oleh

6 Fakta Seputar Ular Kobra yang Teror Depok

Kota Depok mendadak digegerkan dengan fenomena banyaknya ditemukan anakan ular kobra baik di pemukiman warga. Sabtu lalu (14/12), bahkan warga menangkap 5 anak kobra di pasar kemirimuka, Beji.

Masih belum diketahui fenomena apa yang membuat ular berbisa yang mematikan ini banyak ditemukan di Depok yang sebelumnya sangat jarang ditemukan. Karena sudah meresahkan warga, maka Pemkot pun mengambil langkah. Selain melakukan kajian, pihaknya akan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk mengungkap fenomena tersebut.

“Bersama-samalah, pihak Damkar dalam hal ini yang selalu ada siap siaga membantu masyarakat, terus ada pihak Kepolisian juga, pihak komunitas intelijen daerah sebenarnya ini ada apa, fenomena alam atau apa,” tegasnya.

Berikut 6 fakta terkait kobra Jawa seperti yang disampaikan oleh peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy:

Habitat kobra jawa

Kobra jawa lazim menghuni habitat seperti perbatasan hutan yang terbuka, savana, persawahan hingga pekarangan. Ular berbisa ini menyukai suhu ruangan yang hangat dan lembab untuk tempat menetaskan telur.

Musim kawin berlangsung di saat kemarau, antara Agustus hingga Oktober. Telur kobra diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembap. Telur-telur tersebut akan menetas dalam rentang waktu 88 hari.

BACA JUGA:  Komunitas Pemuda dan Ormas Muslim di Depok Bersatu Tolak LGBT

Hampir semua jenis ular, termasuk kobra jawa pada periode tertentu akan meninggalkan telur-telurnya dan membiarkan telur tersebut menetas sendiri. “Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” tambah Amir.

Tidak adanya pemangsa alami ular kobra

Selain faktor musim penetasan, menurut Amir, kemungkinan bertambahnya populasi anakan kobra juga bisa karena ketiadaan predator alami seperti biawak dan elang yang sudah tidak bisa ditemui di sekitar pemukiman warga. Pulau Jawa sadalah habitat asli dari ular kobra sebelum adanya perubahan pada tempat mereka biasanya tinggal untuk pembangunan jalan dan pemukiman manusia serta aktivitas-aktivitas lain yang merusak habitat asli mereka.

Hanya 5 persen anak kobra yang bertahan hidup

Saat musim hujan seperti ini, ujar Amir, populasi anakan kobra jawa memang akan meningkat dengan cepat tapi kemungkinan akan bertahan hidup menjadi kobra dewasa sendiri hanya sekitar 3-5 persen dari total populasi yang menetas di sekitar pemukiman manusia.

BACA JUGA:  Siaga Bencana, Baraya Care Gelar Pelatihan BLS

“Karena ada seleksi alam. Kobra untuk sampai usia dewasa itu bisa satu setengah sampai dua tahun. Selama periode itu dia butuh makan, butuh bertahan hidup. Kalau itu tidak disediakan, dia tidak akan bisa bertahan hidup,” tegas Amir.

Panjang kobra jawa capai 1,8 meter

Ular ini berukuran rata-rata 1,3 meter dan bisa mencapai ukuran panjang 1,8 meter. Sekali bertelur induk betina ular kobra jawa dapat menghasilkan 10 sampai 20 butir telur. “Begitu menetas, anakan kobra akan menyebar ke mana-mana,” katanya.

Karenanya masyarakat perlu mewaspadai fenomena munculnya anak-anak ular kobra di beberapa pemukiman seperti di Bogor, Bekasi, Jember, Jakarta Timur, Klaten dan Yogyakarta.

Kobra jawa mampu menyemprotkan bisa

Terdapat dua jenis ular kobra di Indonesia, yakni kobra sumatra atau Naja sumatrana yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan dan kobra jawa atau Naja sputarix yang terdistribusi di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Pulau Rinca, Sumbawa dan Flores. Ular kobra jawa berbahaya karena memiliki kemampuan meyemprotkan bisa.

BACA JUGA:  Siaga Bencana, Baraya Care Gelar Pelatihan BLS

Kobra jawa dikenal sangat defensif dan lekas menyemburkan bisanya apabila merasa terganggu. Ular ini hidup di atas tanah (terestrial) dan aktif di malam hari (nokturnal). Mangsa utamanya adalah mamalia kecil seperti tikus, namun ia pun tak keberatan untuk menangkap kodok, ular lain, dan juga kadal untuk makanannya.

Epidemi ular kobra mengikuti siklus banjir, badai dan invasi habitat ular untuk pembangunan jalan, irigasi dan penebangan hutan. Aktivitas-aktivitas menyebabkan perubahan jangka panjang pada iklim dan ekologi dan mendorong mereka masuk pemukim manusia.

Kobra jawa kerap diperdagangkan

Kobra jawa juga tercantum dalam Apendiks II CITES; yang berarti bahwa spesies ini saat ini belum terancam kepunahan, namun akan terbahayakan populasinya apabila perdagangannya tidak dikendalikan dengan ketat. Ular ini memang banyak ditangkap dan diperdagangkan untuk kulitnya, dan kadang-kadang juga untuk dijadikan hewan timangan (pet). Di beberapa kota di Jawa, termasuk di Jakarta seperti yang banyak ditemui di kawasan Glodok, ular ini juga dijual untuk darah dan dagingnya yang dimanfaatkan sebagai obat. (San/dari berbagai sumber)

Komentar

Berita lainnya