oleh

New Normal, Solusi Tepat Memperbaiki Perekonomian Indonesia?

Oleh: Desi Fitriyani

Sudah kurang lebih lima bulan pandemi Covid-19 melanda Indonesia, hadirnya pandemi ini merupakan sebuah musibah bagi Indonesia maupun negara lain. Akibat pandemi Covid-19 bukan hanya berpengaruh terhadap kesehatan bagi masyarakat, namun perkembangan ekonomi yang semakin terus menurun. Hal ini juga berpengaruh terhadap berubahnya tatanan perekonomian dunia yang ditandai dengan perubahan peta perdagangan dunia, akibat terhambatnya kegiatan usaha dan jalur perdagangan antar negara.

Dalam upaya meminimalisir penyebaran virus Covid-19 serta memperbaiki perekonomian Indonesia, Presiden Joko Widodo mengesahkan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2020. Peraturan tersebut ialah mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar sebagai respon terhadap penyebaran virus Covid-19. Hal itu merupakan acuan pemerintah daerah untuk mengatur keluar masuknya orang atau barang di daerahnya masing-masing. Peraturan PSBB menyebabkan kegiatan sehari-hari menjadi terbatas, mulai dari pekerja kantor menjadi work from home, kegiatan sekolah menjadi sistem jarak jauh, serta kegiatan sosial budaya dan keagamaan yang ditiadakan sementara waktu.

Namun kebijakan tersebut dirasa kurang efektif, penyebaran virus Covid-19 masih terjadi dan berpengaruh tidak baik bagi perekonomian Indonesia. Adanya PSBB menghambat laju perekonomian; produksi, konsumsi, dan distribusi. Perusahaan mengalami kemacetan bahkan beberapa diantaranya mengalami kebangkrutan, angka pengangguran pun meningkat serta menimbulkan masalah lainnya.

BACA JUGA:  Generasi Muslim, Stop Bullying!

Menurut Rachmat Rizky Kurniawan SEI,MM, dosen Ekonomi Makro Islam STEI SEBI (29/04/2020) “Masalah perekonomian timbul karena adanya wabah Covid-19 yang mengakibatkan adanya social distancing sehingga konsumsi dan produksi turun, dan berdampak pada jumlah PHK dan pengangguran yang naik. Formula kebijakan seharusnya bisa mempercepat penanganan wabah Covid 19 ini, normalisasi ikatan sosial dengan sendirinya ekonomi tumbuh, konsumsi naik, produksi naik, akhirnya kebutuhan tenaga kerja meningkat, pengangguran dan PHK turun”

Pemberlakuan social distancing pada aturan PSBB yang berlaku pada bulan April-Mei tahun 2020 membuat pabrik-pabrik mengurangi kegiatan produksinya, sehingga perekonomian Indonesia pada kuartal II turun. Senior Economist The World Bank Ralph Van Doorn pun berpendapat sama, penurunan ekonomi Indonesia akibat lambatnya konsumsi rumah tangga karena banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaannya atau menjadi korban di rumahkan karena Corona. Serta akibat minimnya kegiatan ekonomi dan menurunnya kepercayaan konsumen selama PSBB ini.

Memang hal tersebut tidak bisa kita pungkiri, dengan adanya PSBB kegiatan sehari-hari masyarakat menjadi terbatas. Di sisi lain, setiap orang berusaha untuk mengatur perekonomiannya dikarenakan laju perkonomian terhambat. Hal tersebut memaksa sebagian orang untuk tetap beraktivitas seperti biasa dan mengabaikan peraturan PSBB itu sendiri. Sudah jelas, berbagai permasalahan yang ada menunjukkan bahwa PSBB merupakan kebijakan yang kurang tepat.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Dalam menyikapi kurang efektifnya PSBB, pemerintah mengambil kebijakan baru yaitu kebijakan New Normal. Dilansir dari situs Kompas.com, Wiku Adisasmita selaku ketua Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid 19 mengatakan New Normal adalah suatu perubahan perilaku baru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah pandemi Covid 19 dengan melakukan protokol kesehatan guna mencegah penularan penyebaran virus Covid-19.

Pemberlakuan New Normal ini diberlakukan bertahap dimulai dari perekonomian terlebih dahulu dimana rencana pembukaan pusat perbelanjaan yang dibuka pada awal bulan Juni dengan memperhatikan protokol kesehatan dan transportasi umum. Sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.01/Menkes/335/2020 tentang Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha. Dalam Surat Edaran tersebut, diatur protokol kesehatan bagi pengelola tempat kerja, pelaku usaha, serta pekerja. Dokumen tersebut menjadi acuan bagi sektor usaha saat kembali menjalankan bisnis dengan menerapkan adaptasi kebiasaan baru.

New Normal yang berlaku sampai saat ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Adanya New Normal, sektor industri manufaktur mulai kembali meningkatkan produksinya. Selain itu, produktivitas para pekerja kantor juga meningkat karena bisa memaksimalkan kerja secara work from office dan usaha-usaha kecilpun bisa kembali berjalan. Tentunya hal ini bisa mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

BACA JUGA:  Hari Aksara Internasional, Pentingnya Wujudkan Masyarakat Literat

Disisi lain, data positif Covid-19 terupdate pada tanggal 12 Juli 2020 mencapai angka 74.699 kasus, yang perharinya meningkat mencapai seribu lebih sesuai data laporan pada laman Covid19.go.id. Meningkatnya angka pertumbuhan masyarakat yang terinfeksi virus Covid-19 dikarenakan oleh masyarakat yang sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasa.

New Normal memang mendorong pertumbuhan ekonomi semakin meningkat, tetapi di sisi lain pertumbuhan masyarakat yang terinfeksi virus Covid-19 pun terus mengalami peningkatan. Namun berhasil atau tidaknya sebuah kebijakan pemerintah dalam menangani kasus pandemi ini, bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah saja. Kita sebagai masyarakat juga harus saling bersinergi dalam melawan pandemi ini. New Normal bukan sebuah kebebasan bagi kita untuk beraktivitas di tengah pandemi Covid-19. Akan tetapi, dengan new normal kita bisa bersama-sama membangun sebuah tatanan kehidupan baru yang lebih sehat, tentunya dengan mematuhi peraturan yang dibuat oleh pemerintah seperti menjaga jarak, memakai masker saat berpergian, dan selalu menerapkan pola hidup sehat. Pemerintah pun sebaiknya memberikan kebijakan yang jelas dan pasti kepada masyarakat dalam upaya mengurangi penyebaran virus Covid-19.

Komentar

Berita lainnya