oleh

Sobat Milenial, Jadilah Manusia yang Lebih Baik

Oleh: Ndarie Rahardjo, S.T., Guru di Kota Depok.

Sobat Milenial, bagaimana kabarnya selama #stayathome/ #dirumahaja? Sudah berbulan-bulan Pandemi Covid-19 ini menghantui hari-hari kita. Gimana cerita kamu selama #dirumahaja? Apa saja persiapanmu menyambut new normal ini? Seru, bosen, tenggelam dalam sosial media atau justru melahirkan karya tanpa batas? Apalagi setelah berlalunya Ramadhan kemarin yang biasanya disambut dengan euphoria menyambut hari kemenangan dengan berkumpul keluarga maupun teman the gank, namun terpaksa ditiadakan karena adanya corona ini.

Nah, mungkin sebagian dari sobat milenial bingung mau manfaatin perpanjangan waktu #dirumahaja ini untuk apa, selain belajar dan kerja. Karena kegiatan seru lainnya seperti ngaji, sekolah, nge mal, nongkrong atau pergi ngobrol bertemu dengan teman-teman tidak lagi bisa dilakukan karena harus dibatasi pada masa ini.

Yang masih pelajar /mahasiswa pasti sudah kangen bingitz ya sama bangku sekolah ups teman teman sekolah dan beragam aktivitasnya maksudnya, betul apa betul…??Apalagi anak-anak rantau mungkin yang ngekos sendiri, jauh dari keluarga. Jangan bingung yah, setelah ini, kamu pasti akan lebih menikmati waktu #dirumahaja tentunya dengan banyak kegiatan positif.

BACA JUGA:  Bagaimana Masyarakat Hadapi Resesi?

Kalau mau jujur ya sebenarnya banyak hikmah yang bisa diambil dengan adanya wabah covid ini, jadi lebih deket dengan keluarga dan lebih banyak waktu untuk muhasabah/memikirkan, mendesign ulang apa yang kita targetkan ke depan dan pencapaiannya.

Nah, untuk menentukan target hidupmu ke depannyanya bagaimana, alangkah baiknya sobat milenial mengenal terlebih dahulu tipemu, karena manusia itu mempunyai beragam tife dan penanganannya pun berbeda. Kita pun bisa mencari solusinya dari sekarang.

Pertama, tipe si pesimis. Tipe orang yang selalu melihat masalah sama dengan susah. Mereka tidak bersemangat dalam menjalani kehidupannya karena ketakutan akan menghadapi masalah. Biasanya mereka akan banyak mengeluarkan keluahan “Ah…apalah saya, hanya remahan wafer coklat yang tak berarti apa-apa. Itu bisa membuat rendah diri dan tidak berani mengambil keputusan.

Kedua, tipe si realistis. Tipe orang yang hanya melihat dan berbuat berdasarkan apa yang dia lihat saja, tidak berani membuat perencanaan masa depan, takut dengan kegagalan. “Yaa sudahlah…sudah untung dapetin ini. Biarin lah…yang penting masih bisa berjalan dengan keadaan ini.” Tipe ini tidak ada perencanaan masa depannya.

BACA JUGA:  Penguatan Green Politic dalam Menjaga Bumi dari Politisasi Lingkungan

Ketiga, tipe si Optimis. Tipe yang melihat ke masa depan, punya perencanaan, fokus, ada target yang ingin dicapai, bisa melihat peluang yang ada di depannya. Dia fokus kepada pencapaian pribadinya. “Oke hari ini baru 1 lembar tahsin/hari, minggu depan 2 lembar/hari, bulan depan 1 surat sudah selesai.” Tipe ini punya target yang terukur yang ingin dicapai untuk value dirinya.

Keempat, tipe si progresif. Hidup dengan aturan dari Illahi, akan selalu menemukan cara/celah untuk jalan peluang dengan kreatif dan inovatif tapi tetap solutif untuk terus membawa perubahan. Dan orang-orang seperti ini yang akan membawa perubahan. Ketika orang lain meragukan, maka dia orang pertama yang akan melawan dengan idealismenya, keep going, keep moving, kreatif, inofatif dan solutif.

BACA JUGA:  Ketika Pendidikan Cenderung Diabaikan

Setelah tahu beragam tipenya, So, kamu masuk kategori yang mana? Jika masih masuk tipe 1 dan 2, don’t worry be happy, kenapa? Karena sobat milenial beruntung bisa mengetahuinya dari sekarang jadi bisa langsung cuss, action untuk cari cara memperbaikinya.

Pernah dengarkan pepatah bahwa, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Bukan pemuda hari ini adalah pecundang di masa depan. Karena masa depan adalah untuk mereka yang mempersiapkannya hari ini.

Ingat sobat milenial! Jadilah manusia yang lebih baik. Semua itu tentu dikembalikan kepada diri sobat milenial sekalian, apakah kamu mau menjadi manusia yang lebih baik lagi atau malah menjadi manusia pecundang yang terus membeban orang lain. Itu pilihanmu. Tapi yang mesti diingat hidup hanya sekali, maka gunakanlah waktumu, hidupmu menuju yang lebih baik yakni yakni tujuan akhirnya mencapai ridha Allah SWT. []

Komentar

Berita lainnya