oleh

Bijak Menghadapi Kematian

Kematian merupakan suatu hal yang pasti, ia memiliki banyak sisi dalam sebuah bangunan kehidupan ini. Ia merupakan musibah, kepastian, kesedihan bagi keluarganya, kebahagiaan bagi saingannya serta jembatan penyebrangan dari satu alam pada alam lainnya dan masih banyak pula sisi lainnya yang tentunya perlu kita renungkan.

Berbicara tentang kepastian Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an dengan 3 kullu yang subjeknya adalah kematian. Yang pertama terdapat dalam surah Al-Qashash ayat 88. Kullu Syaiin Haalikun Illaa Wajhah (Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.) Kullu kedua terdapat dalam surah Ali Imran ayat 185, Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut (Setiap yang bernyawa akan merasakan mati) Kullu yang ketiga terdapat dalam surah Arrahman ayat 26, Kullu Man Alaihaa Faan (Semua yang ada di bumi itu akan binasa.)

Ayat-ayat tersebut yang menjadi penguat bahwa makhluk itu tak ada yang abadi, semuanya akan binasa, semuanya akan merasakan sesuatu bernama kematian. Bahkan jikalaupun tidak membaca ayat tersebut orang-orang tau bahwa kematian itu benar adanya. Hanya saja banyak dari mereka yang terleha-leha, terlalu fokus dengan urusan dunia, sehingga lupa bahwa kematian itu akan menghampiri tanpa bisa di negosiasi, lupa bahwa kematian itu akan datang tanpa peduli apa yang sedang dilakukan.

BACA JUGA:  Momentum Taat Kala Pandemi

Banyak riwayat menceritakan bahwa sakaratul maut merupakan kondisi yang sangat sulit, sakit menyesakkan. Bahkan Rasulullah Saw pun mengalaminya, dalam suatu riwayat ‘Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu, ayahku.” Beliau menjawab: Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” (HR Bukhori)’. Kemudian Imam Ghozali mengatakan bahwa, “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sebentar saja, kemudian menceritakan (apa yang ia rasakan saat sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Lantas apa yang harus kita persiapkan dalam menghadapi kematian, agar tidak lupa bahwa kita benar-benar merasakan dan tentunya agar kita selamat dari siksa di alam setelah kematian.

Menyadari tujuan hidup sebenarnya.

Allah adalah pencipta alam semesta, yang menciptakan seluruh makhluk-Nya. Dia menciptakan semuanya dengan satu tujuan yang harus menjadi pegangan bagi kita semua yang menjadi tujuan kita hidup di dunia ini, “Tidak kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Az-Zariyat:56) Sehingga mau tidak mau, siap ataupun tidak, setuju ataupun tidak menyembahNya adalah tujuan kita diadakan di dunia ini. Ketika kita sudah menyadari akan tujuan kita maka langkah yang kita lakukan tentunya harus sejalan agar tujuan dapat kita sempurnakan.

BACA JUGA:  Refleksi Idul Adha 1441H; Taat Sempurna dan Siap Berkurban Menuju Solusi Pandemi

Beramal Sholeh.

Amal sholeh dapat dinyatakan sebagai perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar untuk mendatangkan manfaat dan atau menolak mudharat. Simpelnya adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an dan Sunnah. “Segala sesuatu akan meninggalkan kita saat berada di alam kubur, keluarga yang mencintai akan pergi, kerabat yang dulu dekat tidak mau menemani, harta yang kita cari selama hidup tak bisa dibawa mati, kecuali amal sholeh yang kita lakukan semasa hidup kita dialah yang setia menemani.”

Istiqomah ; Konsisten dalam Beramal Sholeh.

Kematian yang kita alami akan terjadi sesuai dengan kebiasaan sehari-hari kita. Kita tidak bisa memilih hari apa kita ingin dicabut nyawa, kita tak bisa menentukan ketika apa kita saat kematian datang. Yang bisa kita pastikan adalah bahwa ia benar-benar akan datang. Ketika kebiasaan yang kita lakukan adalah kebiasaan baik maka bukan suatu hal yang mustahil bahwa akhir hayat kitapun ketika berbuat baik. Begitupun sebaliknya, ketika kita biasa melakukan keburukan dan dosa adalah suatu kemungkinan kalau kehidupan kita diakhiri dengan keburukan, Nauudzubillahimindzaalik. Disinilah pentingnya konsistensi dalam beramal sholih.

BACA JUGA:  Refleksi Idul Adha 1441H; Taat Sempurna dan Siap Berkurban Menuju Solusi Pandemi

Kematian itu bukan suatu yang mengenakkan, sakit bahkan menakutkan. Tapi ada kematian yang lebih menyedihkan dan lebih menyakitkan yakni matinya kesadaran bahwa kita akan merasakan kematian, matinya hidayah Allah yang memisahkan kita dari naluri kehidupan. Sebenarnya masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan dalam rangka persiapan menuju kematian, namun saya simpulkan bahwa kita harus melakukan hal-hal yang bermanfaat di sisa hidup kita karena sebenarnya kematian itu semakin mendekat seiring waktu demi waktu yang kita lalui.

Teruslah berbuat baik hidupkanlah hari kita dengan kebaikan, semua yang hidup akan mati tapi tidak semua yang akan mati benar-benar hidup. (Didah pingdi hamidah)

Komentar

Berita lainnya