oleh

Strategi UMKM di Era New Normal

Adanya pandemi Covid-19 memberikan pukulan tersendiri pada berbagai sektor tidak terkecuali pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Padahal UMKM sendiri menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Sebab sektor ini lah yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sekitar 97%, juga kontribusi yang diberikan UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekitar lebih dari 50% selama 3 tahun terakhir. Hal ini menunjukan bahwa UMKM mampu mendongkrak sektor perekonomian masyarakat dan mendukung laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Para pelaku usaha mengaku, pandemi Covid-19 yang berlangsung ini menyebabkan daya beli konsumen menurun yang pada akhirnya transaksi penjualan pun ikut merosot dan keseimbangan keuangan perusahaanpun terganggu. Sejalan dengan itu menurut Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia terjunnya transaksi mencapai 80-85% untuk produk non pangan dan 30-40% untuk produk pangan akibat perubahan pola perilaku konsumen semenjak penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar).

Pada akhirnya pandemi Covid-19 yang memaksa semua orang untuk berdiam diri dirumah membuat ekonomi melambat. Untuk itu sebagai upaya memulihkan roda perekonomian pemerintah menerapkan skenario new normal. Kondisi ini adalah realitas yang harus dihadapi oleh semua pihak termasuk para pelaku usaha. Dalam kondisi new normal ini sebenarnya dapat memberikan peluang bagi pelaku usaha UMKM untuk tumbuh.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan UMKM untuk melalui era new normal ini terangkum sebagai berikut.

Pertama, hal yang tidak boleh dilewatkan dalam kondisi saat ini adalah evaluasi kinerja usaha. Tentunya hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kondisi keuangan usaha anda. Anda bisa memulainya dari menganalisis modal kerja, yaitu dana yang dimiliki oleh entitas usaha dan digunakan rutin oleh entitas berhubungan dengan operasionalnya. Ketersediaan modal kerja sangat penting bagi keberlangsungan suatu entitas usaha, seperti ketersediaan senjata yang begitu penting saat berlangsungnya perang. Dengan adanya ketersediaan dana yang cukup memungkingkinkan entitas untuk beroperasi secara efektif dan terhindar dari kesulitan atau bahaya yang mungkin timbul sebab adanya krisis keuangan.

BACA JUGA:  Penguatan Green Politic dalam Menjaga Bumi dari Politisasi Lingkungan

Sedangkan, modal kerja yang berlebihan mengakibatkan dana tidak produktif, yang mana hal ini bisa menimbulkan kerugian bagi entitas usaha anda sebab menyianyiakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Jadi, dengan meneliti kembali darimana saja sumber dana yang dimiliki serta penggunaan modal kerja selama ini dapat dijadikan dasar perencanaan untuk periode berikutnya, khususnya di masa new normal, hal ini akan membantu anda menemukan keputusan yang paling tepat untuk mendorong keberlangsungan usaha.

Untuk mengevalusi kinerja usaha juga dapat dilakukan dengan menganalisis arus kas dari entitas usaha. Hal ini berkaitan dengan langkah kedua, yaitu memastikan aliran arus kas terjaga dengan sehat. Kas merupakan asset paling lancar dan merupakan salah satu unsur modal kerja dalam kegiatan usaha. Semakin tinggi tingkat likuiditasnya, yang mana semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu entitas akan menjamin kemampuan entitas tersebut dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Namun, jika ini berlebihan modal dalam bentuk kas yang tertahan dalam jumlah yang cukup besar akan mengurangi tingkat rentabilitas dalam arti perputaran kas rendah.

Maka dari itu sangat penting bagi suatu entitas untuk memiliki ketersediaan kas dalam jumlah seimbang atau sehat. Agar dapat memastikan kesehatan arus kas cobalah periksa kembali sumber dan penggunaan kas selama ini. Dengan begitu akan terlihat seberapa sehat keuangan usaha anda, apakah entitas untuk menghadapi era new normal ini tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk menunjang operasi? atau justu ternyata entitas memiliki ketersediaan kas yang berlebih yang seharusnya ini bisa digunakan untuk mendatangkan keuntungan?. Pun jika ternyata entitas tidak memiliki ketersediaan kas yang cukup untuk beroperasi, berdasarkan analisis laporan arus kas tersebut anda dapat mengetahui pos pengeluaran mana saja yang mungkin bisa di pangkas atau dialihkan, sehingga ini berguna dalam merencanakan ulang dengan baik keuangan usaha anda dan memastikan keseimbangan arus kas utamanya untuk menghadapi fase new normal.

