oleh

Seminar Bulan Bahasa 2019 SMK se-Kota Depok; Cinta Bahasa dan Sastra Melalui Karya

Sebagai wujud kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, SMK Informatika Utama PLN dan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Depok menggelar acara Seminar Nasional Bulan Bahasa 2019. Acara yang dibuka oleh Warsono, GM PT PLN Jawa bagian Barat dan Zaenuddin M.Pd., Camat Limo Kotamadya Depok memgangkat tema “Mencintai Bahasa dan Sastra melalui Karya” dengan pembicara tunggal Syarifudin Yunus, Dosen Unindra – penulis buku dan pegiat literasi Indonesia pada Sabtu, 2 Novemebr 2019 di Aula PLN Limo Depok.

Seminar yang bertujuan menumbuhkan sikap cinta terhadap Bahasa Indonesia dan melatih praktik menulis iikuti oleh 120 peserta, baik guru, mahasiswa maupun siswa SMK di Kota Depok. Ikut hadir Endang Sutisna, S. Pd (Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMK se-Depok), Suherman, M. Pd. (Kepsek SMK Informatika Utama), Hermawan Istiono (YBM PLN), dan Faiza (Ketua Panitia Bulan Bahasa 2019). Semua peserta seminar dilatih untuk menulis sebagai ekpresi ide dan gagasan secara konkret. Di samping untuk membangun budaya literasi di kalangan SMK se-Depok. Karena secara prinsip, bila terbiasa bicara maka tidak ada alasan untuk tidak dituliskan.

Acara yang mendapat apresiasi dari Walikota Depok melalui Camat Limo ini pun menjadi bagian untuk mengkampanyekan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Bahkan PT PLN pun memberikan dukungan penuh kegiatan Festival Bulan Bahasa 2019 yang juga memperlombakan 1) Debat Bahasa yang dijuarai SMK Informatika Utama, 2) Musikalisasi Puisi dijuarai SMK Wali Songo, dan 3) Lomba Desain Poster yang dijuarai siswa SMK Informatika Utama.

BACA JUGA:  Majelis Ta'lim Nurrusyabaab Gelar Lomba Futsal Nurussyabaab CUP

“PT PLN sangat mendukung kegiatan seminar linguistik ini. Sebagai wujud kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, di samping membangun budaya menulis pada siswa dan sekolah. Inilah kegiatan positif yang harus terus digalakkan di sekolah” ujar Warsono, GM PT PLN saat memberikan sambutan.

Dalam kesempatan ini, Syarifudin Yunus selaku narasumber pun membimbing semua peserta seminar untuk langsung menulis. Tujuannya, agar siswa, mahasiswa, maupun guru menjadikan menulis sebagai perilaku nyata. Sehingga budaya literasi di sekolah lebih mudah digalakkan. Dan terbukti, sebagian besar peserta sangat antusias untuk menulis. Menjadi lebih mudah dalam menuangkan ide dan gagasan secara tertulis. Karena hakikatnya, tulisan hanya bisa terwujud bila ditulis, bukan dipikirkan.

BACA JUGA:  DPAPMK Lakukan Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Ramah Anak di SMPN 3 Depok

Melalui seminar ini, peserta diajak praktik menulis. Dengan mencari 1 kata yang disukainya berdasar sumber tulisan dari 1) pengetahuan, 2) pengalaman, atau 3) perasaan. Setelah itu, dikembangkan menjadi paragraf dan membacakan hasil tulisannya. Mudah bukan hanya mudah. Tapi juga harus mampu menjadi saran ekspresif yang bisa menghasilkan income bila ditekuni dan dibiasakan setiap hari.

“Menulis adalah perilaku penting yang harus dibangun pada diri siswa dan menjadi budaya di sekolah. Karena itu, langkah menulis yang paling mudah adalah 1) menulis dari sekarang, 2) menulis yang banyak, 3) menulis sebagai kebiasaan, 4) menulis dengan tujuan, dan 5) menulis hingga tuntas” ujar Syarifudin Yunus dalam paparannya.

Maka terbukti, melalui seminar bulan bahasa 2019 ini, setiap siswa, mahasiswa, dan guru bisa menulis. Asal dipandu dengan cara sederhana dan menarik. Inilah kegiatan literasi yang harus terus dikembangkan di sekolah. Sehingga siswa atau mahasiswa bisa lebih baik dalam menulis dan berkomunikasi.

BACA JUGA:  Ponpes Daarussalaam Latih Kemampuan Pramuka Lewat Scout Extra Ordinary IV

Para guru SMK se-Kota Depok pun menyadari akan pentingnya membangun budaya literasi, khususnya membaca dan menulis. Dan unnuk itu, harus dimulai dari siswa dan guru. Sehingga nantinya, membaca dan menulis menjadi tradisi yang melekat di sekolah. Sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan setidaknya harus mampu menjadi miniatur masyarakat dalam kegiatan literasi. Karena itu, tradisi membaca dan menulis harus ditumbuhkan lebih konkret di sekolah.

Seminar ini pun menegaskan. Bahwa menulis bukan soal bakat. Tapi soal gaya hidup yang harus dibiasakan. Menulis pun bukan soal benar atau salah. Tapi menulis adalah keberanian untuk direalisasikan. Siapapun boleh memiliki ilmu setinggi langit. Tapi bila tidak ditulis maka itu sia-sia. Seperyi kata Ali bin Abi Talib “ikatlah ilmu dengan menulis.

Komentar

Berita lainnya