oleh

Mencari Surga untuk para Pejalan Kaki

Berjalan kaki yang dilakukan manusia sebenarnya adalah moda transportasi pertama yang dikenal manusia, dimana saat pertama kali manusia ingin ke suatu tempat, berjalan kaki yang dilakukan. Kemudian berkembang menggunakan bantuan tenaga hewan, hingga akhirnya muncul berbagai kendaraan seperti sekarang, maka sebenarnya pejalan kaki (Pedestrian) seharusnya memiliki hak yang seimbang dengan penngguna kendaraan bermotor, dihargai dan juga dilakukan penerapan sanksi apabila hak tersebut dilanggar.

Di Indonesia sendiri, pejalan kaki sampai saat ini belum begitu dihargai, bukan hal yang memalukan bagi pengendara kendaraan bermotor, apabila melihat pejalan kaki hendak menyeberang, semakin menambah kecepatan kendaraannya, agar bisa melewati terlebih dahulu sebelum Pejalan kaki tersebut menyeberang jalan. Bahkan penggunaan trotoar banyak dilanggar oleh pengguna jalan lainnya.

Pengguna jalan lain menggunakan trotoar sebagai “jalan tol” nya mereka, khususnya pengendara sepeda motor. Tak hanya itu trotoar juga dijadikan lahan untuk parkir bagi kendaraan mereka. Pelanggaran seperti ini mungkin dianggap sepele oleh mereka karena mereka hanya menaruh motor mereka untuk beberapa menit saja. Padahal karena beberapa menit saja itulah yang membuat motor-motor lain ikut parkir disana.

Seperti yang dikatakan Axel Gilbert seorang mahasiswa yang saya wawancarai Jumat, 22/11/2019 “Menurut saya parkir di trotoar itu memang salah, tapi kalau hanya untuk beberapa menit saja menurut saya tidak apa-apa sih” .

Paradigma seperti itulah yang menurut saya harus diubah. Karena walaupun sebentar tetap saja orang yang melanggar harus dikenakan sanksi. Trotoar juga banyak digunakan oleh pedagang-pedagang kaki lima untuk berjualan. Seperti yang saya lihat di trotoar Jalan Jendral Sudirman, banyak pedagang yang berjualan disana, mulai dari pagi sampai malam pasti ada saja yang berjualan. Selain digunakan oleh pengguna jalan lain dan pedagang kaki lima, trotoar juga di salahgunakan para skaters untuk bermain skateboard. Sangat disayangkan setiap malam di trotoar Jendral Sudirman, di depan Menara Taspen, banyak sekali kumpulan anak muda yang suka nongkrong-nongkrong dan bermain skateboard.

Dengan keadaan tersebut maka perlu dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai ketertiban, kebersihan, dan keamanan yang diwujudkan di trotoar dengan cara merancang media berupa kampanye sosial untuk mengubah perilaku penyalahgunaan fungsi trotoar pada pengguna kendaraan bermotor. “

“Para skaters Sangat mengganggu saya sebagai pejalan kaki. Karena mereka bermain skateboard hampir memenuhi trotoar, kadang saya yang harus minggir harusnya mereka yang berhenti saat ada pejalan kaki”. Begitu kata Maria seorang karyawati yang sering melintas di trotoar Sudirman.

Mungkin terlihat sepele bagi orang lain, tapi tidak sepele dengan para pejalan kaki. Mereka butuh “surga” untuk mereka berjalan. Surga nya para pejalan kaki? Ya Trotoar! Trotoar yang banyak disalahgunakan perlahan harus diedukasi para pelanggarnya. Undang-Undang saja tidak cukup, karena aparat pemerintah pun banyak yang kecolongan. Kita harus meningkatkan kesadaran kepada pengguna jalan lainnya. Dan sebagai pejalan kaki kita juga harus tau hak dan kewajiban kita, jangan sampai dilanggar juga ya oleh pejalan kaki itu sendiri.

Ditulis oleh Ellia Kristina
Mahasiswa London School of Public Relations Jakarta

Komentar

Berita lainnya