oleh

Momentum Taat Kala Pandemi

Oleh : Wendy Lastwati, Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Depok

Ibadah haji tahun ini mungkin menjadi salah satu haji yang istimewa. Otoritas Kerajaan Saudi memutuskan untuk tetap melangsungkan syariat haji dengan beberapa protokoler. Hanya sebanyak 40% kuota jamaah yang akan diizinkan untuk mengikuti ibadah haji. Ibadah haji kala pandemi ini mengharuskan Muslim lebih meningkatkan keimanannya lagi. Kenyataan pahit pun harus diterima para calon jemaah haji yang batal berangkat. Di tanah air, umat Muslim pun harus merayakan Idul Adha tidak seperti biasanya.

Perayaan ibadah haji dan Idul Adha di tahun pandemi juga mungkin akan berbeda, namun hakikatnya tetaplah sama. Perayaan ibadah haji di Makkah dan Idul Adha di tanah air mendidik kita paling tidak untuk belajar menjadi ikhlas. Ikhlas adalah perkara hati. Meng-Esakan Pencipta. Mengakui dalam hati, ucapan dan perbuatan bahwa Allah adalah Sang Pencipta.

Selain mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, seorang Muslim juga dituntut untuk beriman kepada qadha dan segala musibah yang telah ditetapkan oleh-Nya. Wabah yang tengah berlangsung saat ini mengajarkan kepada kita bahwa sebagai makhluk kita tidak bisa tidak selain menerima apapun takdir yang telah Allah tetapkan. Sambil terus taat kepada syariah. Taat kepada Sang Pembuat hukum.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 57, bahwa manusia harus menerima hukum yang diturunkan kepada Allah. ‘Innil hukmu illa lillah’. Hukum ini (hukum yang ditaati) adalah dari Allah. Ketundukan kepada Allah ini harus diimani dalam hati. Selain dalam hati, juga harus diucapkan dan dikerjakan. Jangan kita termasuk ke dalam golongan orang munafik karena mengaku beriman namun tidak taat kepada perintah Allah.

Pandemi ini juga membuat kita menyadari bahwa hukum alam yang telah Allah ciptakan tidak boleh dirusak oleh manusia. Allah membuat syariat untuk ditaati manusia. Ketentuan alam yang telah diatur oleh Allah sedemikian rupa haruslah berjalan sesuai dengan sunatullah-Nya. Jika manusia merusak kadar/ketentuan itu, maka manusia akan menerima akibatnya sendiri.

Seperti firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Wabah yang terjadi ini juga membuat kita sebagai manusia berkaca akan maksiat yang telah dilakukan. Adakah hal-hal syariat yang telah dilanggar? Hari ini kapitalisme masih saja menjadi paham yang diadopsi oleh kaum Muslim. Padahal nyata-nyata kapitalisme telah gagal sebagai sistem kehidupan. Kapitalisme telah merusak alam.

Para kapitalis yang bersekongkol dengan penguasa membuat kebijakan yang tidak sesuai syariah tapi sesuai hawa nafsu. Berbagai kerusakan alam ditengarai karena ulah kerakusan manusia. Pembalakan liar hutan, pencemaran hutan, laut, sungai, semua karena ulah kerakusan manusia. Kerakusan ini muncul karena asas kapitalisme yang membolehkan eksploitasi alam untuk manusia.

Pun dengan pemerintahan negeri ini, masih ada beberapa kebijakan yang tidak sesuai dengan syariah. Misalnya tentang pengelolaan dana haji. Seperti yang diketahui pengelolaan dana haji itu disimpan dalam bentuk investasi di bank. Hal ini sangat jauh dari pengelolaan negara sesuai dengan ketentuan syariah.

Dalam Islam, sistem ribawi tidaklah diperbolehkan. Dalam Al-Qur’an, Allah telah jelas mengharamkan riba. Namun dengan sistem sekarang mau tak mau umat Islam dipaksa untuk menggunakan riba. Bahkan untuk pengelolaan dana haji, sistem ribawi ini tidak bisa dihindarkan.

Allah telah jelas mengharamkan riba. Salah satu dalilnya tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 yang artinya, “…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Bahkan Allah mengumpamakan orang yang mengambil riba sebagai orang yang gila kemasukan setan. Bisa dilihat bahwa orang yang telah terpenjara dengan utang yang berlipat-lipat akan seperti orang gila. Orang gila tidak bisa lagi berpikir jernih tentang hal apapun. Maka itu segala aturan akan ditabraknya. Pun dengan aturan dari Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi riba dan bertobat.

Wabah yang sekarang terjadi sudah seharusnya menjadi momentum untuk kita bermuhasabah diri dan bertobat. Sudahkah kita benar-benar mengorbankan hawa nafsu kita demi Allah. Sebagaimana pengorbanan sahabat dahulu ketika momentum perjanjian Hudaibiyah.

Saat itu Rasulullah ingin melakukan strategi untuk berdakwah. Rasulullah telah bersiap untuk melakukan perjalanan haji. Namun kaum Quraisy merasa hal itu hanyalah strategi kaum Muslim. Maka dihadanglah kaum Muslim. Melihat gelagat kaum Quraisy, kaum Muslim pun bersiap untuk perang. Rasulullah pun segera mengirimkan utusan dan terjadilah perjanjian Hudaibiyah.

Saat itu sahabat terdahulu dari Rasulullah saja belum menerima keputusan yang diambil oleh Rasulullah. Melihat sikap kaum Muslim saat itu membuat Rasulullah bersedih dan mengeluhkan hal itu kepada istri beliau, Ummu Salamah. Namun Ummu Salamah dengan keimanan yang tinggi, menguatkan Rasulullah agar tegar dan memberi teladan kepada kaum Muslim. Rasulullah pun bangkit dan segera bertahalul melakukan ibadah haji. Akhirnya kaum Muslim pun mengikuti tindakan Rasulullah.

Begitulah keimanan para sahabat terdahulu. Mereka pun sebenarnya sama seperti kita manusia biasa. Namun karena keimanan mereka tinggi, maka mereka segera taat melaksanakan perintah Rasulullah SAW. Begitu juga dengan kita. Walaupun generasi kita sangat jauh dari Rasulullah, teladan dari sahabat harus diikuti pula. Mudah-mudahan momentum pandemi ini dapat dijadikan sebagai momen untuk bermuhasabah dan meneladani Rasulullah dan para sahabat terdahulu. []

Komentar

Berita lainnya