oleh

Aku Seorang Penyandang Low Vision

Oleh : Alvi Aulia Shofyan, Mahasiswi STEI SEBI

Namaku Alvi Aulia Shofyani, biasa dipanggil Alvi. Aku lahir di Jakarta, 1 Oktober 2000. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Saat ini aku dan keluarga tinggal di kabupaten Bogor. Aku terlahir sebagai salah seorang penyandang Low Vision. Apa itu Low Vision? Mungkin istilah tersebut masih asing di telinga pembaca. Mari kita bahas!

Perlu diketahui bahwa Tunanetra dibedakan menjadi dua, yaitu Totaly Blind (Kebutaan total) dan Low Vision (Penglihatan Rendah). Low Vision adalah Suatu kondisi dimana seseorang memiliki mata yang kurang awas dan jarak penglihatannya terbatas. Kondisi ini akan mengakibatkan seseorang kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berjalan, membaca, menulis dan lain-lain. Akibatnya, penyandang Low Vision menjadi kurang optimal dalam mencapai prestasi. Low vision bukan merupakan penyakit, namun sebuah kondisi gangguan penglihatan yang tidak dapat kembali maksimal walau dengan bantuan kacamata, pengobatan, ataupun operasi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Simak kisahku berikut ini:

Saat aku dilahirkan dari rahim ibu, tangisan pertamaku membuat seisi ruangan bahagia. Namun, ada yang berbeda dari kondisi fisikku. Mataku tidak seperti bayi pada umumnya. alat penglihatanku terbuka lebar ketika lahir. Sungguh hal itu membuat orang tuaku cemas. Ketika aku berusia satu sampai tiga bulan, mataku tidak dapat memberi respons terhadap benda yang ada di hadapanku, walau saat itu indra penglihatanku telah terbuka sempurna. Setelah usiaku beranjak empat bulan, aku mulai bisa bereaksi terhadap benda di depan mataku, namun dengan jarak yang sangat terbatas.

Melihat kondisi mata buah hatinya yang abnormal, orang tuaku memutuskan untuk memeriksakan anak sulungnya ini ke dokter mata. Mulai dari dokter umum, dokter spesialis mata, hingga ke pengobatan tradisional didatangi demi sang buah hati, yaitu aku. Ketika usiaku lima bulan, ayah dan ibu membawaku ke dokter spesialis mata di daerah Purworejo, karena saat itu kami sedang singgah disana. Dokter mengatakan bahwa saraf mataku goyang. 2 bulan setelahnya, ayah dan ibu membawaku ke Rumah Sakit Aini Jakarta. jawaban dokter masih sama seperti dokter yang kami datangi sebelumnya.

Hingga kaki mungilku dapat melangkah menyusuri keindahan ciptaanNya. Sayangnya saat berjalan aku kerap kali menabrak benda yang persis berada di depanku sehingga aku sering tersandung dan jatuh. Bahkan sejak usiaku satu tahun hingga sekarang, penyandang Low Vision sepertiku sering memicingkan mata seraya mengerutkan dahi ketika terpapar sinar matahari atau lampu. Hal tersebut dikarenakan kami memiliki pupil mata yang lemah.

Ok lanjut, kemudian kami menetap di Bekasi. Setelah usiaku satu setengah tahun, ayah dan ibu kembali mengajakku jalan-jalan alias melakukan pengobatan untuk buah hatinya. Aku dibawa ke seorang kiyai, beliau memberiku ramuan obat, lalu aku meminumnya. Berkali-kali ramuan itu masuk ke dalam tubuh mungilku, namun tetap tidak ada perubahan. Satu tahun kemudian, orang tua membawaku lagi ke sebuah pengobatan tradisional di salah seorang ustadz daerah Bekasi. Kemudian Ustadz memberiku minyak yang harus diolesi ke kelopak mata dan air yang harus aku minum. Namun tidak membuahkan hasil apapun.

Pada saat usiaku dua tahun, aku berkunjung ke klinik mata daerah Jakarta Timur, beliau menganjurkan aku untuk melakukan tes Tokso, setelah di tes ternyata hasilnya negatif. Kemudian aku dirujuk ke Rumah Sakit Puri Cinere, namun lagi-lagi dokter tak dapat membuat kesimpulan terhadap kelainan mataku.

Para penyandang Low Vision sepertiku juga kerap kali sulit membedakan warna. Sejak usiaku tiga tahun, ayah dan ibu selalu mengenalkan kepadaku warna-warna nan beragam. Namun tak satupun mampu ku ingat. Bahkan kesulitan dalam mengenal dan membedakan warna kubawa hingga kini. Mungkin hal ini dikarenakan penyandang Low Visio memiliki kerusakan di retina mata, yang mana didalam retina mata terdapat sel kerucut yang berfungsi untuk membedakan warna. Sehingga ketika sel kerucut itu bermasalah, maka mata sukar membedakan warna.

