oleh

Jenazah Covid-19 Ditolak, Bukti Rendahnya Literasi Masyarakat

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Prihatin. Saat mendengar masih ada penolakan warga terhadap jenazah Covid-19. Kenapa ditolak? Katanya Covid-19 itu musibah. Katanya Covid-19 itu musuh bersama. Lagi pula, siapa sih yang mau terkena virus corona Covid-19? Apalagi bagi tenaga medis. Sungguh hanya karena tanggung jawab tugasnya, mereka berjuang keras untuk menyembuhkan pasien corona. Tanpa peduli dia sangat resisten untuk tertular. Lalu, berisiko meninggal dunia. Ayo kita tanya lagi, kenapa jenazah Covid-19 ditolak?

Lagi-lagi, prihatin, Kenapa warga menolak jenazah Covid-19?

Coba deh tanya sama diri sendiri. Ada gak di antara kita yang mau meninggal dunia akibat Covid-19. Jawabnya, pasti gak ada kok. Tapi di saat yang sama, siapapun tidak bisa menghindari kematian bila tiba waktunya. Karena itu kehendak Allah SWT. Maka sudah sepatutnya, warga atau siapapun tidak menolak jenazah Covid-19.

Jika mau jujur, siapapun yang meninggal dunia akibat Covid-19 itu menyakitkan.

Bagi si jenazah, sudah pasti gak menyangka bila dia mati akibat virus corona. Di mana tertularnya tidak tahu, siapa yang menularkan pun tidak tahu. Begitu pula bagi keluarga si jenazah. Dengan sangat “terpaksa”, prosesi pemakamannya pun harus mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah. Artinya apa? Artinya keluarga pun tidak bisa memperlakukan jenazah keluarganya dengan sebagaimana mestinya. Apalagi bagi yang muslim. Bukankah kewajiban orang yang hidup untuk memperlakukan orang yang meninggal dunia, sebab apapun. Untuk memandikan, mengafani, menyolati, dan menguburkannya. Lalu, kenapa sekarang justru ditolak?

BACA JUGA:  Generasi Muslim, Stop Bullying!

Jenazah Covid-19 itu bukan aib. Bukan pula hal yang harus ditakutkan secara berlebihan. Karena tiap jenazah Covid-19 pasti sudah “dikemas” sesuai prosedur, baik untuk pemakaman maupun untuk keselamatan warga. Jadi biarkan jenazah Covid-19 dikuburkan di tempat yang semestinya, dan diperlakukan dengan semestinya pula. Kita itu “sehat” hanya karena kebaikan yang kita tidak tolak. Tapi kita akan makin “sakit” bila kita menolak kebaikan yang harus kita perbuat.

Sungguh, jenazah Covid-19 ditolak. Bukti budaya literasi masyarakat masih sangat rendah. Edukasi dan sosialisasi pun harus terus dilakukan pemerintah, aparat pemda, dan tokoh masayarakat. Sama sekali tidak alasan menolah jenazah Covid-19, selain menguburkannya.

Jadi, kenapa ditolak?

Menolak itu mencegah (bahaya dan sebagainya); menangkal (penyakit dan sebagainya); mengelakkan atau menangkis (serangan dan sebagainya), tidak menerima. Apa yang ditolak? Tentu bukan jenazah, tapi setiap perbuatan buruk, setiap ego yang berlebihan. Bahkan persekongkolan jahat di masyarakat pun harus ditolak. Narkoba, korupsi, judi, perzinahan, gaya hidup konsumtif, hedonisme, kebencian, kesombongan dan sebagainya itulah yang harus ditolak. Bukan jenazah Covid-19.

BACA JUGA:  Akankah Generasi Milenial Bangkrut Di Masa Pensiun?

TOLAK itu, kata orang bahasa, bisa dilakukan pada perbuatan yang merugikan. Sesuatu yang mendatangkan mudarat, bukan maslahat. Narkoba ditolak, karena merugikan masa depan pemakainya; melanggar hukum dan menyusahkan keluarganya. Aneh, artis yang pekerja seks komersial, tidak mengakui orang tua, dan kini terlibat narkoba kok tidak ditolak. Giliran jenazah Covid-19, yang kebetulan tetangga sendiri malah ditolak. Aneh…

Bangsa ini, warga manapun, dan siapapun. Justru di saat wabah virus corona ini harusnya bersatu, saling gotong royong. Memperkuat kebersamaan untuk melawan virus corona. Karena kita akan memperoleh kekuatan “melawan virus corona” berkat menerima sifat baik yang dijunjung tinggi, termasuk menolak sifat buruk yang ada dalam diri sendiri.

Jangan tolak jenazah Covid-19. Tapi tolaklah cara hidup yang cinta dunia. Tolaklah cara pandang yang hanya orientasi lahiriah semata. Tolak cara bertindak yang basisnya ego dan nafsu. Tolak itu pikiran yang negatif. Bukan menolak jenazah yang harusnya diperlakukan dengan baik. Sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Bila kita mampu menerima suka. Maka kita juga harus mampu menerima duka. Bukan menolaknya. Gak semua hal di dunia ini bisa kita tolak seenaknya. Karena semua yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya. Mau ngotot kayak apa juga, bila Allah sudah berkehendak pasti tidak bisa ditolak. Termasuk musibah Covid-19 bun tidak bisa ditolak dari bangsa Indonesia.

BACA JUGA:  Hari Aksara Internasional, Pentingnya Wujudkan Masyarakat Literat

Jangan ditolak jenazah Covid-19. Apalagi jenazah para tenaga medis yang sudah berjuang keras untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Bila kita tidak bisa membantu atau menyembuhkan, cukup kita menerima “kepergian” mereka dengan lapang dada dan penuh doa. Sekali lagi, jangan tolak jenazah Covid-19. Tapi tolak orang yang bergaya hidup mewah tanpa peduli pada orang miskin.

Covid-19 saja datang tidak bisa ditolak. Lalu, kenapa kita menolak jenazah akibat Covid-19? Tetap waspada, bukan takut apalagi panik. Selalu cuci tangan, jaga jarak satu sama lainnya, hindari kerumunan, dan jaga imunitas tubuh agar tetap kuat. Agar penularan virus corona bisa dihentikan. Itulah yang warga harus lakukan, bukan menolak jenazah.

Menolak itu bukan cuma urusan nafsu atau ego. Tapi pakai hati nurani. Karena semua sudah ada dalam skenario-Nya. Aneh, jenazah kok ditolak? Kebaikan sudah di depan mata, tinggal menguburkan kok masih ditolak?

Komentar

Berita lainnya