oleh

Migrasi di Xinjiang dan Masalah Ketimpangan Uighur

Xinjiang, bencana yang diterimanya tak kunjung padam. Salah satu provinsi terbesar di Tiongkok yang memiliki banyak kekayaan alam ini, terpaksa dihadapkan kepada tindakan represif oleh rezim yang sedang berkuasa. Sampai-sampai kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama warga Uighur diblokade. Namun nampaknya, akar permasalahan Uighur tidak sesederhana itu. Aspek lain bernama migrasi turut mempengaruhi problematika yang tengah dihadapi Uighur.

Migrasi memiliki keunikan tersendiri. Karena uang yang dibawa oleh migran kembali ke kampung halamannya atau remitansi, memberikan ekonomis untuk sang migran. Enaknya orang migran seperti orang han yang membawa remitansi akan terhindar dari jumlah pendapat ekonomi yang kecil. Sebaliknya, daerah pengirim migrasi dan remitansi yang akan terkena imbas dari ketimpangan pendapatan di daerah pengirim .

Wajar saja jika banyak orang Han yang berlomba-lomba untuk menempati Xinjiang. Xinjiang, tidak seperti sebagian besar barat Tiongkok, merupakan wilayah otonom nan makmur yang menempati posisi ke-14 dari 31 di Cina sebagai provinsi yang memiliki kualitas pembangunan manusia terbaik. Sehingga pendapatan ekonomi Han pun terjamin tinggi.

Seorang anak laki-laki mengendarai kuda di Desa Qiong Ku Shi Tai di Yili, Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, pada 8 Juni 2015. (Foto: theatlantic.com)

Rencana Lima Tahun ke-10 (2001–2005) pemerintahan Tiongkok mendorong orang-orang untuk bermigrasi ke Xinjiang. Salah satu programnya, yakni “Pembangunan Barat” atau xibu dakaifa diterapkan untuk mempercepat pengembangan wilayah tengah dan barat Tiongkok serta mengurangi ketidaksetaraan regional. Dalam program itu, pemerintah melakukan investasi besar dalam infrastruktur Xinjiang. Alhasil, terciptalah lapangan kerja yang pada akhirnya menarik minat migran berkelena ke Xinjiang.

BACA JUGA:  Apa Itu Literasi ?

Selain itu, reformasi ekonomi Tiongkok yang dimulai pada akhir tahun 1970-an telah menciptakan lapangan kerja baru secara massal di kota yang ada di Xinjiang. Sistem hukou atau perubahan pendaftaran rumah tangga turut menghilangkan hambatan migrasi yang selama ini meresahkan pendatang luar Xinjiang. membuat perubahan pada pendatang – baik Han maupun non-Han – untuk pindah ke tujuan dengan peluang kerja, termasuk Xinjiang.

Lihat saja pertumbuhan penduduk Han yang begitu di Xinjiang. Pada tahun 1949, populasi Han Xinjiang hanya sedikit, yaitu sebanyak 291.000 jiwa dari total 4.333.400 penduduk di Xinjiang . Namun hingga akhrinya pada hari ini, jumlah orang Han di Xinjiang menyamai jumlah penduduk Uighur, dengan komposisi suku masing-masing sebesar 45,21% dan 40,58%.

Saat ini pula, 53,4% orang Han lebih memilih untuk menentukan nasibnya di perkotaan Xinjiang yang notabenenya bisa membuat dompet semakin makmur. Sebagai responnya, 80% orang Uighur lebih memilih menempati daerah pedesaaan atau kota yang lebih miskin di Xinjiang selatan . Tepatlah jika kita mengatakan orang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

BACA JUGA:  Akankah Generasi Milenial Bangkrut Di Masa Pensiun?

Sebut saja petani Uighur dan petani Han, ketimpangan pendapatan diantara keduanya jelas sekali terlihat. Buktinya pada tahun 1993, pendapatan petani Uighur rata-rata hanya 732 yuan. Nilai ini sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan petani Han yang pendapatannya mencapai 2.680 yuan.

Seorang petani memanen di ladang tanaman di Yili, Xinjiang, pada 3 Oktober 2015. (Foto: theatlantic.com)

Pannell dan Schmidt (2006) mengamati bahwa Uighur biasanya tidak dilibatkan untuk bekerja di sektor pasar industri dan sektor layanan energi. Beberapa orang Uighur yang yang bekerja di Xinjiang Utara, terbawa hukum alam yang memaksakan mereka untuk bekerja sebagai pedagang kecil dan sektor informal yang pendapatannya sangat kecil.

Secara psikologis, orang Uighur sendiri memilih tidak bersaing dengan Han yang bekerja di industri restoran, layanan dan pekerjaan menantang lainnya yang menguntungkan profit. Malahan orang Uighur lebih memilih bertahan di sektor yang sangat kompetitif di mana kelangsungan hidup sangat sulit. Mereka melakukan ini karena sering mendapatkan label ‘tidak bisa bekerja sekeras orang Han’ dan lain sebagainya .

Kebijakan pemerintah Tiongkok yang secara strategis memotivasi orang Han untuk bermigrasi ke Xinjiang utara telah mendorong pertumbuhan ekonomi di sana, namun memperlebar jurang antara pendapatan Xinjiang utara dan selatan.

BACA JUGA:  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

Pendapatan Xinjiang utara yang sudah sangat tinggi ini kemudian memotivasi warga Uighur dari Xinjiang selatan untu mengejar peluang ekonomi di wilayah perkotaan yang sekarang didominasi oleh Han, yakni Xinjiang Utara.

Para siswa di sebuah sekolah dasar di daerah Uqturpan, Xinjiang pada 3 Mei 2012 dengan latar belakang kalimat propaganda dalam karakter Tionghoa di atas papan tulis di dinding bertuliskan, “Selalu bersiaplah untuk berjuang demi komunisme”. (Foto: theatlantic.com)

Kita tahu sejak 1980-an, arus migrasi besar-besaran yang diatur negara sudah mereda, meskipun negara masih terus memfasilitasi migrasi Han ke Xinjiang. Melihat peluang pendapatan yang tinggi di Xinjiang utara maupun Xinjiang selatan, migran Han inisiatif untuk berpindah ke kota makmur itu untuk meningkatkan penghasilan mereka.

Migrasi Han yang mengubah struktur demografis wilayah tersebut secara dramastis, mengubah Uighur menjadi minoritas pada akhir 2000-an. Walau Han membantu pertumbuhan ekonomi Xinjiang. persaingan pasar tenaga kerja intra-nasional yang terjadi antara Han dengan Uighur membuat Uighur merasa terancam.

Karena bagi Uighur, yang dilakukan Han adalah tindakan eksploitasi kekayaan yang dimiliki Uighur sejak kandung dalam rahim. Patut dimaklumi jika Uighur merasa dirinya terkena ‘diskriminasi sistematis’ oleh pemerintah Tiongkok, melihat migrasi Han menjadi bencana bagi Uighur.

Habibah Auni
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada

Komentar

Berita lainnya