oleh

Berapa Sampah yang Kita Hasilkan per Hari?

Pernahkah kita berpikir sejenak dalam benak kita tentang “Berapa sampah yang kita hasilkan perhari?” atau mungkin “Kemanakah sampah kita akan bermuara?”. Mungkin beberapa dari kita memikirkan hal itu. Di perkirakan berat timbunan sampah perhari di Indonesia adalah 200 ribu ton perhari dan itu setara dengan 73 juta ton sampah pertahun. Dan tahukah kita,dominasi jenis sampah yang di temui perhari sejenis apa?

Ya, sampah yang berasal dari sampah rumah tangga masih memenangi peringkat yang mendominasi sampah di Indonesia. Menurut Drs. Rasio Ridho Sani, MCOM, MpM selaku Deputi IV Bidang Pengelolahan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, dan Sampah dalam acara `Kementerian Lingkungan Hidup Media Briefing` di Ruang Kalpataru Gedung B KLH, Kebon Nanas, Jakarta, pada 2014 lalu saja sampah yang dihasilkan per individu sebanyak 0,8 kilogram sampah.

Memang itu bukan angka yang sangat sedikit. Saat ini Indonesia sedang darurat akan sampah yang menumpuk dan susah untuk di urai. Disekitar kita banyak sekali sampah yang susah untuk di urai bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama sekali untuk di uraikan.

Melalui hasil penelitian Jenna Jambeck, Universitas Georgia,Amerika Serikat, Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, setelah Tiongkok. Banyak pihak meragukan hasil penelitian tersebut. Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP berencana melakukan penelitian sampah plastik di perairan Indonesia untuk membantah data penelitian Jambeck itu.

Namun tidak dapat dipungkiri, sampah plastik memang paling mendominasi. Sampah plastik sangat berdampak pada keseimbangan ekosistem di bumi. Misalnya,karena banyaknya sampah plastik yang di hasilkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem darat,seperti terganggunya struktur tanah.

Suatu organisasi sosial yang bergerak aktif dalam waste management, yaitu Waste4Change memperkenalkan suatu konsep mengolah sampah menjadi aktivitas yang menyenangkan melalui konsep 4C’s – Consult, Campaign, Collect, Create. Organisasi yang didirikan oleh Mohamad Bijaksana Junerosano, seorang pria kelahiran 3 juni 1981, Banyuwangi yang sering di panggil Sano serta lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ingin mengubah pola pikir kita sebagai masyarakat Indonesia terhadap sampah.

Kalau kita pikir,sampah adalah sesuatu yang sudah tidak ada nilai guna dan keindahan itu adalah pemikiran yang salah. Stop! Berpikir demikian, karena Mohamad Bijaksana Junerso melalui organisasi Waste4Change ingin membangun dan mengubah paradigma yang salah itu. Karena menurutnya,sampah bisa diolah menjadi barang yang berguna, layak pakai dan memiliki nilai kegunaan seperti sebelumnya atau bahkan lebih dari sebelumnya.

Gerakan 4C’s yang di pelopori oleh Waste4Change menerangkan pada kita bahwa untuk mengolah sampah dibutuhkan langkah-langkah yang harus di ikuti dan menjadi pedoman untuk kita.

Consult -Waste4Change akan memberikan konsultasi berdasarkan pelatihan dan penelitian mendalam tentang pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Campaign -Waste4Change akan memberikan edukasi tentang pengelolaan limbah yang bertanggung jawab ke sekolah,tempat tinggal,komunitas.

Collect – Waste4Change akan membantu dalam pengelolaan limbah di rumah atau kantor agar tidak ada lagi sampah yang tercampur.

Create – Waste4Change akan berkolaborasi dengan partner yang terpercaya guna untuk mentransfer limbah sampah menjadi material. 4C’s sangat memegang peran penting dalam waste management atau pengelolaan limbah, karena dengan melalui konsep 4C’s ini kita dapat mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan terakhir (TPA). Sampah yang di terima adalah hanya sampah non-organik saja dan itu akan di pilah kembali sesuai dengan materialnya dari masing-masing sampah.

Kita harus sangat bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah. Saat ini “Ibu Pertiwi” sedang berada pada peringkat ke-2 sebagai penyumbang sampah plastic ke lautan. Setiap harinya ada ada kurang lebih 7.200++ ton sampah yang di kirim dari Jakarta ke Bantar Gebang. 7.200 bukan angka kecil,melainkan adalah angka yang cukup besar sekali.

Limbah yang berada di sekitar kita adalah ancaman bagi kesejehateraan hidup makhluk hidup. Limbah yang menumpuk akan mencemari lingkungan sekitar kita dan mengganggu ekosistem dan itu akan berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin lama limbah di daur ulang, semakin tercemar pula lingkungan kita. Penyakit akan bertebaran secara luas dan merajalela. Bahkan nyawa bisa saja menjadi taruhannya. Jika bukan kita yang bergerak untuk lingkungan lebih baik,siapa lagi?

Konsep 4C’s mengarah pada investasi pengelolaan limbah. Saat ini,investasi limbah/sampah masih menjadi investasi yang belum popular. Tapi, di era mendatang investasi ini dapat menjadi investasi yang menggiurkan. Semakin banyak pertumbuhan penduduk,maka semakin banyak pula sampah atau limbah yang di hasilkan.

Untuk berinvestasi dalam pengelolaan limbah dapat di lakukan pada era sekarang. Ini akan menjadi peluang untuk start-up. Omzet yang akan di raih cukup menyentuh angka yang besar. Bisa miliaran bahkan triliunan. Bagaimana,apakah anda tertarik?.

Namun, beberapa orang masih bersikap acuh pada limbah yang ada di sekitar kita. Banyaknya faktor seringkali membuat apa yang kita ingin capai tidak tercapai juga. Seperti kesibukan ataupun faktor kemalasan dari dalam diri kita. Rasa takut gagal dalam berinvestasi juga masih menghantui benak kita.

Terkadang kita sulit dan tidak mau untuk eksplor atau coba hal baru dengan alasan “takut gagal,takut tak suka,takut tak nyaman dan sebagainya”. Untuk langkah awal,kita tidak perlu mengeluarkan modal yang besar,kita bisa coba dengan percobaan-percobaan kecil dengan menggunakan limbah dan perabot di sekitar kita. Dari percobaan kecil yang berhasil kita bisa coba memasukan hasil produk daur ulang kita pada pangsa pasar. Jika produk kita di terima di pasar maka kita yang semula dari percobaan kecil bisa menjadi perusahaan kecil lalu menjadi perusahaan daur ulang ternama dan besar.

Waste4Change membantu dan membuka peluang untuk kita berinvestasi melalui konsep 4C’s. Sebetulnya dengan mulai memisahkan sampah organic dan non-organik kita sudah turut serta dalam investasi limbah. Marilah awali langkah besar dengan langkah kecil terlebih dahulu.

 

Vanesa Kartadji, Lay
Mahasiswa London School of Public Relations Jakarta

Komentar

Berita lainnya