oleh

Memudarnya Supremasi Barat Ditengah Kebangkitan Asia Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan

Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) mengadakan webinar pada (30/6) yang mendiskusikan buku “Memudarnya Supremasi Barat Di Tengah Kebangkitan Asia”. Hadir dalam webinar ini adalah Guru Besar studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A, yang merupakan penulis buku Memudarnya Supremasi Barat Di Tengah Kebangkitan Asia.

Webinar ini juga dihadiri oleh akademisi dari berbagai kampus sebagai penanggap, yakni Universitas Paramadina yang diwakili oleh Dr. Phil. Shiskha Prabawaningtyas, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy, R. Mokhamad Luthfi, S.IP., M.Si, Dosen Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia, dan Pradono Budi Saputro, M.Si selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia. Moderator dalam webinar ini adalah Ambar Retnosih Widyantini, S.IP., M.A. manajer program politik PSKP.

Dunia Internasional saat ini berada pada titik yang sangat penting. Barat, terkhususnya Amerika Serikat yang sekarang menjadi hegemoni dunia saat ini, kini ditantang oleh Cina – dalam lingkup luas Asia. Bahkan, Cina saat ini sedang bangkit karena kekuatan ekonominya yang besar dan pengaruh politiknya yang terus meningkat. Di saat yang bersamaan, Hegemoni barat mulai menurun. Prof. Bambang pun menuliskan bahwa ini juga dijustifikasi oleh beberapa pernyataan dari berbagai pihak, salah satunya Presiden Prancis, Emmanuel Macron. “Emmanuel Macron pada tahun 2019 mengatakan hegemoni Barat sudah berakhir sejak tahun 2008”, tutur Prof. Bambang.

BACA JUGA:  Survei Fenomena Pencalonan Keluarga Pejabat pada Pilkada 2020

Lebih lanjut, Prof. Bambang menuturkan bahwa ada beberapa hal yang membuat peradaban Barat menjadi memudar. Seperti kredibilitas Kapitalisme yang semakin menurun. Dia menyebutkan ada empat hal yang membuat kredibilitas kapitalisme menurun. “51% kekayaan nasional AS dikuasai 20% orang kaya, lalu selama 40 tahun Gaji buruh dibekukan, namun keuntungan diraup oleh elit; mengutip Joseph Stiglitz, ini terjadi karena pemerintah pro orang kaya; dan Ribuan orang mati/hari tak bayar jaminan kesehatan”, jelas Guru Besar HI UMY ini. Dia menjelaskan proyeksi ke depan bahwa pada tahun 2030, perkembangan Asia akan lebih jauh lagi. “Pusat ekonomi bergeser ke Asia. Pada tahun 2030, sekitar 66% kelas menengah berada di Cina dan India plus 59% konsumsi kelas menengah. Pada tahun 2035 ada 11 megacity di Asia”, jelas Prof. Bambang.

Menanggapi buku Prof. Bambang, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy, Shishka Prabawaningtyas mengatakan bahwa salah satu faktornya adalah memudarnya multilateralisme. “Salah satu faktor yang memicu cepatnya memudarnya hegemoni barat adalah ketika praktek multialteralisme mulai dtiingglakan, telrlebih setelah Donald Trump terpilih yang mulai menarik diri dari perjanjian multilateral dan fokus ke perliaku bilateral”, tutur Shiskha.

BACA JUGA:  Pacu Daya Saing, Kemenperin Fasilitasi Sertikat Halal IKM Pangan

Selain itu, pada masa pandemik ini, menurutnya menarik karena yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah pandemik ini akan menjadi breaking point dari sebuah perubahan sistem internasional. Dia juga menilai bahwa ada beberapa tantangan besar yang harus dihadapi oleh dunia. “Ada tiga tantangan terbesar yang harus dijawab dunia: teknologi digital sejauh mana mereka mengubah lanskap; energi, sejauh mana kompetisi energi ini akan membawa pendulum baru; prinsip universal baru (HAM, kedaulatan) bahwa rezim hegemoni baru mungkin valuenya akan berbeda dengan liberal idea”, jelas Shiskha.

Cina memiliki modal besar untuk menjadi sebuah hegemoni. Hal ini diungkapkan oleh Dosen HI UAI, R. Mokhamad Luthfi ketika mengingat lembaran sejarah peradaban Cina. “Cina merupakan peradaban-peradaban kuno yang melahirkan berbagai inovasi sains dan teknologi, khususnya four great inventions: kompas, mesiu, kertas, dan percetakan”, tegas Luthfi. Dosen UAI ini melanjutkan bahwa kebangkitan sebuah kekuatan baru selalu diiriingi oleh soft power untuk mendukung sebuah hegemoni. “Kebangkitan sebuah kekuatan baru juga diiringi kebangkitan soft power. Sudah banyak Confucius Institute. Di Indonesia, sudah ada empat Confucius Institute dengan nama pusat bahasa Mandarin. Cina memanfaatkan CI ini utnuk memajukan kepentingan ekonomi dan politiknya. Orang2 yang bekerja di CI ini dikirim langsung oleh pemerintah Cina”, jelas dosen UAI ini.

BACA JUGA:  Survei Fenomena Pencalonan Keluarga Pejabat pada Pilkada 2020

Cina punya modal untuk menjadi atau mengganti sebuah peradaban lama. “Cina adalah world second largest economy, world biggest cable bridge world largest exporter, world’s longest high-speed rail line of 2.300 km long, world fastest supercomputer “Tianhe-2”, world largest building, world largest oil importer, dan world largest user of smart devices”, tutur Luthfi. Terlebih, Cina juga memiliki Belt and Road Initiative yang merupakan strategi pembangunan global. Kaprodi HI USNI, Pradono Budi Saputro berpendapat kalau AS tidak punya kontrastrategi, maka bukan tidak mungkin kans Cina semakin besar. “Kalau AS tidak punya kontrastrategi, bukan tidak mungkin hegemoni AS runtuh”, tutur Pradono.

Komentar

Berita lainnya