BACA JUGA:  Ketika Pendidikan Cenderung Diabaikan

Setelah berhasil mengevaluasi kinerja keuangan dan memastikan entitas usaha anda telah memiliki arus kas yang baik, supaya lebih siap menghadapi era new normal langkah ketiga yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah mengevaluasi terkait hal yang menyangkut operasional seperti peluang dan kebutuhan pasar. Peluang pasar dipengaruhi penurunan daya beli konsumen akibat Covid-19. Ini perlu dicermati lebih lanjut apakah penurunan permintaan pasar yang terjadi perlu diselesaikan dengan menghentikan produksi pada produk tertentu yang penjualannya menurun, menambah produksi pada produk yang sudah ada, atau bahkan perlu beralih memproduksi produk tertentu yang mengalami peningkatan penjualan di masa-masa sekarang ini, misalnya produk perlindungan diri dan kesehatan.

Hal ini dimaksudkan agar produk yang anda produksi sesuai dengan sasaran marketnya. Penting untuk diperhatikan bahwa kondisi new normal ini menjadikan konsumen lebih berhati hati dan selektif dalam memilih suatu produk dan cenderung memilih produk harga terjangkau dengan kualitas bagus, sebab ketidakpastian akhir dari pandemi membuat mayoritas orang wapada akan kemungkinan krisis yang terjadi lagi. Sehingga penting untuk anda untuk memahami keinginan konsumen seiring memperbaiki kualitas produk. Misalnya membuat kemasan baru dengan lebih menarik yang sangat menjamin kehigenisan, atau dengan menawarkan paket hemat supaya penjualan bisa mencakup produk yang lebih luas, atau anda juga dapat mengeluarkan kemasan baru yang lebih kecil tentunya agar harga menjadi lebih murah.

Terakhir, langkah yang dapat diambil dalam kondisi saat ini adalah melihat peluang. Di era new normal ini walapun pusat perbelanjaan sudah mulai dibuka namun status kasus pasien Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah, hal ini menyebabkan kekhawatiran yang tidak sepenuhnya hilang di masyarakat. Selain itu mengingat Indonesia merupakan negara mobile-first dimana lebih dari 94% masyarakat yang terkoneksi mengakses internet melalui perangkat smartphone, juga faktanya hampir setengah dari total populasi di Indonesia atau sekitar 130 juta orang merupakan pengguna aktif sosial media dan rata-rata mereka menghabiskan 4 jam untuk mengakses internet melalui perangkat mobile.

BACA JUGA:  Bagaimana Masyarakat Hadapi Resesi?

Dari sini dapat dilihat bahwa ini adalah pasar yang bisa anda manfaatkan untuk keberlangsungan usaha anda dengan memanfaatkan teknologi informasi. Memfokuskan penjualan di saluran online salah satu strategi yang patut untuk dicoba. Terlebih lagi apabila strategi yang selama ini dilakukan tidak dapat berjalan, maka mau tidak mau anda harus mengganti model bisnis seperti fokus ke kelompok target pasar tertentu (para pengguna internet ini) atau mengganti cara penjualan dari ofline menjadi online agar usaha anda terus berlanjut.

Dengan memanfaatkan marketplace, memasarkan di social media, atau bahkan bergabung menjadi merchant perusahaan transportasi online anda jadi bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Lebih lanjut, apabila kita lihat minat penggunaan dompet digital (e-wallet) di Indonesia juga mengalami peningkatan. Kondisi ini tentunya dapat anda gunakan untuk menunjang kegiatan penjualan secara online tadi, yang mana dengan memberikan banyak pilihan pembayaran akan memudahkan transaksi dan ini akan membantu menigkatkan daya tarik konsumen.

Berinovasi atau mati. Menyesuaikan diri, atau dilindas mesin perubahan zaman. Begitulah mungkin kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan kondisi UMKM saat ini. Jadi, apapun jenis usaha anda kerja keras saja tidak akan cukup di masa-masa seperti sekarang ini mengingat persaingan usaha yang semakin sengit. Selain dituntut untuk sigap dengan berbagai kondisi para pelaku usaha juga dituntut untuk terus memiliki ide-ide kreatif jika tidak ingin mati. Ingatlah bahwa UMKM yang terus berinovasilah yang mampu menghadapi era new normal ini. Namun jangan lupa untuk terus mengevaluasi kinerja usaha anda dari waktu ke waktu agar keputusan yang diambil benar-benar tepat dan sesuai dengan kondisi entitas.

(Adilia Rahayu, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI)

Komentar

Berita lainnya