tidak perlu membenci. Apalagi membicarakan kejelekan orang lain hingga menghujat orang lain. Hijrah cukup dengan melibatkan hati, memperbaiki batin. Karena sela mini, mungkin kita terlalu banyak memperbagus lahir atau fisik semata.

Jadi sungguh. Bila tahun ini tidak lebih baik dari tahun kemarin. Maka kita bukan termasuk kaum yang berhijrah. Dan semua itu, nanti dibuktikan oleh waktu. Itupun bila masih diberi umur panjang. Tetaplah ikhtiar dan berdoa untuk terus-mnerus mencari jalan menuju kehidupan yang lebih baik; lebih bermanfaat untuk agama dan orang lain. Bukan malah sebaliknya. Karena hijrah memang butuh kesungguhan, siapapun.

Hijrah, memang harus “meninggalkan” apa yang dirasakan untuk bersegera menuju ke tempat yang harus “didapatkan”. Sebelum ajal tiba. Wallahu a’lam bishowab, insya Allah.

Komentar

Berita lainnya