oleh

Awalnya Sih Tontonan, tapi Malah jadi Tuntutan

Oleh : Syahra Amaniy Shofa, Pelajar kelas 8 SMPN Depok

Assalamualaikum sobat surga. Gimana nih kabarnya saat keadaan #dirumahaja? Bosan enggak? Untuk kalian yang jawab pada bosan di rumah, sebenarnya banyak kegiatan yang bisa kita lakukan supaya enggak bosan, apalagi dalam kebijakan #dirumahaja kita punya lebih banyak waktu yang tak bisa kita dapatkan di saat kita beraktivitas kayak biasanya seperti sekolah, kerja dan yang lainnya.

Nah, kegiatan yang dapat dilakukan bisa beda-beda, karena tiap orang pasti punya kegiatan kesukaannya masing-masing. Ada yang kesukaannya menulis, jalan-jalan (eits, yang ini belum boleh ya), melukis, berkebun, bersih-bersih dan ada juga yang suka nonton film.

Berhubung lagi tidak boleh nonton di bioskop, download dan streaming film pun jadi pilihan bagi para pecinta film. Macem-macem deh yang di download, mulai dari movie, anime, drama India, drama Korea dan lainnya. Tak lupa juga sinetron-sinetron di televisi diikuti juga. Nontonnya juga tak lupa sambil selonjoran sama ngemil. Surga dunia banget deh.

Namun sayangnya, saking menikmati filmnya, banyak yang jadi sering lupa waktu. Dari lupa shalat, belajar, begadang dan banyak lagi. Tak sedikit juga yang bela-belain enggak tidur cuma buat nyelesain film yang ditonton.

Dan sayangnya lagi, kebanyakan orang enggak bisa bedain mana tontonan yang benar dan mana yang salah. Semuanya asal ditonton saja, enggak ngecek dulu. Apalagi kalau filmnya populer, langsung ditonton. Hal ini tentunya bahaya banget. Kalau kita saja belum bisa membedakan mana tontonan yang benar dan yang salah, apalagi bedain mana adegan yang boleh dicontoh sama adegan yang tak boleh dicontoh.

Adegan-adegan enggak bener (seperti kekerasan, adegan tak senonoh, bullying) yang ada di dalam film bisa langsung dipraktikkan oleh siapa aja. Salah satu contoh film nyeleneh yang pernah viral yaitu sinetron GGS dan sinetron manusia harimau yang tampil di televisi Indonesia. Kedua sinetron ini menampilkan manusia yang juga merupakan keluarga vampir bangsa serigala dan setengah harimau. Jelas-jelas hal semacam itu tak ada dan malah bikin orang yang nonton malah ngehalu, enggak bisa bedain mana realita sama khayalan.

BACA JUGA:  Musim Flu Datang Saat Pandemi, Persiapkan Diri

Dan kedua sinetron ini nampilin adegan-adegan mesra antar pacar yang tentunya enggak benar dan menyimpang dari hukum Islam. Tapi jangan salah, meskipun nyeleneh, kedua sinetron ini terkenal banget pas penayangannya di TV. Naudzubillah min dzalik….. Selain film Made in Indonesia, ada lagi drakor yang viral berjudul The World of Married.

Drama ini mengisahkan kehidupan sepasang suami istri yang awalnya bahagia namun, jadi hancur karena perselingkuhan yang berakibat rusaknya psikologis anak mereka. Dari judulnya saja kita sudah tahu kalau drakor ini dikhususkan buat orang dewasa. Namun, malah populer di kalangan remaja. Duhh.. salah sasaran deh penontonnya. Gini nih jadinya remaja sekarang, kalau viral pasti bakal dilakuin. Awalnya emang sih tontonan, tapi malah jadi tuntutan gegara sering ditonton. Hadeuuuh!

Buktinya,seperti yang diberitakan di kompas.com, salah satu contoh kasus yang menimpa Heri Setiawan (12 tahun) yang tewas karena keingintahuannya mempraktikkan trik sulap dari Limbad, tokoh favoritnya di televisi. Heri ditemukan tewas tergantung di ranjang tingkat. Pengakuan keluarganya, ia tidak pernah melewatkan acara sulap dan selalu menirukan atraksi sulap.

Begitu juga yang diberitakan republika.co.id, yakni kasus yang sempat viral mengenai pembunuhan balita 5 tahun oleh remaja berinisial NF yang berusia 15 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan bahwa NF terdorong oleh tontonan film horor dan kekerasan, yang belakangan diketahui menjadi hobinya salah satunya film Chucky.

Gimana guys? Masih meremehkan pengaruh tontonan yang salah? Duhh.. jangan sampai ya. Kita mesti banget peduli sama hal-hal yang ada di sekitar kita, sekecil apapun itu, karena bisa saja akibatnya fatal dan ngerugiin banyak orang.

Salah siapa nih? Kalau tidak ada api, pasti tidak ada asap. Kalau ada masalah, pasti ada penyebab. Sebenarnya apa sih penyebab dari masalah mengenai tontonan yang salah dan menyimpang?

