oleh

Resiko Sektor UMKM Saat Pademi Covid 19

OLEH: AINI NUR FAKHRIYAH

Manusia untuk memenuhi kebutuhannya, memerlukan dana untuk membeli keperluan sandang dan pangan. Dalam hal ini mengakibatkan adanya suatu usaha manusia untuk memenuhi kesejahteraan ekonomi. Dunia Bisnis, yang merupakan bagian dari pemenuhan ekonomi dunia ini, secara sederhana bisnis bisa dkatakan dalam menjual suatu barang atau jasa yang diharapkan bisa menghasilkan laba atas bisnis yang diambilnya. Diperlukan bisnis-bisnis diberbagai sektor.

Dilihat dari berbagai jenis bisnis yang ada, mulai dari sektor perbankan, perikanan dan pertanian, sektor migas, sektor pariwisata, sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), sektor jasa, sektor kesehatan, dan berbagai sektor bisnis lainnya. Dalam berbisnis diperlukan manajemen yang ada berkaitan dengan bisnis yang diambil, standarisasi, pengelolaan yang baik, strategi bisnis, dan lain-lainya yang perlu diperhatikan baik ketika memulai bisnis maupun untuk mempertahankan bisnisnya, salah satunya yang perlu diperhatikan adalah manajemen resiko. Bisnis tidak bisa lepas dengan resiko baik yang bisa diperkirakan ataupun yang tidak bisa diperkirakan.

Dilihat dari arti resiko, resiko adalah yang berkaitan dengan adanya suatu ketidakpastian dan kegagalan. Artinya pada menjalankan bisnis, resiko bisnis karena adanya ketidakpastian yang bisa menimbulkan kegagalan suatu usaha yang dijalankan.

Resiko bisa dialami diberbagai sektor usaha baik yang dijalankan oleh perorangan maupun pribadi. Dalam berbisnis resiko beriringan dengan usaha yang dijalankan oleh sebab itu diperlukan manajeman resiko dan pada manajeman resiko ada beberapa jenis resiko.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Sedangkan dalam berbisnis diperlukan manajeman resiko. Manajeman resiko adalah pelaksanaan penanggulangan resiko yang dialami oleh perusahaan dengan mengukur kadar besarnya resiko yang dialami.

Di Indonesia sendiri pada sektor UMKM salah satu penyumbang perekonomian Indonesia yang bisa menjadi andalan bagi Indonesia. UKM di Indonesia berkontribusi pada Gross Domestic Product (GDP) hingga 56,7 %, ekspor non migas sebesar 15 % dan penyerapan tenaga kerja sebesar 99,6%. UMKM juga tidak bisa lepas dari risiko yang diterima.

Termasuk pada covid 19 ini, wabah yang awalnya muncul di Wuhan, salah satu daerah di China. Virus yang cepat menyebar ke berbagai dunia termasuk Indonesia telah membuat kerugian ekonomi di seluruh dunia mencapai hingga sekitar US $ 347 miliar atau sekitar Rp. 4.962 triliun.

Menurut Sri mulyani menyebutkan ada empat sektor yang mengalami tekanan dampak dari penyebaran virus Covid 19 ini yaitu sektor rumah tangga, sektor korporasi, sektor keuangan pada rumah tangga mengalami penurunan akibat dari masyarakat yang sementara tidak beraktifitas diluar rumah sehingga daya beli menurun dan juga pada sektor UMKM.

BACA JUGA:  Akankah Generasi Milenial Bangkrut Di Masa Pensiun?

Di Indonesia yang merupakan Negara berkembang, banyak dibantu dengan adanya sektor usaha seperti UMKM ini karena mulai dari kaum muda yang menguasai pasar kuliner dan produk-produk lokal baik digunakan didalam negeri maupun di impor kenegara luar, juga UMKM besar yang sudah memiliki peluasan penjualan.

Pada sektor UMKM menghadapi kendala klasik pada pemodalan dan pemasaran yang hampir semua UMKM mengalaminya. Faktor lain yang menjadi resiko yang alami oleh UMKM adalah faktor eksternal, yaitu bencana alam. Banyak yang membahas permasalahan UMKM pada pemodalan dan pemasaran tetapi perlu diperhatikan juga bahwa ada resiko lain yang akan dialami seperti bencana alam.

Melihat pendataan oleh Rencana Nasional pendangulangan Bencana Alam Nasional 2010-2014 pada daerah Surakarta yang merupakan termasuk rawan bencana seperti kekeringan, erosi dan lainnya. Banyak pada UMKM pada daerah tersebut tidak bisa menganaslisis resiko juga pemulihannya sedikit terlambat akibat becana alam.

Mencontoh dari kasus di Surakarta. Saat ini, wabah virus Covid 19 yang telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai bencana alam oleh sebab itu harus kita perhatikan permasalahan ini ditambah saat ini adanya sosial distancing dan juga PSBB, keadaan banyak tempat-tempat ditutup sementara, dan penerapan Stay at home, membuat UMKM yang kurang penyuluhan bahwa resiko dari bencana alam yang tidak bisa diperkiraakan saat ini apalagi waktu yang cukup panjang adanya wabah ini, tertama pada UMKM perorangan yang di sektor pasar kecil kurang mempersiapkan apa yang harus dilakukan dan tindakan apa yang akan diambil.

BACA JUGA:  Apa Itu Literasi ?

UMKM juga mengalami tekanan akibat tidak dapat terganggu mengalami kegiatan usaha sehingga kemampuan untuk memenuhi kegiatan usaha sehingga kemampuan pada pembiayaan juga kredit terganggu. Pelaku UMKM merasakan akibat Covid 19 adanya restriksi kegiatan ekonomi dan sosial, bahkan dampak dari virus ini lebih parah dari dampak krisis moneter 1997-1998 dan ditambah Non Performing Loan (NPL) perbankan untuk UMKM dapat memperburuk kondisi perekonomian.

Oleh sebab itu perlu pengkajian usaha bersama untuk masalah antisipasi resiko yang akan dialami UMKM, tidak terduga seperti wabah Covid 19 ini. Seperti apa yang perlu dilakukan dan dihadapi ketika resiko itu datang karena biasanya selama ini UMKM masih memperhatikan resiko pada pemodalan kredit saja. Peranan manajeman resiko pada UMKM juga diperlukan dalam menganalisis akibat resiko tersebut.

Komentar

Berita lainnya