Empat tahun usiaku, aku dirujuk ke salah satu dokter ternama di daerah Tangerang, yaitu dokter Rini Mahendrastari. Enam bulan setelah aku didaftarkan ke klinik dokter Rini, akhirnya kami dipanggil dan bisa bertatap langsung dengan beliau. Melalui beberapa tahap pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa yang aku derita adalah faktor genetik. Kemudian beliau membuat resep kacamata untukku. Sejak usia empat tahun itulah aku mengenal dan menggunakan kacamata. Karena usiaku yang masih sangat dini untuk berkacamata, benda itu sering aku lempar. Dokter Rini juga merujukku untuk datang ke DPP Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).

Pertuni adalah organisasi kemasyarakatan tunantra tingkat nasional. Melalui layanan yang diberikan oleh pusat layanan Low Vision Pertuni, di harapkan para penyandang Low Vision dapat memfungsikan sisa penglihatan yang dimiliki, sehingga tetap mampu berkontribusi di masyarakat secara mandiri. Ketika banyak rumah sakit yang tak mampu menangani kasus Low Vision, Pertuni adalah pelayanan yang tepat untuk kami penyandang Low Vision. Dari situlah ayah dan ibu tak lagi repot mencarikan pengobatan. Setiap tahunnya aku harus check-up disana. Saat itu pertuni berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Memasuki kelas satu SD, aku sekolah seperti layaknya anak seusiaku. Aku bersyukur karena bisa menimba ilmu di bangku sekolah formal. Karena tidak semua penyandang Low Vision dapat mengenyam pendidikan di sekolah formal, sebagian dari kami harus berada di SLB (Sekolah Luar Biasa). Hari pertama aku sekolah, Pihak DPP Pertuni datang ke sekolahku, mereka mensosialisasikan Low Vision kepada bapak/ibu guru dan murid-murid. Saat itu aku harus duduk di kursi paling depan karena tulisan di papan tulis tidak dapat aku lihat dengan jelas walau sudah memakai kacamata. Akhirnya ibuku meminta guru yang mengajar di kelas agar membuat rangkuman khusus untukku agar aku tetap dapat mengikuti pembelajaran. Jika menulis dan membaca buku ataupun menatap layar monitor, kami harus melihatnya dengan jarak dekat.

Dibangku kelas empat, ibu guru tak lagi menulis rangkuman untukku. Aku telah diperkenalkan dengan alat bantu berupa Teleskop/Teropong. Melalui alat ini, aku tak lagi kesulitan belajar karena tulisan di papan tulis dapat aku lihat dengan jelas. Hanya dengan memutar dan menempelkan alat itu persis di depan bola mataku, tulisan seakan berada di depan mata. Sejak saat itulah aku dapat dengan mudah mengikuti pembelajaran di sekolah, walau harus menggunakan alat bantu.

Kadang aku merasa kurang percaya diri karena melihat mataku berbeda dari orang pada umumnya. Saat memulai tahun ajaran baru, pastinya bertemu teman-teman baru, disitu kadang aku malu bila harus memakai alat bantu ketika belajar. Tetapi karena aku memiliki motivasi belajar yang tinggi, rasa kurang percaya diri itu dapat aku minimalisir. Aku senang banyak orang yang peduli dan mau berteman denganku. Aku berjanji akan semangat dalam menimba ilmu. Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan mampu bersaing dengan mereka yang penglihatannya normal. Alhamdulillah di sekolah aku sering meraih peringkat tiga besar.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tibalah saatnya aku meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku bersyukur, Allah memberiku kesempatan untuk dapat merasakan bangku perkuliahan, bahkan aku dapat melanjutkan studi S1 ku dengan Beasiswa prestasi. Kini aku berkuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Depok dengan mengambil Program Studi Akuntansi Syari’ah.

Aku bersyukur aku masih memiliki kedua orang tua yang selalu pengertian terhadap diriku. Mereka ikhlas dan sabar menerima kondisi mata buah hatinya yang berbeda. Dan mereka selalu mensupport aku tatkala aku dalam kondisi down.

Itulah sepenggal kisah hidupku selama 19 tahun ini. Perjalananku masih panjang, Hingga sekarang belum banyak yang kulakukan untuk negeri ini. Namun besar harapanku agar teman-teman semua mengenal dan memahami apa itu Low Vision. Aku berpesan untuk para Low Vision di luar sana. Tetap semangat, jangan jadikan kekuranganmu sebagai alasan untuk tidak berkarya. Yakini bahwa Allah swt. pasti menyelipkan kelebihan di setiap kekurangan. Percayalah, kamu unik dengan caramu sendiri, kamu istimewa dengan caramu, dan kamu adalah orang hebat yang Allah titipkan melalui perantara ayah ibumu.

Komentar

Berita lainnya