oleh

Menjemput Jodoh yang Baik

Tak sedikit diantara kita yang ingin segera bertemu jodohnya. Hampir mustahil rasanya jika seseorang ada yang mau hidup sendiri terus, jomblo terus. Karena sejatinya, keinginan kita untuk bertemu jodoh adalah bagian dari ikhtiar untuk menyempurnakan Agama.

Lalu apa yang kita lakukan di saat hati sudah merasa siap, sudah merasa ingin memiliki jodoh yang baik, yang mengerti, dapat memahami, setia, dan saleh atau salehah?

Tentu kita berdoa kepada Allah SWT.  Kita berdoa dengan khusyuk dan serius, lalu kita sampaikan kriteria jodoh kita kepada Allah. Setelah itu apa? Apakah cukup hanya dengan berdoa kepada Allah SWT? Tentu tidak!

Selalu ada ikhtiar dan kesabaran untuk mendapatkan hasil yang baik, pun terkait jodoh, Allah tak akan langsung memberikan kita jodoh tanpa melalui tahapan. Dan bukankah lebih seru jika ada tahapannya. Misalnya Allah akan pertemukan kita dengan calon jodoh kita saat  silaturahim, mendatangi majelis atau sekedar main ke rumah teman, tiba-tiba dikenalkan kepada calon jodoh kita.

Lalu kemudian kita merasa ‘dialah jodoh saya’, dan merasa yakin akan hal itu

Tapi kemudian ternyata yang terjadi tak sesuai dengan harapan. Allah memberi ujian yang diikuti perasaan sakit dan sedih. Rasa-rasanya kita sudah merasa pas dengan calon jodoh kita, merasa cocok, tapi ternyata bukan dia jodoh yang dipersiapkan Allah untuk kita. Masa kita mau memaksa?

Inilah tahapan dimana kita harus bersabar. Bahkan yang sudah menikah saja masih bisa bercerai karena ternyata sejatinya belum berjodoh. Maka bersabar dan berikhtiar dengan jalan yang diridhai adalah apa yang harus kita lakukan, bukan sekedar pasif menunggu jodoh, tapi menjemput jodoh itu sendiri sebagaimana kita menjemput rezeki. Karena jodoh, rezeki dan maut sejatinya sudah dipersiapkan untuk kita, tinggal bagaimana kita menjemputnya.

Lalu kemudian ada hal baru lagi, saat kita merasa kita sudah bertemu dengan jodoh yang kita cari, akan ada pertanyaan yang kita ajukan pada diri sendiri. Apakah benar dia jodoh saya? Apakah dia orang yang tepat untuk saya? Apakah saya akan bahagia bersamanya?

Kita tidak bisa menebak untuk hal ini, tapi Allah sudah memberikan kita gambaran bagi kita agar kita bisa mengetahui apakah dia orang yang tepat untuk kita.

1. Saat kita merasa tenteram dan nyaman.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya…” (Ar-Rum:21)

2. Timbul benih-benih rasa cinta.

“… dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum:21)

3. Saling memberi dan menerima satu sama lain.

“…dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa: 1)

4. Membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….“ (An-Nur:26)

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” (An-Nur:3)

5. Baik agamanya

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

6. Baik dan bertanggung jawab

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad-Abu Dawud).

Percayalah, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang juga Maha Adil dan Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita. Maka, selain berikhtiar kita juga harus senantiasa berdo’a dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. (San)

Komentar

Berita lainnya