oleh

Lihat dan Peduli Teman Depresi di Sampingmu

-Opini-364 views

Depresi adalah gangguan kesehatan yang sudah umum dan sudah menjadi kata yang tidak asing lagi terutama bagi warga Indonesia. Depresi benar benar merajalela tidak hanya di kalangan remaja tetapi juga pada orang dewasa. Kita yang kurang membuka mata dan mendengarkan mereka yang menderita depresi sekarang harus lebih peka dan peduli dengan orang orang disekitar kita yang mebutuhkan bantuan.

Faktanya, yang di katakan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eka Viora, di website gaya.tempo.co, mengatakan, di Indonesia prevalensi penderita depresi adalah 3,7 persen dari populasi. “Jadi sekitar 9 juta orang yang mengalami depresi, dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa,” kata Eka dalam perayaan hari kesehatan dunia dengan tema ‘Depression: Let’s Talk’ Jakarta, medio 2017 lalu.

Apasih penyebab depresi itu sendiri?

Dra. Diena Haryana, M.A. Seorang Dosen, life coach, sekaligus founder of SEJIWA foundation menyebutkan bahwa menurutnya depresi sendiri datang dari beberapa factor. Peimicu yang paling banyak terjadi biasanya adalah perbedaan kenyataan yang terjadi dengan ekspetasi yang kita pikirkan. Hal hal yang kita harapkan untuk terjadi, justru berbeda pada kenyataannya. Harapan yang kita impikan tidak terjadi. Kemudian kecanduan atau adiksi terhadap sesuatu dan tidak dapat keluar dari zona tersebut. Kasus yang paling sering adalah kecanduan akan gadget sehingga memiliki dunia sendiri dalam gadget. Selain itu, memiliki kejadian yang traumatis juga dapat menimbulkan depresi. Hal hal sederhana seperti ini yang nantinya akan menumpuk dalam otak kita, menimbulkan stress dan kemudian terjadilah depresi.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Penderita depresi, seorang millennial, sebut saja namanya Rudi mengatakan bahwa hal yang membuat dia depresi dimulai dari kecewa terhadap diri sendiri, kecewa terhadap orang lain, kecewa karena tidak dapat memenuhi tujuan yang diinginkan, hingga merasa sendiri dan tidak punya siapa siapa.

“ belum lagi di saat depresi, malah dianggap ga penting dan lebay” lanjut Rudi saat di wawancara. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa kita sebagai masyarakat yang belum menganggap serius dalam kasus kasus depresi yang melanda.

Ciri ciri orang depresi

Tidak banyak orang orang mau menunjukkan depresinya karena mereka tidak mau dianggap lemah dan mereka juga tidak nyaman dengan orang lain mengetahui masalah mereka. Orang yang mengalami depresi cenderung sensitive, Mudah menangis, mudah panik, mudah juga marah yang meledak ledak.

Mereka yang biasanya ceria, tiba tiba mulai menyendiri dan menjadi tertutup. Hobi hobi yang dulu suka mereka lakukan pun mulai ditinggalkan seolah sudah tidak memiliki minat akan apapun, Merasa sendiri saat berada disamping teman teman. Bahkan sampai melakukan tindakan tindakan yang akan merugikan seperti melukai diri sendiri. “disaat depresi, saya melakukan cutting sebagai pelarian” kata Rudi. Cutting yang di maksud oleh Rudi adalah menyayat bagian tubuh menggunakan alat yang tajam. Tentunya ini sangat bahaya dan merugikan. Bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang orang terdekat seperti orang tua. Mereka cenderung menutupi dan tetap terlihat ceria di depan umum seolah tidak terjadi apa apa. Mereka memasang senyum dan ekspresi ceria yang palsu.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Apasih yang dapat kita lakukan untuk menolong mereka yang depresi?

Kejadian terburuk bagi orang orang yang depresinya sudah parah adalah mereka dapat memikirkan keputusan untuk bunuh diri. Memang miris dan sedih yang dilakukan orang orang depresi. Oleh karena itu, ada baiknya kita peka terhadap orang orang yang mengalami depresi disekitar kita. Jika hal ini terjadi pada temanmu, maka hal hal yang dapat kamu lakukan antara lain pahamilah mereka. Ajak mereka untuk cerita. Tunjukkan bahwa kamu peduli dengan mereka dan tunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Karena orang orang yang depresi butuh di perhatikan. Mereka butuh ditemani dan didengarkan.

Kemudian kamu juga dapat mengajak mereka untuk melakukan aktivitas aktivitas positif yang mereka sukai seperti berolahraga, bermain,bernyanyi, belajar, dan kegiatan kegiatan lain karena mereka yang depresi cenderung meninggalkan hobi dan aktivitas yang dulu biasanya mereka lakukan. Inilah yang dinamakan psychological first aid yang dapat dilakukan oleh orang orang terdekat. Selain itu kita juga dapat mengingatkan mereka untuk tidak terlalu sering bermain gadget karena gadget dapat membuat depresi menjadi semakin buruk.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Mereka yang kecanduang bermain gadget kemudian akan memiliki dunia sendiri dan meninggalkan aktivitas di dunia nyata. Mereka juga akan kehilangan kemampuan berinteraksi dengan orang orang baru disekitarnya. Mereka akan semakin menyendiri dan hidup dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri dalam gadget. Dengan melakukan hal hal tersebut, orang orang yang awalnya berpura pura tersenyum di depan, lambat laun akan melupakan masalah masalah mereka dan perhatian mereka akan teralihkan dengan aktivitas aktivitas positif yang ada di dunia nyata. Hal ini akan mempercepat pemulihan mereka dari depresi untuk kembali ke normal lagi.

Hidup memang tidak sempurna. Kita sebagai manusia tidak hidup seperti cerita Cinderella dalam dongeng yang akan bahagia selamanya. Kita semua merasakan bahagia, kadang kita juga akan merasakan kesedihan. Kadang kita berhasil, tetapi kita juga akan gagal. Kita semua pasti memiliki masalah masing masing, tetapi cara kita dalam mengatasi masalah tersebut yang berbeda beda. Hidup itu tidak seburuk yang kita pikirkan. Seperti yang dikatakan oleh Dra. Diena Haryana, M.A. “sometimes we think that life is too much just because we don’t do much”

Ditulis oleh Trixie Laurencia

Komentar

Berita lainnya