oleh

Mengambil Tindakan Cepat untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Dampaknya

Oleh: Winda Sartika Purba, Statistisi di Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup Badan Pusat Statistik

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan(TPB) Pilar Lingkungan dalam tujuan ke 13 berisi “Mengambil Tindakan Cepat untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Dampaknya”. TPB atau yang lebih dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan tujuan pembangunan yang diharapkan tercapai pada tahun 2030.

Dalam rangka mencapai tujuan penanganan perubahan iklim pada tahun 2030, ditetapkan 5 target yang diukur melalui 8 indikator. Target-target tersebut terdiri dari pengurangan risiko bencana (PRB), pengurangan korban akibat bencana, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai target tersebut dijabarkan pada kebijakan, program dan kegiatan yang akan dilakukan oleh pemerintah maupun nonpemerintah Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia 2019, Badan Pusat Statistik.

Dokumen PRB sampai saat ini terdapat di 173 kabupaten/kota. Dokumen terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai 15 kabupaten/kota. Selain dokumen yang berisi strategi pengurangan risiko bencana ada hal yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana melakukan adaptasi dan mitigasi bencana. Adaptasi adalah upaya menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan melakukan perubahan yang mengarah pada peningkatan daya tahan dan daya lenting terhadap perubahan tersebut. Mitigasi bencana didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana baik pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

BACA JUGA:  Ramadhan Istimewa di Tengah Wabah Corona

Pentingnya adaptasi dan mitigasi ini tidak diikuti partisipasi masyarakat didalamnya, hal ini bisa saja karena masyarakat yang enggan untuk berpartisipasi atau kegiatan yang memang masih minim dilaksanakan dengan segala argumentasinya mulai dari anggaran sampai urgensinya mengingat masih banyak agenda lain yang dianggap prioritas.

Bagaimana sebenarnya perkembangan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana dilihat dari pengetahuan akan tanda-tanda atau peringatan maupun keikutsertaan dalam simulasi pelatihan bencana alam?

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Ketahanan Sosial (Susenas MH) tahun 2017, pada tahun 2017 terdapat 49,58 persen rumah tangga telah mengetahui tanda-tanda atau peringatan untuk mengatasi kejadian bencana. Persentase ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan tahun 2014, dimana hanya sebesar 9,71 persen rumah tangga yang mengetahui tanda-tanda atau peringatan untuk mengatasi kejadian bencana.

Rumah tangga yang mengetahui tanda-tanda atau peringatan untuk mengatasi kejadian bencana angkanya sudah cukup baik pada tahun 2017 dan peningkatan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2014. Namun peningkatan ini tidak diikuti persentase rumah tangga yang mengikuti simulasi pelatihan bencana alam yang jumlahnya masih sangat kecil, hanya 1,20 persen pada tahun 2014 dan meningkat sedikit menjadi 2,39 persen pada tahun 2017.

Hasil survei diatas menunjukkan bahwa masih perlunya peningkatan dalam dua aspek yang dapat diukur ini. Selain itu strategi lain yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan infrastukturnya, khusunya infrastruktur terkait banjir yang belakangan ini sering terjadi. Seperti diketahui, saat musim hujan, rata-rata curah hujan di Indonesia sangat tinggi. Dalam satu tahun, jumlah curah hujan di Indonesia dapat mencapai hampir 2.500 mm pertahun (Worldbank, 2015). Pada tanggal 1 Januari 2020 merupakan curah hujan tertinggi selama 24 tahun terakhir berdasarkan data sejak 1996, mencapai 377 mm/hari di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

BACA JUGA:  Ramadhan Istimewa di Tengah Wabah Corona

Curah hujan yang tinggi seharusnya diimbangi oleh wilayah penampungan air yang mempunyai kapasitas memadai. Wilayah penampungan air tersebut meliputi tampungan sumber-sumber air alami yang telah ada secara alamiah, seperti sungai dan danau, maupun buatan seperti bendungan/ waduk, dan embung. Tahun 2014 kapasitas tampungan air di Indonesia hanya 50 m3 per kapita per tahun yang dikelola melalui tampungan bendungan. Angka ini hanya 2,5 persen dari angka ideal tampungan per kapita di suatu negara yaitu sebesar 1.975 m3 per kapita pertahun (Rencana Strategis 2015-2019 Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kementerian PUPR). Jika dibandingkan dengan negara lain, kapasitas tampungan air di Indonesia masih jauh di bawah Thailand yang mencapai 1.277 m3 per kapita per tahun.

Kapasitas tampungan air bisa ditingkatkan dengan perbaikan sumber-sumber air alami ataupun pembangunan penampungan air buatan. Sumber air alami misalnya melakukan pengerukan agar volume air meningkat. Pembangunan saat ini yang dicanangkan pemerintah adalah embung. Publikasi Statistik lingkungan hidup dan kehutanan 2018 yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa tidak ada pembangunan embung mulai dari tahun 2015 sampa sekarang, namun tahun 2014 pembangunan embung air mencapai 124 embung.

BACA JUGA:  Ramadhan Istimewa di Tengah Wabah Corona

Pembangunan yang tidak dilakukan menyebabkan hanya 10,59 persen desa yang memiliki embung atau 8.889 dari 83.931 desa, angka ini merupakan hasil pengukuran Potensi Desa (PODES) 2018. Ketidakadaan pembangunan menyebabkan persentase ini cukup kecil. Selain persentase yang kecil ini masih terdapat 1.162 desa dengan embung yang tidak dimanfaatkan.

Pengurangan risiko bencana serta adaptasi dan mitigasi bencana yang baik dari data diatas menunjukkan pemenuhan TPB tujuan ke 13 untuk dapat mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya pada tahun 2030 masih memerlukan upaya yang lebih cepat agar TPB ini dapat terpenuhi.

Dokumen PRB, peningkatan volume tampungan air alami, pembangunan penampungan air buatan, dan kesiapan mitigasi dan adaptasi bencana melalui penyebaran informasi terkait tanda-tanda atau peringatan untuk mengatasi kejadian bencana maupun mengikuti simulasi dapat terus menjadi perhatian demi mendukung tercapainya TPB ke 13.

Komentar

Berita lainnya