oleh

Buah Konflik Iran-Israel

Dunia senantiasa menegang. Para pemimpin adikuasa abadi berdebat, sembari memamerkan kehebatan ototnya. Mereka saling baku hantam, untuk menunjukkan bahwa dirinya yang terbaik. Rudal dihujankan ke lahan milik oposisi. Kejadian ini pun berlangsung secara berlarut-larut, seolah-olah dunia tidak lepas dari pusaran peperangan.

Tanpa mereka tahu, banyak orang tidak berdosa menjadi korbannya. Masyarakat Iran salah satu yang kena getahnya. Buktinya, banyak warga Iran yang tewas di pesawat Ukraina Internasional akibat ditembak oleh pasukan Iran. Tepatnya, 82 orang dari 176 korban perseteruan ini adalah warga Iran, jumlah yang sungguh sangat banyak (Kompas, 2020).

Lantas kejadian ini memicu gelombang massa besar-besaran. Permohonan maaf pemerintah Iran atas ketidaksengajaannya menembak rudal, tidak dapat membendung warga Iran yang sudah terlanjur marah. Aksi protes pun menyebar, kemudian memenuhi sepanjang jalan Teheran, Shiraz, Esfahan. Hamedan, dan Orumiyeh (Republika, 2020).

Para pengunjuk rasa membeli bendera Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Israel yang terpampang di etalase toko. Setelahnya, mereka membakar bendera-bendera tersebut. Aksi simbolik ini dilakukan untuk menunjukkan bahwasanya masyarakat Iran merasa dirugikan oleh kebijakan negara-negara barat.

Negara-negara yang menjadi objek pun merespon kejadian di Iran ini, Israel tak terkecuali. Alih-alih mencoba meredam ketegangan di Iran, Israel malah mengeluarkan komentar panas ke Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta negara di dunia bersatu untuk melawan Iran karena senjata nuklirnya yang dapat mengancam umat manusia (CNBC, 2020).

BACA JUGA:  Cara Pekerja “New Normal” Menjaga Imunitas Masa Pensiun

Bagi Israel, peristiwa penembakan pesawat Ukraina dan unjuk rasa di Iran, menjadi kesempatan yang bagus untuk melemahkan Iran (JerusalemPost, 2020). Pembunuhan Qasem Soleimani oleh AS juga sangat menguntungkan Israel, sebab bisa mencegah langkah ekspansi Iran.
Seperti yang kita tahu, Soleimani merupakan aktor kebijakan luar negeri Iran yang dapat mengorganisir dan mengoordinasikan kelompok-kelompok milisi Syiah. Iran yang memiliki misi luar negeri untuk menyebarluaskan paham Syiah, dianggap sebagai pengacau kestabilan teritorial di perbatasan utara Israel (AA, 2020).

Pergerakan Iran dalam membawa Syiah ke Timur-Tengah bisa dilihat dari kehadiran kelompok radikal di wilayah tersebut. Kehadiran Hizbollah di Lebanon selatan dirasakan sangat mengganggu kepentingan nasional Israel. Kelompok ini, ditambah dengan Hamas dan Islamic Jihad berulang kali melontarkan keinginan mereka untuk menghancurkan Israel dan membangun negara Islam yang terbentang dari Maroko ke Asia Tenggara.

BACA JUGA:  Pekerja Stres Saat Pensiun, Apa Sebab dan Solusinya?

Iran sendiri telah memberikan dukungan senjata dan mendanai kelompok-kelompok radikal ini untuk menghancurkan Israel. Yerusalem yang sudah merdeka 60 tahun lebih, memandang apa yang dilakukan Iran sebagai sebuah ancaman. Itikad dan perbuatan Iran ini mengingatkan Israel akan trauma masa lalunya.

Menurut Ben-Meir (2010) dalam jurnalnya yang berjudul “Israel’s Response to a Nuclear Iran”, trauma yang dimiliki Israel ini bahkan tertuang dalam kebijakan luar negerinya (Ben-Meir, 2010). Doktrin pertahanan Israel menyatakan bahwa negara ini berkewajiban untuk menetralisir segala bentuk yang mengancam keberadaan Israel. Maka dari itu, membumihanguskan Iran menjadi salah satu agenda terpenting Israel.

Catatan konflik antara Iran-Israel sekiranya dapat memperkuat argumen ini. Pada tahun 2006, Israel dan Hizbullah berperang sangat lama di perbatasan utara Israel. Setahun berikutnya, Israel melakukan operasi bernama “Operation Orchard” guna menghancurkan reaktor nuklir yang tersimpan di gurun terpencil Suriah. Ketegangan terus berlanjut dan memuncak pada tahun 2010, dimama militer Israel mencoba menghancurkan senjata nuklir Iran. Israel sendiri sudah bersumpah bahwa dirinya akan terus menghancurkan perangkat nuklir Iran.

Netanyahu berpendapat bahwa nuklir Iran merupakan “ancaman eksistensi” untuk tanah air mereka. Apalagi, pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khameini terlibat langsung dalam pengembangan nuklir. Khameini sangat berambisi untuk memberantas Israel, yang menurutnya adalah “tumor kanker yang harus segera dibinasakan”.

BACA JUGA:  Cara Pekerja “New Normal” Menjaga Imunitas Masa Pensiun

Di samping itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit menemukan bahwa tinggi-rendahnya harga minyak bergantung kepada ketegangan program nuklir Iran. Konflik yang selama ini melanda Iran Israel, tentu menjadi marabahaya bagi Israel. Terlebih lagi, Iran menjadi target utama kepentingan minyak Israel (Feniger & Kallus, 2015).

Iran sendiri menguasai daerah Selat Hormuz yang menjadi saluran utama minyak. Sekitar 17 juta barel minyak sehari bergerak melalui Selat Hormuz. Jumlah ini mewakili sekitar 20 persen dari total pasokan minyak harian dunia. Kelebihan yang dimiliki Teheran ini lantas membuat Israel ketakutan.
Kesimpulannya, Iran dan Israel akan tetap terkungkung di dalam pusaran konflik. Selama Khaemeini memimpin Iran, Teheran akan terus beretorika mengalahkan Israel dan akan terus hilangnya mengejar kemampuan nuklir. Sementara Israel akan senantiasa mencari cara untuk mengurangi ancaman Iran dengan meminta bantuan AS.

 

Habibah Auni
Universitas Gadjah Mada

Komentar

Berita lainnya