oleh

Masyarakat Butuh Eksistensi Bank Syariah di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh: Iqlima Fairuz Syifa, Mahasiswa Manajemen Perbankan Syariah STEI SEBI Depok.

Merebaknya wabah virus Corona hampir diseluruh bagian dunia, membuat ekonomi global rentan mengalami krisis. Termasuk di Indonesia, yang sampai pada Kamis (2/4) menurut pemerintah tercatat 1.790 pasien positif dan 170 diantaranya meninggal dunia. Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani mengatakan “Bila virus COVID-19 berlangsung 3-6 bulan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 bisa cuma tumbuh 2.3% sampai minus 0.4%”.

Dilansir dari berbagai media, bahwa hal ini dikarenakan terjadi penurunan diberbagai sektor ekonomi. Beberapa diantaranya seperti sektor lembaga keuangan (perbankan), sektor konsumsi rumah tangga, sektor UMKM, dan lain-lain. Salah satu yang akan dibahas, yakni implikasi COVID-19 terhadap sektor perbankan syariah. Diprediksi akan muncul persoalan terhadap risiko likuiditas Bank Syariah.

Risiko likuiditas itu sendiri adalah kondisi yang muncul akibat kesulitan menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu. Di tengah pandemi COVID-19 seperti ini, sektor perbankan mempunyai risiko kekurangan alat likuidnya serta kesulitan untuk menyalurkan kredit atau pembiayaan pada Bank Syariah. Dapat dilihat pula melemahnya kapasitas nasabah dalam melakukan akad pembiayaan, dikarenakan penyebaran pandemi COVID-19. Sehingga risiko pembiayaan pun akan meningkat.

BACA JUGA:  Akankah Generasi Milenial Bangkrut Di Masa Pensiun?

Dalam hal ini menurut Akhmad Akbar Susanto (Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah), kita harus mampu menegaskan bahwa bisnis-bisnis syariah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia yang juga sedang berjuang melawan COVID-19. Sehingga para pelaku ekonomi dan bisnis syariah harus menunjukkan empati dan solidaritas kepada pemangku kepentingan.

Sedikit melirik sistem ekonomi kapitalis, yakni berbagai macam cara bisa dilakukan demi mendapatkan keuntungan. Lain halnya praktik dalam Bank Syariah, yang memiliki ciri keseimbangan dan keadilan dalam bertransaksi yang dibatasi oleh prinsip-prinsip syariah yang berlaku. Sehingga empati dan juga solidaritas dianggap penting dalam menjaga kepercayaan nasabah. Juga kaitannya dengan keuntungan yang bukan bersifat duniawi saja melainkan mempercayai akan kehidupan di akhirat. Di mana sebagai muslim, perlu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Beberapa langkah yang dilakukan Bank Syariah dalam situasi COVID-19 saat ini adalah dengan memberikan kelonggaran work from home kepada para karyawannya juga memberikan relaksasi kepada nasabah dalam melakukan pembayaran atau kewajiban. Contoh kasus yang bisa kita lihat salah satunya pada Bank BNI Syariah yang memberikan kelonggaran waktu kepada nasabahnya dalam menyelesaikan kewajiban.

Melihat kondisi masyarakat yang juga saat ini enggan untuk keluar rumah akibat rentan terpapar COVID-19. Bentuk pelayanan lain adalah dengan memaksimalkan layanan transaksi melalui sistem online. Termasuk didalamnya terdapat fasilitas sedekah dan infaq secara online. Salah satu aplikasi yang diluncurkan BSM menghadapi situasi COVID-19 adalah MSM dengan memaksimalkan layanan all in one secara online kepada masyarakat.

Berdasarkan survei yang dilakukan kecil-kecilan oleh penulis terhadap 30 rekan mahasiswa. Diperoleh data, sebanyak 15 mahasiswa lebih memilih bentuk layanan transfer lewat bank di tengah pandemi COVID-19 ini. Dibandingkan dengan datang langsung ke tempat penjual maupun melalui kurir. Dan mayoritas memilih menggunakan Bank Syariah dibandingkan Bank Konvensional.

BACA JUGA:  Jangan Anti Nasihat!

Keseluruhan alasan mereka menggunakan layanan yang diberikan Bank Syariah adalah wujud komitmen mereka sebagai seorang muslim yang ingin menjauhi riba. Sehingga, ciri khas Bank Syariah yang bebas riba, perlu dipertahankan dan disosialisasikan lebih baik kepada masyarakat. Sebab menjadi pemicu masyarakat Indonesia terlebih ummat muslim guna beralih atau menggunakan Bank Syariah.

Mengingat pula, masyarakat Indonesia mayoritas adalah muslim. Maka eksistensi Bank Syariah diharap mampu memberi keringanan kepada nasabah atau pelaku UMKM dalam mempertahankan ekonomi dan bisnisnya di tengah pandemi COVID-19 ini. Sehingga, diharap kedepannya mampu memberikan ekspansi terhadap pelaku ekonomi muslim dan bisnis-bisnis syariah serta memunculkan sikap loyalitas dari nasabah. Tentu perlu disertai bentuk monitoring sesuai kondisi dan jenis usaha nasabah atau pelaku UMKM oleh pihak Bank Syariah dalam meminimalisir terjadinya kerugian yang tidak diinginkan.

Komentar

Berita lainnya