Pertama, produser yang cari untung doang. Produser mana mau biayain pembuatan film yang enggak menguntungkan. Yang dicari pasti film-film dengan genre dan aktor yang lagi populer. Kalau di remaja sekarang genre yang populer contohnya _romance teen_, kalau kalangan emak-emak genre yang romantis tapi sudah agak dewasa. Jadi tergantung usia peminat yang diincar. Tak tanggung-tanggung, adegan pelukan, bahkan kissing pun sudah dianggap biasa buat ditampilin di mana saja. Padahal kan bisa saja anak-anak yang masih ingusan lihat, terus diikuti. Kalau bagi para pencari untung mah, semua dibolehkan, asal? Untung banyak guys.

BACA JUGA:  Perlunya Bimbingan bagi Masyarakat Digital

Kedua, pemerintah yang tidak peduli. Kalau ini sih enggak usah ditanya lagi ya. Kebutuhan pokok rakyatnya saja enggak diurusin, apalagi urusan tontonan rakyatnya. Padahal pemerintah yang notabene sebagai instansi negara tertinggi pasti bisa mencegah nongolnya film yang tak layak ditonton. Pemerintah bisa memerintah KPI agar lebih teliti dalam meloloskan sebuah film ke televisi. Tak cuma asal sensor-sensor saja, tapi isi dan kontennya juga mesti diperhatikan.

Ketiga, sosial media yang menyesatkan. Punya akun sosmed itu harus banget buat remaja, biar dianggap gaul sama dikenal banyak orang. Ada Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya yang membuat kita bisa mengunggah apa yang kita inginkan. Walaupun begitu, sosmed ini juga bisa dipakai buat hal yang negatif. Banyaknya akun sosmed yang nampilin judul-judul film porno, kode nuklir (kaum Wibu pasti tahu), sama beberapa foto yang sadis tak lupa muncul di beranda walaupun kemungkinannya kecil.

Namun yang jadi highlight di sini bagaimana postingan itu bisa eksis di sosmed. Sosmed itu bisa diakses siapa saja, asal modal hp sama kuota. Awalnya sih ngeliat doang, terus dihayati, terus keterusan dan malah ikut jatuh ke lubang kesesatan deh. Hal ini pastinya disayangkan banget. Soalnya para remaja itu merupakan seseorang yang seharusnya menjadi agent of change, merubah dunia yang gelap ini menjadi terang dengan cahaya Islam. Kalau agent of change nya aja masih jatuh dan belum bangkit, bagaimana bisa merubah dunia yang kini dikendalikan dengan sistem kufur ini?

Solusi itu selalu ada. Namanya masalah, harus dikelarin. Mana boleh dibiarin gitu aja. Kita mesti nyari solusinya. So, ini dia beberapa solusi yang teman-teman bisa lakukan:

BACA JUGA:  Munas MUI Menantang Pandemi?

Pertama, jauhin acara televisi yang tak benar dan unfaedah. Kebanyakan dari kita pasti sudah tahu lah ya, kalau kegiatan tak guna itu tak usah dilakukan, apalagi kalau sudah sampai level gak benar, harus banget tuh dijauhi. Banyak kok kegiatan faedah yang bisa kita lakukan upaya menjauhi diri dari acara unfaedah dan tak benar, seperti membaca buku (yang ini juga diperhatiin, bacaannya benar atau enggak), bantuin ibu masak, dakwah dan lainnya. Bagi yang sudah biasa mantengin laptop atau televisi mungkin awalnya bakalan susah, tapi ini harus diupayakan, kita mesti mengendalikan diri buat menjauh dari tontonan unfaedah dan tak benar.

Kedua, minta pemerintah buat ngasih tontonan yang berkualitas. Kalau mau masyarakat Indonesia jadi masyarakat terdidik dan berkualitas, tontonannya juga harus yang mendidik serta berkualitas dong. Salah satu contoh tontonan yang mendidik yang berkualitas adalah film animasi Syamil dan Dodo, bahasanya yang gampang dimengerti sama anak dan animasinya yang lucu bisa banget dinikmati buat keluarga. Apalagi isi filmnya mendidik, orang tua bisa nemenin anak nonton film ini sambil membina anak agar memahami isi film dan mencontoh tindakan yang baik yang didapat dari film tersebut.

Ketiga, kembali ke sistem Islam. Dengan hukum Islam yang mengatur kehidupan manusia, dijamin deh tontonan mendidik dan berkualitas udah jadi makanan sehari-hari. Coba kalau sistem kapitalisme sekuler. Mengatur manusianya enggak, menyesatkan iya. Sistem yang membebeskan manusia berlaku apa saja, mana bisa ngasih harapan buat nayangin tontonan yang mendidik serta berkualitas, malahan yang dikasih adalah tontonan yang bisa ngasih untung, tak peduli apakah tontonan itu benar atau tidak.

Dari tulisan ini, sudah jelas banget kalau solusinya ialah Islam (bukan Islam yang KW-an ya). Dengan dakwah yang disertai dengan ikhtiar, insyaAllah banyak manusia yang akan tersadar dari kondisi terpuruknya dan bangkit menuju cahaya Islam. Biar lebih cepet Islam bangkit, ayo, kita mulai dari sekarang! []

Komentar

Berita lainnya