oleh

Talkshow IP Depok: Ketahui 5 Cara Menjauhkan Anak dari LGBT dan Pergaulan Bebas

Lebih berbahaya dari narkoba, fakta dan data LGBT begitu mengejutkan

DEPOK- Komunitas Ibu Profesional Depok (IP Depok) baru saja menghelat talkshow orang tua bertemakan ketahanan keluarga, Sabtu (21/12/2019). Pada acara tersebut, sekitar 200 orang tua belajar tentang cara mendidik anak agar terbentengi dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) dan pergaulan bebas yang ternyata dampaknya sangatlah mengerikan.

Salah satu pembicara talkshow, dr. Dewi Inong Irana, SpKK memaparkan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Menurutnya, perilaku LGBT 50 kali lebih beresiko terkena penyakit HIV Aids akibat seks anal. Pemerhati dan pegiat edukasi seksual tersebut juga mengatakan bahwasanya perilaku menyimpang LGBT, terutama pria dengan pria, ternyata menyebabkan ketagihan layaknya narkoba.

“Tapi kalau narkoba, cuma dia yang kena (jadi korban-pen). Kalau HIV Aids, istri kena, anak juga kena. Adakah agama yang setuju LGBT? Tidak ada. Perilaku seks bebas, termasuk LGBT (juga) tidak sesuai dengan Pancasila,” ujar dokter alumni UI tersebut.

Di Indonesia, lanjut dr. Dewi Inong, sangat banyak kasus HIV Aids. Bahkan saat ini pemuda tanah air juga harus menghadapi penularan Hepatitis C. Meningkatnya jumlah pengidap dua jenis penyakit mematikan itu bukan lain karena maraknya LGBT. Anak-anak muda adalah korban yang mendominasi.

BACA JUGA:  Belajar dari Rumah, Siswa SMP di Depok Harus Berseragam

Penyebabnya, anak-anak remaja tersebut tak mendapat perhatian orang tua terutama ayah. Ketika terpapar pergaulan bebas dan LGBT, mereka pun dengan mudah mengikuti tanpa tahu resikonya. “Karena bapaknya nggak pernah ngurusin, nggak pernah ngobrol sama anak. Bapak penting sekali dalam hal ini. Ibu juga penting, namun dalam masalah ini bapak sangatlah penting,” kata dr. Dewi.

Lalu bagaimana cara menyelamatkan anak dari LGBT dan pergaulan bebas? Berikut beberapa cara yang dipaparkan dr. Dewi Inong. Cara-cara tersebut hendaknya diterapkan di keluarga, terutama oleh para ayah.

1. Cinta dan Tanyakan Perasaan

Tanyakan pada anak tentang perasaan mereka. Peluk anak dan dengarkan mereka. “Anak ditanya bagaimana perasaannya, bukan ditanya prestasinya bagaimana. Kalau anak ngeluh, tanyalah perasaannya, bukan dimarah. Anak pulang banting tas, dimarahi. Jangan. Tanya perasaannya,” ujar dokter kelahiran Aceh tersebut.

2. Ayah dan Konsep Keluarga

Peran ayah sangatlah penting dalam mengajarkan perihal seks dan pergaulan bebas pada anak. Kedekatan ayah dengan anak dapat menjadi tameng anak saat mengenal perilaku negatif di luar rumah. “Ayo ketahanan keluarga kita mulai, terutama dari bapak. Kebanyakan pasien saya seperti itu, nggak dekat dengan ayahnya, kangen sama ayahnya,” kata dr. Dewi.

BACA JUGA:  Depok Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19

Adapun konsep keluarga, meniru pendidikan di rumah dr. Dewi, beliau terbiasa no gadget di atas jam 8 malam untuk seluruh anggota keluarga. Lalu selepas magrib, setiap hari, ayah memberi nasihat kepada anak-anak. Di hari Sabtu malam hingga Minggu pagi, seluruh keluarga harus kumpul tak ada kegiatan lain selain bersama keluarga.

3. Rapat Keluarga Sebulan Sekali

Cara ketiga, adakan rapat keluarga sekali setiap bulan. Tentu ayah adalah ketua rapatnya. Ayah mengajarkan dan mendidik perihal agama, akhlak, dan segala hal tentang pendidikan anak. Agenda ini juga menjadi sarana orang tua untuk menggali apa saja aktivitas anak di luar rumah, bagaimana pergaulannya dengan teman-teman, apa yang tengah dipikirkan mereka, dan sebagainya.

4. Satu Anak Satu Waktu Seminggu Sekali

Maksudnya ialah mengagendakan aktivitas berdua, ayah dan anak sepekan sekali. Lakukan pada setiap anak, tidak bersama anak lain apalagi bersama ibu. Contohnya, ayah dan salah satu anak pergi berdua makan bakso. Besoknya, pergi dengan anak yang lain makan mie ayam. Satu jam pun cukup untuk agenda rutin ini.

BACA JUGA:  Depok Perpanjang Hapus Denda PBB Hingga 30 September

5. Doktrin Anak

Sedini mungkin, berikan doktrin baik dalam benak anak. Tancapkan pada diri anak agar selalu menjadi anak saleh dan anak manis. “Jangan takut-takuti anak dengan neraka sebelum usia mereka 12 tahun. Sebaliknya, kabarkan terus tentang surga,” tutur dokter yang keliling dunia untuk penyuluhan edukasi seks pada anak dan remaja tersebut.

Selain dr. Dewi, acara talkshow juga dihadiri psikolog Adriano Rusfi. Senada, senior consultant PPSDM tersebut juga menyampaikan pentingnya peran ayah dalam membentengi anak dari perilaku menyimpang. Pendidikan anak bukan hanya kewajiban ibu, namun juga ayah. “Ayah ibu keduanya harus tersedia. Tersedia karena peran. Keluarga itu benteng agama yang paling kuat,” ujar ustadz yang juga Dewan Pakar Masjid Salman ITB.

Kedua pembicara talkshow pun mengajak orang tua, terutama ayah, untuk mendidik anak agar jauh dari perilaku menyimpang LGBT dan pergaulan bebas. Sebagaimana yang dilakukan IPDepok, komunitas lain pun diharapkan dapat menyebarkan edukasi ini kepada masyarakat luas.

Komentar

Berita lainnya