oleh

Twitter Meluncurkan Cara Untuk Melaporkan Penyalahgunaan Fitur Lists

-Tekno-245 views

Seperti banyak hal yang ditemukan di platform media sosial saat ini, fitur Lists pada Twitter diperkenalkan tanpa memikirkan dampaknya pada sebagian kelompok, atau bagaimana hal itu dapat digunakan untuk pelecehan atau pengintaian jika digunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab. Twitter mengambil langkah untuk mengatasi masalah itu dengan meluncurkan fitur pelaporan baru yang secara khusus membahas penyalahgunaan Lists Twitter.

Fitur ini diluncurkan pertama kali di iOS, dan akan segera hadir untuk Android dan web, menurut Twitter.

Mirip dengan melaporkan tweet yang kasar, pengguna Twitter dapat mengetuk ikon tiga titik di sebelah Lists yang dimaksud, kemudian pilih “Laporkan.” Dari layar berikutnya, pengguna dapat memilih “ini (konten) kasar atau berbahaya.” Twitter juga akan meminta informasi tambahan pada saat pengguna melaporkan dan akan mengirim email konfirmasi penerimaan laporan, bersama dengan rekomendasi lain tentang bagaimana mengelola pengalaman Twitter pengguna.

BACA JUGA:  Instagram Akhirnya Tetapkan Batas Usia Pengguna

Lists Twitter telah disalahgunakan selama bertahun-tahun, karena fitur ini menjadi cara lain untuk menargetkan dan melecehkan orang – terutama perempuan dan kelompok minoritas lainnya. Lists ini digunakan sebagai cara untuk menghindari pemblokiran tweet yang kasar, hal itu disebabkan karena Twitter kurang memperhatikan fitur Lists ini.

Twitter telah menyadari masalah ini selama bertahun-tahun. Kembali pada tahun 2017, Twitter mengatakan tidak akan lagi memberi tahu pengguna ketika mereka telah ditambahkan pada suatu Lists, hal ini merupakan upaya untuk mengurangi pemberitahuan yang seringkali mengecewakan. Twitter kemudian menarik keputusan tersebut setelah orang-orang berargumen bahwa pemberitahuan itu adalah salah satu cara bagaimana mereka mempelajari Lists berbahaya macam apa yang mereka telah masuk di dalamnya.

Terlepas dari pemahaman Twitter tentang bagaimana Lists disalahgunakan, belum ada fitur yang bagus untuk menghapus daftar penyalahgunaan dari Twitter itu sendiri – pengguna hanya bisa memblokir pembuat Lists tersebut.

BACA JUGA:  Oppo dan Telkomsel Uji Coba Panggilan 5G Pertama di Indonesia

Twitter telah mengakui bahwa terlepas dari ketersediaan alat pelaporannya dan kecepatan yang semakin meningkat untuk menangani laporan penyalahgunaan, masih ada terlalu banyak tekanan pada orang untuk menyadari penyalahgunaan untuk diri mereka sendiri. Perusahaan mengatakan ingin mencari cara untuk menjadi lebih proaktif – hari ini, mayoritas tidak ditandai oleh pemahaman teknologi (hanya 38%), tetapi oleh laporan dari pengguna.

Twitter, seperti perusahaan teknologi lainnya, telah berjuang dengan kurangnya keragaman, yang berarti ada kekurangan besar terhadap pemahaman tentang bagaimana fitur dapat diputar untuk digunakan dengan cara yang tidak diinginkan. Meskipun data keragaman Twitter telah membaik, Twitter pada saat ini memiliki 40,2% perempuan, tetapi hanya 4,5% berkulit hitam, dan 3,9% orang latin.

Masalah lain dengan Twitter – dan media sosial secara umum – adalah ada jarak antara pelaku dan korban pelecehan. Yang terakhir ini sering tidak dilihat sebagai orang sungguhan, melainkan pengganti yang dimaksudkan untuk meluapkan ketidakpuasan, kemarahan, atau kebencian seseorang. Dan berkat anonimitas platform, di media sosial saat ini banyak bertebaran fake account sehingga tidak ada konsekuensi nyata di dunia untuk perilaku buruk di Twitter dan media sosial lain seperti yang akan terjadi jika hal-hal yang sama kebenciannya dikatakan di tempat umum.

BACA JUGA:  Kesederhanaan dalam YouTube Rewind 2019

Akhirnya, tren Twitter ini telah menyebabkannya menjadi tempat untuk bersikap sarkastik, sinis, dan bercanda dengan mengorbankan orang lain – sebuah tren yang didorong oleh kerumunan pengguna Twitter yang produktif tetapi kecil. Tujuannya tentu untuk “tampil” di Twitter, dan mengumpulkan like dan retweet secara terus-menerus. (Fajar Tri Akbar)

Komentar

Berita lainnya