oleh

Perkuat Timbal Balik, Hikmah Idul Adha Dalam Terpaan Covid-19

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Tanggal 9 Dzulhijah disebut hari Arafah. Menurut riwayat, Arafah adalah nama tempat ketika Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah mereka dikeluarkan dari surga. Ada pula yang mengatakan Arafah diambil dari ucapan Nabi Ibrahim AS; Araftu (aku tahu), setelah diajarkan manasik haji dan tempat-tempat ibadah haji, termasuk padang Arafah oleh malaikat Jibril. Maka hingga kini, Arafah dijadikan tempat seluruh jamaah haji berkumpul untuk melakukan wukuf, sebuah padang luas yang terletak antara Mina dan Muzdalifah.

Manusia adalah hamba, bukan siapa-siapa. Bukan pula apa-apa.

Buktinya, ketika manusia diberi ujian wabah Covid-19. Tidak ada satu manusia pun yang berdaya. Apalagi berani bertempur melawan Covid-19. Di tengah wabah Covid-19, manusia hanya bisa mencegah, menghindari, lalu berdiam diri sambil memohon perlindungan dari-Nya. Bukti kuat, manusia bukan siapa-siapa. Hanya bisa berusaha lalu berdoa. Dan selebihnya berserah diri kepada Allah SWT. Itulah hamba.

Bila kita hamba, maka hikmah Idul Adha tahun 2020 ini adalah membangun kesadaran timbal balik. Timbal balik. Bahwa tidak ada kebencian yang melulu tanpa diimbangi cinta. Tidak ada kesombongan yang melangit tanpa diikuti kerendahan hati yang membumi. Tidak ada pula tebaran keburukan tanpa diikuti kebaikan. Bahwa sehebat-sehebatnya musuh pun pada akhirnya akan menjadi kawan. Jangan hanya mau menerima tanpa mau memberi. Segalanya ada timbal baliknya, ada sebab ada akibatnya.

BACA JUGA:  Bagaimana Masyarakat Hadapi Resesi?

Besok di 10 Dzulhijah, gema takbir Idul Adha 1441 H berkumandang di mana-mana, berdengung di telinga kita. Ada tangis, ada syukur, bahkan ada introspeksi diri yang mengalir dari darah mereka. Hukum timbal balik ada pada hamba. Ribuan ekor sapi dan kambing pun menangis haru. Nyawa hewan qurban pun hilang seketika. Tapi bukan pertanda duka. Namun tanda suka cita segera menghampiri kaum fakir miskin dan anak-anak yatim. Seutas senyum tersirat di bibir mereka. Bersiap menikmati daging hewan qurban yang lama sekali tidak pernah dicicipinya. Sebuah timbal balik dari orang-orang mampu kepada yang tidak mampu.

Hidup manusia adalah timbal balik. Karena manusia itu hanya hamba. Maka Aristoteles yang bilang “perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan”. Bila ingin dihargai, maka hargailah orang lain, Bila ingin dihormati maka hormatilah orang lain. Tentu, atas dasar keikhlasan dan apa adanya, bukan ada apanya. Timbal balik adalah keniscayaan, sebuah kepastian. Apa yang ditabur, itulah yang akan dituai.

Hukum timbal balik pula yang bilang. Bahwa tidak mungkin semua orang bisa cocok denganmu. Maka tidak perlu pula kamu memaksa diri agar cocok dengan semua orang. Karena seorang hamba, hanya bisa ikhtiar dan doa. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena dalam hidup, balas dendam terbaik adalah tetap berbuat baik dan membiarkan karma membereskan sisanya pada mereka.

BACA JUGA:  Penguatan Green Politic dalam Menjaga Bumi dari Politisasi Lingkungan

Timbal balik kian menegaskan. Bahwa manusia sebagai hamba pun tidak perlu takut kehilangan. Karena di dunia ini, tidak ada yang abadi. Bila ada manusia yang takut kehilangan, berarti bukan timbal balik. Bila ada hidup maka ada mati. Itu timbal balik. Lalu kenapa takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan kekuasaan, takut kehilangan harta, takut kehilangan jabatan dan takut-takut yang lainnya. Mereka yang hidup dalam ketakutan, lalu penuh kekhawatiran. Hingga punahlah kepedulian kepada sesama.

Timbal balik adalah syariat

Ada saat memberi ada saat menerima. Ada saat membenci ada saat mencintai. Ada saat lebih ada saat kurang. Ada salah ada benar. Semua itu lumrah dan pasti terjadi pada seorang hamba. Hukum timbal balik pasti berlaku, cepat atau lambat.

Jangankan kekuasaan, harta, atau jabatan. Seperti sapi dan kambing, nyawa yang menempel pada tubuh manusia pun terlalu mudah untuk hilang secara tiba-tiba. Siapa yang menduga, kemarin sehat lalu esok sakit. Kemarin bebas tidak ada yang melarang, lalu hari ini terkungkung wabah Covid-19 dan berdiam diri di rumah saja. Bahkan kemarin masih ada dan esok sudah tiada.

Di dunia ini, sejatinya, tidak ada orang kaya atau orang miskin. Tidak ada pula orang sukses atau tidak sukses. Bahkan tidak ada orang pintar atau orang bodoh. Tapi yang ada hanyalah “timbal balik”. Semakin sering memberi maka semakin kaya, semakin pelit maka semakin miskin. Semakin pintar untuk diri sendiri semakin tidak ada manfaat, semakin banyak berbuat untuk orang lain maka semakin pintar. Hukum timbal balik memang sederhana.

BACA JUGA:  Ketika Pendidikan Cenderung Diabaikan

Idul Adha di terpaan Covid-19 tahun ini adalah momen. Pentingnya membangun kesadaran timbal balik antarsesama. Karena manusia hanyalah hamba. Bukan siapa-siapa, bukan pula apa-apa. Dan semua yang manusia miliki hari ini adalah titipan Allah SWT semata. Amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Persis, semua yang ada di dunia ini. Pasti akan berjalan dalam koridor “timbal balik”. Timbalnya di dunia, baliknya di akhirat. Dan timbal balik yang paling hakiki adalah “Allah yang berikan, maka Allah pula yang akan mengambilnya”. Sebagai hamba, manusia hanya bisa ikhtiar dan doa baik. Selebihnya Allah akan bekerja sesuai kehendak-Nya.

Adalah hikmah Idul Adha. Memperbesar ruang timbal balik dalam hati dan pikiran manusia. Timbal balik membangun kepedulian, bukan keangkuhan. Dan sama sekali tidak perlu menghisab orang lain seolah-olah kita bertindak seperti Tuhan. Kita semua hanyalah hamba-hamba-Nya, hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Dan mintalah ampun kepada Allah terus-menerus tanpa mengenal lelah.

Mak bertimbal balik-lah esok, sebelum ajal menjemput tiba. Selamat Idul Adha 1441 H. Mohon maaf lahir batin. Semoga kian bertambah keimanan kita sebagai hamba, dan makin diberkahi Allah SWT.

Komentar

Berita lainnya