oleh

Produk Ramah Lingkungan Solusi Kurangi Sampah Plastik

Live Update COVID-19 Indonesia

1.986
Positif
181
Meninggal
134
Sembuh

Live Update COVID-19 Dunia

1.021.037
Positif
53.458
Meninggal
214.803
Sembuh

Dunia dibuat resah lantaran produksi sampah terus mengalami peningkatan mencapai 2, 01 miliar ton setiap tahunnya. Jika terus dibiarkan, pada tahun 2050 diperkirakan sebanyak 3, 40 miliar ton sampah akan memadati bumi (The World Bank. (2019)). Plastik menjadi salah satu yang mendominasi tingginya produksi sampah di seluruh negara. Indonesia sendiri menjadi penyumbang sampah plastik ke-2 di dunia dengan total sampah yang dihasilkan mencapai 64 juta ton per tahun (Portal Informasi Indonesia. (2019)).

Sampah plastik merupakan sisa kegiatan manusia yang sudah tidak terpakai dan membutuhkan penanganan khusus karena sulit terurai. Sampah jenis ini masuk kategori non organik karena sukar membusuk dan berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti mineral dan minyak bumi. Jenis sampah ini juga membutuhkan waktu lama untuk terurai sekitar 80-100 tahun (Kementerian Pekerjaan Umum. (2010)).

Alasan utama yang mendorong penggunaan plastik sangat diminati masyarakat karena materialnya multifungsi, ringan, mudah dibentuk, tidak mudah pecah, dan murah (Tupperware. (n.d)). Keunggulan itulah yang membuat dunia berlomba-lomba menghasilkan produk berbahan baku plastik. Namun, tanpa kita sadari penggunaan plastik secara berlebihan inilah yang merusak lingkungan dan berdampak buruk bagi kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak yang ditimbulkan sampah plastik tak main-main bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Pengelolaan sampah dengan cara dibakar akan mencemari lingkungan dan asap yang terhirup mengakibatkan gangguan pernapasan serta penyakit lainnya. Sampah plastik yang dibuang sembarangan juga tak kalah besar dampaknya karena mempengaruhi kualitas air, mencemari tanah, pendangkalan sungai, serta penyumbatan saluran pembuangan yang jika terus dibiarkan akan menyebabkan banjir (Dewi dan Raharjo. (2019)).

Merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah di Indonesia dilakukan melalui pengurangan dan penanganan terhadap sampah yang ada melalui pembatasan timbulan sampah, pendaur ulang dan pemanfaatan sampah kembali. Selain melalui perundangan, pemerintah juga merencanakan penerapan kebijakan cukai plastik yang diharapkan efektif mengendalikan peredaran plastik (Kementerian Keuangan. (2019)). Beberapa kementerian internal seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Kementerian Perindustrian juga melakukan kampanye terkait pembatasan penggunaan plastik. Digandengnya pula dua organisasi Islam terbesar yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk menandatangani deklarasi pengendalian sampah plastik (Portal Informasi Indonesia. (2019)). Namun, itu semua tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran dalam diri masyarakat untuk mengurangi sampah plastik.

Produk ramah lingkungan jadi solusi alternatif yang dapat digunakan masyarakat untuk mengguragi sampah plastik. Pembuatan produk ramah lingkungan sangat memperhatikan keselamatan lingkungan dan manusia. Produksinya menggunakan material yang dapat dibudidayakan secara berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan baik ketika produksi, penggunaan, maupun pembuangan sehingga mampu mengurangi kebutuhan akan bahan baku baru dan jumlah sampah yang ada (All-Recycling-Facts. (2016)).

Berbagai dukungan datang dari pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi produksi sampah plastik. Baik di dalam dan luar negeri, inovasi terus diciptakan untuk menghasilkan produk yang efektif dan efisien mengurangi sampah plastik diantaranya sedotan yang terbuat dari stainless steel atau bambu, kantong belanja yang terbuat dari kain atau serat ketela (cassava), sikat gigi dan alat makan dari bambu serta penggunaan tumblr (botol minum) dalam kehidupan sehari-hari (Natasha. (2019)). Dengan ini produk ramah lingkungan menjadi solusi terbaik untuk mengurangi produksi sampah plastik di dunia dan dengan menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari kita turut membantu menyelamatkan bumi tercinta.

Oleh: Via Aulia Effendi
Mahasiswa Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Komentar

Berita lainnya