oleh

Audiensi Terbuka AKOMA UI, Lanjutan Isu Biaya Pendidikan di Masa Pandemi

DEPOK – Menindaklanjuti dua rangkaian audiensi mengenai kebijakan penyesuaian UKT UI yang belum menghasilkan kesimpulan, Aliansi Kolektif Mahasiswa (AKOMA) UI kembali mengadakan audiensi secara terbuka bersama pihak rektorat UI pada Kamis, 23 Juli 2020. Audiensi kali ini merupakan audiensi lanjutan yang memiliki agenda berupa jawaban pihak Rektorat UI mengenai tuntutan mahasiswa dengan menghadirkan pihak terkait.

Dengan penuh kecewa, audiensi terbuka yang diharapkan dapat menjawab pertanyaan mahasiswa justru tidak dihadiri oleh satupun Wakil Rektor, terutama Wakil Rektor Bidang Keuangan. Audiensi justru hanya dihadiri oleh pihak Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UI, setelah sebelumnya pada audiensi via daring ditutup secara sepihak oleh pihak Rektorat UI. Ketidakhadiran satupun Wakil Rektor tentu menunjukkan ketidakseriusan pihak Rektorat UI dalam menanggapi keresahan mahasiswa terkait urgensi penyesuaian biaya pendidikan UI di masa pandemi.

Sebelumnya, secara mengejutkan pihak rektorat UI merespon aksi penyesuaian biaya pendidikan dengan mengeluarkan Surat Edaran dengan Nomor SE1511/UN2.R/HKP.04.03/2020 tentang Mekanisme Dukungan Universitas Indonesia bagi Mahasiswa yang Mengalami Kesulitan Finansial. Namun, substansi dari Surat Edaran ini sama sekali tidak memenuhi tuntutan dan aspirasi mahasiswa terkait penyesuaian pendidikan dan transparansi anggaran keuangan UI. Pihak UI berdalih bahwa keringanan biaya pendidikan yang diminta oleh Negara (Kemendikbud-red.) sudah dilaksanakan oleh UI bahkan sejak sebelum adanya masa pandemi.

BACA JUGA:  UPH Percepat Transformasi Digital bagi Siswa dan Guru

Adapun untuk menjawab apakah ada mekanisme bantuan maupun keringanan di masa pandemi, Devie Rahmawati, Direktur Kemahasiswaan UI, mengatakan bahwa pihaknya bukan orang yang memiliki kapasitas untuk mengatakan hal tersebut. Namun, menurutnya, saat ini dari pihak Rektorat tengah mengkaji lebih dalam lagi mengenai bentuk kebijakan bantuan biaya pendidikan yang akan dilakukan.

Diskursus pada audiensi terbuka pada akhirnya hanya memberikan retorika dan hasil  yang jalan di tempat. Perdebatan yang dilakukan antara mahasiswa dan Dirmawa hanya berkutat pada asumsi masing-masing yang tidak berujung karena tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh Dirmawa dengan kompeten–jelas karena bukan bidangnya–sehingga selalu berakhir dengan kalimat, “Nanti saya usahakan”, atau “Nanti saya sampaikan”, kalimat yang sama seperti yang diberikan pada audiensi minggu lalu pada 15 Juli 2020. Wakil Rektor Bidang Keuangan ketika dihubungi justru tidak merespon dengan baik dan menggantung ajakan
mahasiswa untuk dapat melakukan audiensi. Padahal, mahasiswa sudah meminta setidaknya tuntutan atas transparansi keuangan UI dapat dipenuhi sebagai langkah pertama agar dapat mengkaji kebijakan yang tepat yang dapat dilakukan UI untuk memberikan biaya pendidikan di masa pandemi.

BACA JUGA:  UNJ Gelar ICELS 2020: Sosialisasikan Pendekatan Baru Bahasa, Humaniora, dan Iptek Di Masa Covid-19

Tidak adanya informasi baru dan komunikasi yang baik yang diinginkan mahasiswa dari pihak Rektorat membuat mahasiswa mengakhiri audiensi terbuka dengan kekecewaan. AKOMA UI meminta agar setidaknya pada audiensi terbuka selanjutnya dapat dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan dan DPPF UI. Apabila pertemuan selanjutnya tidak mendapatkan tanggapan yang baik, AKOMA UI akan mempertimbangkan untuk menggugat UI melalui jalur hukum.

Sebagai aksi lanjutan atas kekecewaan mahasiswa terhadap Rektorat, AKOMA UI menggelar aksi yang dilaksanakan secara daring yang diunggah melalui media sosial dan pengisian petisi dukungan agar fakultas membawa isu biaya pendidikan di masa pandemi ini ke tingkat universitas. Terhitung Kamis pada pukul 14.00 WIB, sudah terdapat lebih dari 3700 dukungan mahasiswa terhadap masing-masing fakultasnya agar membawa isu ini ke tingkat universitas. Petisi ini diisi oleh responden mahasiswa dari seluruh program, yaitu Vokasi, Sarjana, Pascasarjana, dan Profesi. Selain itu, apabila tetap tidak ada tanggapan, mahasiswa berencana memberikan tekanan yang lebih keras kepada Rektorat seperti aksi bom pesan melalui WhatsApp maupun aksi menginap di rektorat.

BACA JUGA:  UNJ Gelar ICELS 2020: Sosialisasikan Pendekatan Baru Bahasa, Humaniora, dan Iptek Di Masa Covid-19

AKOMA UI tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan kepada pihak Rektorat UI selama tuntutan tidak didengar dan komunikasi sama sekali tidak digelar. Pihak kampus harusnya sadar bahwa mahasiswa adalah unsur penting yang harus dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Dalam masa pandemi, mahasiswa memahami bahwa kondisi universitas juga mengalami kesusahan. Namun, hal tersebut bukanlah alasan bagi kampus untuk menutup komunikasi dan meniadakan transparansi keuangan. Semua mahasiswa berhak
bersuara, apapun programnya, berapapun kekayaannya, berapapun biaya yang dibayarkannya. Diam bukan solusi!

Komentar

Berita lainnya