oleh

Surat Cinta kepada Pelajar Indonesia

-Opini-653 views

Oleh: Hariqo Wibawa Satria

Tahun 1969 internet dicetuskan, orangtua kalian belum menikah. 1990 internet merembes ke Indonesia, kalian belum lahir. 1997-1998 muncul weblog dan google, kalian juga belum lahir.

2004 facebook didirikan, kalian sudah lahir. 2007 facebook masuk Indonesia, foto kalian dibicarakan di dalamnya. Marc Prensky menyebut kalian “pribumi digital,” karena lahir saat internet berkembang pesat.

Selama 11 tahun (2007 – 2018) kalian disepelekan. Dianggap PHUBBING, karena sering main HP ketika kumpul keluarga. Dituding FOMO (fear of missing out), sebab setiap diajak pulang kampung, kalian bertanya “ada internet gak di sana?”. Kalian juga dicap SLACKTIVISM, lantaran hanya bisa like, komen, dan share di medsos, tanpa ada keberanian protes ke jalan, kecuali untuk tawuran.

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Anehnya, selama 11 tahun direcehkan, kalian tidak turun ke jalan. Kalian baru turun ke jalan ketika para elit politik memproduksi ketidakadilan. Kalian dituding dibayar, padahal yang dibayar besar adalah para pejabat yang menyepakati ketetapan itu.

Perjuangan kalian bersama para mahasiswa bisa membuat orang baik di lingkaran kekuasaan menjadi berani. Perjuangan kalian menjadikan para orangtua berubah optimis, karena ternyata generasi penerus Indonesia adalah manusia merdeka.

Perjuangan kalian menutupi kekhawatiran kami terhadap kualitas pengawasan anggota DPR/DPRD/DPD hasil pemilu 2019.

Namun mengapa saat berjuang, kalian malu dipotret atau diwawancarai?. Aku penasaran, lalu kulacak postingan medsos tahun 2007-2010. Banyak doa dan komentar pada foto kalian saat balita.

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Semua mendoakan kalian jadi orang bermanfaat, tidak satupun mendoakan agar kalian jadi orang terkenal. Oh.. barulah aku paham, mengapa kalian sembunyikan wajah dengan bendera merah putih yang fotonya viral itu.

Wahai para pelajar, berterima kasihlah pada para mahasiswa yang menginspirasimu.

Ingat, lawan kalian bukan Jokowi atau oposisi. Lawan kalian bukan TNI dan POLRI, lawan kalian bukan eksekutif, legislatif dan yudikatif, lawan kalian bukan radikalisme, komunisme, tapi lawan kalian adalah ketimpangan ekonomi (rasio gini), oligarki, korupsi yang sumbernya ketidakadilan, akibat pudarnya sifat-sifat Tuhan dalam jiwa para pemimpin.

Ketidakadilan bisa muncul dari cara kalian berpikir, maka lawanlah cara berpikir tidak adil itu. Ketidakadilan bisa diciptakan oleh penguasa dan siapapun, maka lawan ketidakadilan itu.

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Bangunlah parlemen pelajar di seluruh kota/kabupaten di NKRI untuk menghadapi ketidakadilan dan korupsi.

Wahai kalian para pelajar. Usia manusia pendek, usia Negara panjang. Teruslah membuat konten prestasi dan konten protes, tapi berani protes itu adalah prestasi. Jika kalian teguh, kami siap jadi followermu. Jadi apa web dan akun instagrammu?, kami ingin follow.

Kampus Universitas Indonesia, Depok, 1 Oktober 2019, Hariqo Wibawa Satria, *Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; 200 Tips Ampuh Meningkatkan Performa Organisasi di Internet dengan Anggaran Terbatas #SMTMedsos – @hariqo81

Komentar

Berita lainnya