oleh

Pengabdian kepada Masyarakat FIB UI di SMA Mardi Yuana Depok

Menanamkan Budi Pekerti kepada Siswa melalui Cerita Anak-Anak Berbahasa Mandarin

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu misi dari setiap universitas di Indonesia. Program Aksi Universitas Indonesia (UI) untuk Negeri berskema Ramah Anak merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat yang digagas oleh Universitas Indonesia untuk mendukung Pemerintah Kota Depok dalam mengembangkan kota layak anak. Sebuah kota dapat dinilai sebagai kota layak anak apabila dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, sarana bermain, dan lingkungan sosial yang menjamin tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang berwawasan kebangsaan Indonesia, serta menghargai keberagaman etnik.

Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas (FIB UI) membentuk tim pengabdian kepada masyarakat untuk turut mendukung Kota Depok sebagai kota layak anak. Tim pengabdi terdiri atas dua orang pengajar dan satu orang mahasiswa di Program Studi Sastra Cina FIB UI, serta seorang pengajar Bahasa Mandarin di Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. Bersama dengan empat fasilitator, Tim melakukan pembinaan mental secara sederhana ke sebuah SMA di Kota Depok melalui pengajaran Bahasa Mandarin. Dewasa ini mempelajari bahasa bukan hanya menguasai struktur saja, melainkan mampu berkomunikasi dengan pengguna. Bercakap-cakap dengan pengguna Bahasa Mandarin tidak hanya menuntut kemahiran berbicara dalam bahasa penutur asli saja, tetapi memerlukan pengetahuan tentang budi pekerti. Dalam budi pekerti diajarkan bagaimana harus berperi laku, bertindak, berbicara, memperlakukan kawan bicara atau orang lain.

Budi pekerti dapat diartikan sebagai tuntunan hidup anggota masyarakat dalam berkomunikasi, mulai dari kanak-kanak, dewasa sampai tua. Tanpa pemahaman mengenai hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan atau dikatakan, masyarakat akan kacau. Semua orang akan bertindak “benar” menurut pikirannya, tanpa memperhatikan apakah merugikan orang lain atau tidak. Budi pekerti mengandung kebenaran umum yang berlaku universal seperti memberi tempat duduk kepada orang tua, wanita hamil, anak kecil dan penyandang disabilitas (pengumuman di peron dan dalam kereta api), membantu orang tua atau orang buta yang hendak menyeberang jalan, mendahulukan kepentingan orang yang lebih memerlukan, memberi salam atau senyum kepada tetangga atau orang yang dikenal saat berjumpa, dan masih banyak kesantunan universal lainya.

BACA JUGA:  Kenapa Memilih Politeknik?

Masa revolusi industri 4.0 dengan teknologi yang berkembang pesat sudah dirasakan memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi muda Indonesia. Hal tersebut mempengaruhi moral remaja. Sejak era digitalisasi, terutama sejak beredarnya ponsel yang semakin lama semakin canggih, perhatian remaja lebih tertuju kepada ponsel saja. Ponsel merupakan benda mati yang dapat diperlakukan semaunya tanpa dapat menyatakan perasaannya. Ada gejala yang menunjukkan para remaja kurang memiliki kesantunan. Yang menyedihkan adalah mereka tidak mengerti telah bertindak tidak sopan. Ini merupakan akibat adanya penurunan kualitas moral, sehingga budi pekerti juga turut sirna perlahan-lahan.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Sastra Cina FIB UI melalui Aksi UI untuk Negeri kembali melaksanakan pengabdian masyarakat dengan tema “Menanamkan Budi Pekerti kepada Siswa melalui Cerita Berbahasa Mandarin” tujuannya untuk menanamkan kembali budi pekerti yang tampak meluntur pada anak didik. Diyakini cerita fabel atau humanis lainnya dapat membuat siswa berpikir makna apa yang disampaikan oleh cerita tersebut. Oleh karena pada Aksi UI Peduli sebelumnya (tahun 2018) kami telah melakukan pengenalan budaya Cina melalui Bahasa Mandarin, maka pada tahun ini Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Cina FIB UI memfokuskan diri pada penanaman kembali budi pekerti melalui cerita yang berbahasa Mandarin. Oleh karena itu, kegiatan ini hanya ditujukan kepada siswa yang belajar Bahasa Mandarin saja.

BACA JUGA:  Percantik Desain Kemasan Produk UMKM, Prodi Desain Grafis PNJ Berikan Kontribusi Nyata

SMA Mardi Yuana Depok telah bersedia bekerja sama dengan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Cina FIB UI dalam menyukseskan kegiatan selama dua periode kegiatan. Tahun ini, tim pengabdi diwakili oleh empat fasilitator untuk menyampaikan materi sebanyak empat kali pertemuan mulai dari bulan Agustus sampai bulan September. Peserta kegiatan ini merupakan siswa-siswi yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) kelompok kelas X; dan (2) kelompok kelas XI dan XII. Kedua kelompok berada dalam kelas terpisah, masing-masing dipandu oleh dua orang fasilitator yang merupakan mahasiswa semester VIII di Program Studi Sastra Cina FIB UI.

Pada setiap pertemuan, fasilitator memulai dengan menyebarkan selembar kertas berisi pertanyaan sebagai pre-test dan diakhiri dengan menyebarkan kertas yang berisi pertanyaan serupa sebagai post-test. Dua langkah ini dilakukan karena dapat menunjukkan tercapai atau tidak tercapai tujuan kegiatan. Diharapkan hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa setelah mendengar dan membaca cerita yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Waktu kegiatan yang berdurasi tujuh puluh lima menit ini berisi penyampaian kosakata baru, latihan pelafalan, tanya-jawab tentang isi bacaan, serta pesan moral budi pekerti yang disampaikan melalui cerita fabel.

BACA JUGA:  Politeknik Negeri Jakarta Lestarikan Budaya Indonesia Melalui Pencak Silat

Pada salah satu pertemuan di kelompok kelas X, fasilitator menyampaikan materi yang berjudul “Teman dan Beruang”. Melalui cerita tersebut, siswa-siswi tidak hanya mampu membaca dan memahami kosakata, tetapi juga mampu memahami nilai budi pekerti yang terkandung dalam cerita tersebut, yaitu teman yang baik.

Melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat ini cakrawala pengajaran Bahasa Mandarin akan diperluas, tidak hanya terfokus pada buku ajar saja, tetapi melalui cerita-cerita berbahasa Mandarin yang kaya akan pesan moral. Melalui kegiatan ini diharapkan ada peningkatan budi pekerti siswa melalui cerita Tiongkok berbahasa Mandarin yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan tidak hanya mengajarkan budi pekerti, melainkan sekaligus memperkuat kenahiran Bahasa Mandarin melalui cerita.

Disusun oleh: Hermina Sutami, Joanessa Seda & Tim Pengabdian Masyarakat Program Aksi UI Peduli Ramah Anak Program Studi Sastra Cina FIB UI

Komentar

Berita lainnya