oleh

Mengapa Kita Menolak LGBT?

LGBT adalah singkatan dari “lesbian, gay, biseksual, transgender” istilah ini digunakan sejak tahun “1990-an menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.

Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa inggris lainnya. Namun tidak semua kelompok yang disebutkan setuju dengan akronim ini. Beberapa orang dalam kelompok yang disebutkan merasa tidak berhubungan dengan kelompok lain dan tidak menyukai penyeragaman ini. Beberapa orang mengatakan pergerakan transgender dan transeksual itu tidak sama dengan pergerakan kaum LGBT.

Per tanggal 26 Juni 2015 Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) memutuskan bahwa pernikahan sesama jenis dilegalkan di seluruh wilayah AS. Presiden Barack Obama menyebut putusan itu sebagai kemenangan AS. Mahkamah Agung dalam putusannya mengatakan, pernikahan sesama jenis dilindungi hukum sehingga tidak ada yang bisa melarangnya. Putusan itu pun berlaku di 50 Negara bagian seluruh AS.

Jika dikaitkan dengan agama, pernikahan sesama jenis sangat diharamkan. Dalam Kristen disebutkan Paulus mengingatkan jemaat Kristen di Roma agar menjauhkan diri dari perilaku penyelewangan seksual dimana laki-laki yang dikuasai nafsu yang menyala-nyala meninggalkan istri mereka dan berbuat mesum dengan laki-laki (Roma 1:27-28). Mereka digambarkan sebagai orang sesat yang tak merasa perlu mengakui Allah. Bagi mereka hidup adalah pemuasan nafsu. Mereka disebut biseksual, yaitu hubungan dengan lawan jenis, tapi juga dengan sejenis. Sementara untuk homoseksual rasul Paulus menyebutnya pemburit (1 Korintus 6:9, 1 Timotius 1:10), sebagai yang bertentangan dengan ajaran sehat dan tidak mendapat bagian dalam kerajaan kekal.

Perkawinan dalam islam hanya boleh dilakukan oleh mempelai yang berjenis kelamin seksual laki-laki dan perempuan. Islam menghendaki pernikahan antar lawan jenis, laki-laki dengan perempuan, tidak semata untuk memenuhi hasrat biologis namun sebagai ikatan suci untuk menciptakan ketenangan hidup dengan membentuk keluarga sakinah dan mengembangkan keturunan umat manusia yang bermartabat.

Perkawinan sesama jenis tidak akan pernah menghasilkan keturunan, dan mengancam kepunahan generasi manusia. Perkawinan sesama jenis semata-mata untuk menyalurkan kepuasan nafsu hewani.

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dr. Dewi Inong Irana, memaparkan secara detail tentang bahaya LGBT ini dari sisi psikologi dan kesehatan. Menurut dia, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) atau yang dikenal sebagai LGBT 60 kali lebih mudah tertular HIV-AIDS dan penularan yang lebih mudah melalui dubur.

Abdul Hamid El-Qudah, Seorang Dokter Spesialis Penyakit Kelamin Menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam Dunia (FIMA) menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan dari LGBT adalah:

Dampak kesehatan

Dampak-dampak kesehatan yang ditimbulkan di antaranya adalah 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular. Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan rata-rata usia lelaki yang menikah dan normal adalah 75 tahun. Rata-rata usia Kaum lesbian adalah 45 tahun sedangkan rata-rata wanita yang bersuami dan normal 79 tahun.

Dampak sosial

Beberapa dampak sosial yang ditimbulkan akibat LGBT adalah sebagai berikut: Penelitian menyatakan “seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. Sedangkan pasangan zina seseorang tidak lebih dari 8 orang seumur hidupnya”. 43% dari golongan kaum gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homo seksual dengan lebih dari 500 orang. 28% melakukannya dengan lebih dari 1000 orang. 79% dari mereka mengatakan bahwa pasangan homonya tersebut berasal dari orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja. Hal itu jelas-jelas melanggar nilai-nilai sosial masyarakat.

Dampak pendidikan

Adapun dampak pendidikan di antaranya yaitu siswa ataupun siswi yang menganggap dirinya sebagai homo menghadapi permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan. Dan 28% dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah.

Dampak keamanan

Dampak keamanan yang ditimbulkan lebih mencengangkan lagi yaitu:
Kaum homo seksual menyebabkan 33% pelecehan seksual pada anak-anak di Amerika Serikat; padahal populasi mereka hanyalah 2% dari keseluruhan penduduk Amerika. Hal ini berarti 1 dari 20 kasus homo seksual merupakan pelecehan seksual pada anak-anak, sedangkan dari 490 kasus perzinaan 1 di antaranya merupakan pelecehan seksual pada anak-anak. Meskipun penelitian saat ini menyatakan bahwa persentase sebenarnya kaum homo seksual antara 1-2% dari populasi Amerika, namun mereka menyatakan bahwa populasi mereka 10% dengan tujuan agar masyarakat beranggapan bahwa jumlah mereka banyak dan berpengaruh pada perpolitikan dan perundang-undangan masyarakat.

Bahaya yang di timbulkan oleh pelaku LGBT

Pertama, rentan terkena virus HIV, sifilis, hepatitis, dan infeksi Chlamydia, bakteri yang masuk melalui lubang anal akan sangat mempengaruhi kedua pasangan homoseksual, virus ini bisa mengakibatkan berbagai macam penyakit yang sangat merugikan

Kedua, Sangat memungkinkan terjadinya luka atau pembengkakan pada sistem pembuangan atau pendarahan, hal tersebut di karenakan lubang anal yang semestinya di fungsikan sebagai pembuangan kotoran beralih fungsi juga sebagai pelampiasan hawa nafsu dari semestinya terdapat pada wanita.terluka dan terinveksi, bahkan mengakibatkan nanah adala resiko yang bisa mengancam pelakunya.

Ketiga, Efek yang selanjutnya ditimbulkan adalah perubahan perilaku, ketidakseimbangan perilaku ini disebabkan kejiwaan seorang gay atau pelaku homoseksual cenderung memberikan efek negatif pada sistem syaraf dan penurunan pada sistem kerja otak akibatnya seorang gay akan lebih nyaman dengan penyelewengan yang ia lakukan meski menyadari bahwa hal tersebut adalah salah dan kurang berpikir realistis. | Hardilah pausiyanti (mahasiswi STEI SEBI)

Komentar

Berita lainnya