oleh

Apasih Maumu?

-Opini-725 views

Oleh: Dian Salindri, Anggota Tim Komunitas Muslimah Menulis Depok

Cadar itu kamu bilang budaya Arab, disandingkan dengan radikalisme. Lalu apakah tidak kepikiran suatu saat kaum Arab ini protes dan bilang bahwa cadar itu bukan budaya milik mereka. Coba sekali-kali kroscek bagaimana pakaian wanita Arab sebelum masa Islam. Ada imam yang mewajibkan, ada yang sunah ada yang mubah tapi enggak ada yang mensyariatkan bercadar itu haram.

Berpakaian syar’i juga bikin kamu resah. Gak cuma itu, celana cingkrang bikin kamu kebakaran jenggot, eh maaf kamu enggak piara jenggot karena kata kamu jenggot itu radikal juga toh. Semua hal yang bagi kami adalah bentuk takwa dan bentuk taat kami kepada Sang Pencipta juga segala bentuk cinta kami kepada Rasulullah SAW sangat membuatmu resah. Kamu ingin membatasi ketaatan kami dengan memaksa para aparatur negara agar tak lagi bercadar dan bercelana cingkrang. Padahal celana model itu lagi nge-hits banget lho di kalangan anak-anak remaja korean wave, kalau yang itu kamu bilang radikal enggak?

BACA JUGA:  Akhwat atau Cewek ?

Yang taat kamu bilang mereka mabok agama, tapi yang buka aurat kamu bilang “otakmu aja yang porno.”Yang wajahnya tertutup kamu bilang bukan budayamu, tapi yang dada terbuka bagimu itu sudah biasa, lalu apa maumu, mau dibawa ke mana generasi muda ini kalau bagi kaum muda yang menjaga batasan antara yang mahram dan yang bukan kamu bilang itu berlebihan. Marimar lelah fernando… sungguh!!!

BACA JUGA:  Lihat dan Peduli Teman Depresi di Sampingmu

Enggak sampai situ aja, kata kafir seketika kamu bilang itu intoleran, padahal kata itu ada dalam Al-Qur’an. Jadi sama saja kamu bilang Allah itu intoleran kah? Entah apa yang merasukimu, seakan kamu enggak peduli dengan apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Seakan aturan dalam Al-Quran itu layaknya sajian prasmanan, yang bisa kamu ambil apa yang kamu suka dan kamu cibir apa yang enggak kamu suka, oh tidak bisa begitu fernando,,, sungguh tak bisa…

Lagi-lagi engkau kumat, Sekarang engkau menggodok aturan agar doa yang dilantunkan di masjid-masjid tak lagi memakai bahasa Arab, demi menjaga rasa nasionalisme doa haruslah dilantunkan dalam bahasa Indonesia. Baiklah, berarti nanti di sekolah berbasis Islam tak lagi perlu ada pelajaran bahasa Arab, atau jangan-jangang… (isi sendirilah)

BACA JUGA:  Akhwat atau Cewek ?

Kamu juga memberi stempel pada beberapa ulama yang kamu bilang tidak pancasilais, tidak nusantarais dan is is is lainnya. Ceramah dibatasi, dijegal dan dibatalkan, karena eh karena…karena kamu merasa paling benar. Ah masih banyak lagi kisah kisruh lainnya. Aku tak kuasa lagi menahan resah di hati dan inilah sedikit ungkapan keresahan itu. Dan inginku bilang, “Apasih Maumu? Entah apa yang merasukimu…..” (terdengar backsound dari kejauhan) []

Komentar

Berita lainnya