oleh

Bagaimana Masyarakat Hadapi Resesi?

Oleh: Nabilah Shofa Fauziyah, S.Gz., Pegawai Swasta

Selama masa pandemi virus corona (Covid-19), perekonomian dunia kerap berada di ambang ketidakpastian. Tahun 2020 bisa dikatakan menjadi tahun yang berat bagi perekonomian dunia. Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang jika dilihat dari data pengangguran, aktivitas manufaktur, serta penjualan ritel Indonesia diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini akan mengalami kontraksi. Berbagai media pun mulai mengangkat isu resesi yang sudah berada di depan mata dan tentunya membuat cemas masyarakat.

Berdasarkan paparan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Melansir The Balance, terdapat 5 indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi, yakni PDB riil, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur dan penjualan ritel. Beberapa negara pun sudah terpukul akibat resesi ini seperti Singapura, Jepang, Jerman, Hong Kong, Perancis dan Italia. Pemerintah pun sudah ketat-ketir terhadap resesi Singapura karena jaraknya yang dekat dengan Indonesia. Bisa dipastikan jika sistem ekonomi dunia terus seperti ini, maka satu per satu negara akan berjatuhan ke jurang resesi.

BACA JUGA:  Apa Itu Literasi ?

Lantas bagaimana masyarakat harus menghadapi resesi? Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah pun mengatakan bahwa di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan.

Benarkah seperti itu? Jika dilihat dari data ekonomi dunia bahkan sebelum pandemi ini berlangsung, kondisi ekonomi dunia sudah sangat fluktuatif dan telah mengalami resesi berulang kali. Lantas mengapa hal tersebut bisa terjadi berulang kali? Bagaimana solusi sebenarnya untuk menghadapi hal tersebut?

Krisis ekonomi yang berulang, bahkan sampai resesi dan depresi merupakan tabiat kapitalisme. Hal ini karena fondasi ekonominya yang lemah. Sebab, fondasi sistem ekonomi kapitalisme dibangun dari struktur ekonomi yang semu, yakni ekonomi sektor non riil. Selain itu banyak sekali penyimpangan dari sistem ekonomi kapitalisme seperti menyingkirkan emas yang nilainya tetap sebagai cadangan mata uang, memberlakukan sistem utang piutang dengan akad ribawi, sistem bursa dan pasar modal, serta kepemilikan yang tidak jelas. Sistem ekonomi seperti ini, hanya dengan isu kecil saja, bisa meledak sewaktu-waktu. Apalagi jika dilanda isu besar seperti wabah virus corona seperti saat ini.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Maka dari itu, tidak cukup solusi yang ditawarkan kepada masyarakat untuk menghadapi resesi hanya dengan sekadar menghemat uang, tidak boros dan menjaga kesehatan. Masyarakat yang hidupnya pas-pasan dan berada di kelas menengah ke bawah tentu akan tetap terpukul secara ekonomi walaupun sudah berusaha untuk tetap berhemat dan menabung. Dari sini kita bisa melihat bahwa solusi yang diberikan bukan lagi sekadar pada tingkat individual saja, namun harus solusi sistematis bahkan fundamental. Solusi tersebut tentu dengan mengubah sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem Islam.

Sistem Ekonomi Islam adalah sistem tahan krisis karena akan mengatur bagaimana pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar, yaitu harus bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil dan bukan sektor ekonomi non riil. Sistem Ekonomi Islam akan menetapkan emas dan perak sebagai mata uang karena mempunyai nilai intrinsik yang tetap dan tidak berubah. Sistem Ekonomi Islam akan melarang riba dan juga akan menetapkan pinjaman untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa tambahan (bunga) dari uang pokoknya.

BACA JUGA:  Nasib Anak dalam Lingkaran Setan

Terdapat tiga pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Islam akan mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan oleh kapitalisme, dengan klaim kebebasan kepemilikan. Hegemoni ekonomi atau pihak kuat menindas yang lemah pun tidak akan terjadi. Sistem ekonomi Islam juga melarang individu, institusi dan perusahaan untuk memiliki yang menjadi kepemilikan umum, seperti minyak, tambang, energi dan listrik.

Ekonomi Islam akan menjamin seluruh kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dari tingkat primer, sekunder, hingga tersiernya. Demikianlah solusi Islam dalam mencegah krisis ekonomi. Semoga umat makin sadar dengan kesempurnaan sistem Islam dan mau berjuang untuk menerapkannya secara menyeluruh. []

Komentar

Berita lainnya