oleh

Lentera Anak Apresiasi Anak Muda Pemenang Lomba Desain Visual Tingkat Global tentang Manipulasi Industri Rokok

JAKARTA – The Global Center for Good Governance in Tobacco Control (GGTC) telah mengumumkan para pemenang Kompetisi Desain Visual 2020 di laman resminya. Dari total 453 peserta dari seluruh dunia, terpilih 20 pemenang dari 4 kategori, yakni 3 pemenang kategori simple graphic, 6 pemenang complex graphics, 3 pemenang pilihan juri, dan 8 pemenang special prize.

Dari Indonesia, yang mengikutsertakan 66 peserta, terpilih 4 pemenang. Mereka adalah Julio Adam Pratama (pemenang ke-3 kategori Complex Graphics Award), Mochamad Yusuf dan Ahmad Alief Aurum (pemenang kategori Judges’s Choice Award atau pilihan juri), dan Fathi Muhammad (pemenang kategori Special Prize asal Indonesia yang mendapat Tolak Jadi Target Award).

Sebagaimana diketahui, sejak April hingga 31 Mei lalu, GGTC menggelar kompetisi desain visual tingkat global bertema “Bongkar Manipulasi Industri Rokok, Selamatkan Generasi Mendatang”. Tema ini sejalan dengan tema Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020. Bentuk desain visual yang dilombakan adalah poster, infografis, meme, GIF, stiker digital, dan video pendek.

Secara global ada 14 organisasi terlibat menginformasikan lomba. Salah satunya adalah Lentera Anak, sebagai country partner dalam pendistribusian informasi lomba ke seluruh masyarakat Indonesia. Selain menginformasikan lomba melalui media sosial (facebook, twitter, Instagram), grup whatsapp, dan email ke organisasi/komunitas anak muda, Lentera Anak secara khusus menggelar “Workshop Visual Desain” secara daring melalui aplikasi rapat online pada 3 Mei lalu. Tujuan workshop agar peserta mendapatkan pengetahuan cara membuat desain visual yang menarik, kreatif dan mudah, selain terinfo tentang Lomba Desain Visual Global 2020 dan tertarik menjadi peserta lomba. Total sebanyak 94 peserta mengikuti workshop, terdiri dari anak muda perwakilan komunitas/organisasi, perwakilan jurnalis, dan masyarakat umum.

BACA JUGA:  Diskusi Mundurnya Shinzo Abe dan Naiknya Sang "Tangan Kanan"

Sebagai country partner GGTC, Lentera Anak sangat bangga dan mengapresiasi para pemenang lomba Desain Visual dari Indonesia. Hasil karya para pemenang, yang umumnya anak muda, menggambarkan mereka paham industri rokok telah menggunakan siasat manipulatif dalam pemasaran rokok khususnya kepada anak muda. Julio Adam Pratama, pemenang ke-3 kategori Complex Graphics Award, membuat video dan menciptakan lagu khusus berjudul #StupidLittleStick untuk menceritakan siasat industri rokok menjebak anak muda menjadi perokok melalui iklan, promosi, sponsor dan kegiatan CSR yang manipulatif.

“Sejujurnya tema lomba ini sangat menarik dan menggugah saya. Karena melalui lomba ini kita didorong menginformasikan kepada anak muda tentang manipulasi industri rokok dan mendorong mereka bergerak melawan industri rokok,” kata Julio. “Ini menjadikan kita berpikir kritis bahwa manipulasi industri rokok itu memang nyata. Lagu #StupidLittleStick saya buat terinspirasi dari kesedihan saya karena ayah saya adalah perokok. Beliau korban manipulasi industri rokok. Saya tidak ingin keluarga dan teman-teman saya menjadi korban dan terjebak menjadi perokok. Karena itulah lagu ini menjadi suara hati saya sebagai anak muda yang menolak menjadi target pemasaran industri rokok,” tegas pendiri Rumah Inggris dan Pembaharu Muda kota Banjarmasin ini.

BACA JUGA:  Peningkatan Sektor UMKM Lokal dengan Sistem E-Commerce

Fathi Muhammad, menegaskan manipulasi industri rokok yang menjebak anak muda menjadi perokok terbukti meningkatkan prevalensi merokok pada remaja usia 10-19 tahun. Ia mengutip data Riskesdas 2018 yang menyatakan terjadi peningkatan perokok remaja dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% pada 2018.

“Atas dasar inilah saya bertekad mengikuti lomba untuk ikut bersama menyuarakan kebohongan yang telah dilakukan industri rokok supaya tidak ada lagi anak muda menjadi korban manipulasi industri rokok,” ujar Fathi. Seperti Julio, Fathi aktif sebagai pegiat anti rokok dengan bergiat di HIMA Kesma Universitas Siliwangi dan Pembaharu Muda Kota Tasikmalaya.

Selain Julio dan Fathi ada Ahmad Alief Aurum, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia angkatan 2017. Sebelum mengikuti lomba GGTC Alief membaca sejumlah laporan riset terkait strategi industri rokok dalam menargetkan anak muda sebagai perokok. “Dari hasil penelitian yang saya baca, industri rokok menggunakan strategi pemasaran subliminal untuk menjerat anak muda yang memiliki pengaruh signifikan, tidak sekedar memberikan brand awareness tentang rokok tetapi juga memicu keputusannya untuk membeli rokok,” kata Alief.

BACA JUGA:  Tahap IV Beasiswa Sarjana LUAS Dimulai

Pada anak dan remaja yang terpapar iklan rokok secara massif, tambah Alif, akan mempengaruhi khususnya bagian prefrontal cortex pada otak mereka yang belum berkembang, sehingga anak dan remaja rentan kecanduan rokok dan berpotensi menjadi konsumen jangka panjang bagi industri rokok.

Baik Julio, Fathi dan Alief secara tegas mengajak anak muda menolak menjadi korban kebohongan Industri Rokok. Alif mengajak anak muda bisa memanfatkan semua platform yang dimiliki untuk terus menyuarakan manipulasi industri rokok. “Tidak harus berbentuk konten yang rumit, cukup membuat story instagram atau tulisan di status Line, sudah menjadi kontribusi kecil kita untuk melindungi anak muda,” kata Alief. Julio pun sepakat bahwa semua anak muda bisa berperan menyuarakan manipulasi industri rokok dalam berbagai bentuk. Fathi mengajak semua anak muda berani menyuarakan bahwa siasat pemasaran industri rokok memang menargetkan anak muda. “Sudah saatnya anak muda terus bersuara menolak menjadi target industri rokok untuk melindungi masa depan generasi muda Indonesia,” pungkas Fathi.

Komentar

Berita lainnya