oleh

Pembunuh dalam Sunyi itu Bernama Depresi

-Opini-368 views

Oleh: Nurina Purnama Sari, S.E.I., Aktivis Dakwah

Saya tertegun membaca surat kabar pagi ini (9/9/2019). Di bagian paling bawah kiri halaman satu, dimuat berita dengan judul ”Terbelit Utang, Pilih Gantung Diri” yang terjadi di Gandul, Cinere.

Tak pelak, ingatan saya tertuju pada berita kurang dari dua minggu yang lalu. Beritanya sama, tentang seorang IRT di Meruyung yang memilih gantung diri di pohon. Ini baru di Depok, bagaimana dengan kota lainnya? Beberapa hari yang lalu di hari yang sama berita mencekam itu muncul, dua mahasiswa ditemukan tewas di tali gantungan.

Dari sekian banyak masalah kesehatan yang cenderung meningkat, kesehatan jiwa merupakan masalah yang makin nyata peningkatannya. Data yang diperoleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, 10 persen dari populasi penduduk dunia membutuhkan pertolongan atau pengobatan di bidang kesehatan/psikiatri. Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia.

Hasil survei Prof. Ernaldi Bahar tahun 1995 dan Direktorat Kesehatan Jiwa tahun 1996 menyatakan bahwa di Indonesia, 1-3 dari setiap 10 orang mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang dimaksud bukanlah gangguan jiwa yang dipahami oleh sebagian masyarakat sebagai “orang gila”, tetapi dalam bentuk gangguan mental serta perilaku yang gejalanya mungkin tidak disadari oleh masyarakat; seperti depresi, kecemasan, kepanikan, penyakit yang berhubungan dengan kondisi psikologis (psikosomatis); juga yang berhubungan dengan masalah psikososial seperti tawuran, perceraian, kenakalan remaja, dan penyalahgunaan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif yang lain).

BACA JUGA:  Hijrah, Ayolah Kapan Lagi!

Berapa banyak anggota masyarakat Indonesia yang mengalami depresi belum ada data yang pasti. Namun, diperkirakan jumlahnya semakin banyak karena beberapa hal, antara lain: Kondisi kehidupan yang semakin kompetitif, gaya hidup meterialistis dan semakin hedonistik, serta makin jauhnya masyarakat dari nilai-nilai transendental (ruhiah) atau spriritualitas telah membuahkan kehidupan penuh tekanan.

Kaum perempuan pun kerapkali dirundung depresi, baik akibat kehidupan keluarga yang tidak harmonis, KDRT, anak yang semakin susah diatur, atau pun akibat tekanan kariernya. Maraknya depresi (tekanan kejiwaan) kini menjadi salah satu problem tidak hanya di Indonesia. WHO menyatakan rata-rata 40 detik terjadi bunuh diri akibat depresi di seluruh dunia.

Jika beberapa tahun silam, depresi lebih banyak diidap oleh kalangan tua di atas 50 tahun yang sebagian besar disebabkan oleh post power syndrom. Namun, sekarang banyak anak remaja dengan lingkar usia 15-20 tahun yang mengidap depresi. Hal ini terjadi karena pola asuh orang tua yang depresi namun tak disadari dan tidak ditangani yang kemudian mengakibatkan si anak cenderung depresi juga. Inilah akibat jika depresi menular tanpa disadari. Sakit psikologis dan sakit fisik sama-sama butuh obat dan treatment. Bedanya yang fisik terlihat lukanya yang psikologis seringkali tidak terdeteksi.

BACA JUGA:  Hijrah, Ayolah Kapan Lagi!

Salah satu penyebab maraknya depresi berujung bunuh diri karena kultur sosial masyarakat atau pengaruh lingkungan yakni masyarakatnya menjadi individualis. Kebanyakan mementingkan diri sendiri, belum lagi carut marutnya iklim ekonomi juga menjadi salah satu pemicu depresi. Begitu pula sempitnya lapangan pekerjaan membuat banyak pengangguran. Belum lagi harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meroket dan tak lagi terjangkau masyarakat bawah. Kebanyakan memilih jalan pintas yakni berutang kepada rentenir dan terlilit riba.Ujung-ujungnya bisa ditebak, mereka memilih bunuh diri sebagai penyelesaian atas masalah yang mendera.

Belum lagi sistem kehidupan masyarakat yang sekuler dan jauh dari nilai-nilai agama. Agama hanya dijadikan sebagai aktivitas ritual semata, namun tidak berpengaruh dalam kehidupan mereka. Akhirnya ada ruang yang kosong dan menyebabkan kekeringan jiwa. Inilah hal yang paling mendasar sebenarnya. Hanya saja, jika ingin dirinci kenapa sampai ada orang yang mau bunuh diri, apa latar belakangnya, faktor apa saja yang berpengaruh, bagaimana cara keluar dari lingkaran setan dan depresi, serta bagaimana pendekatan yang tepat.

BACA JUGA:  Hijrah, Ayolah Kapan Lagi!

Jika ingin diuraikan tentu saja satu halaman tulisan di koran ini tidak akan cukup untuk menjawabnya. Tapi di atas semuanya, mereka itu butuh satu hal: diterima dan didengarkan. Sensitiflah. Ada banyak orang di sekitar kita yang perlu kita rangkul. Judge less, emphaty more. Kita tidak tahu apa yang dihadapi orang lain sampai ia berada di posisinya saat ini. Semua latar belakang itu tertimbun dalam kenangan yang tak kan bisa dipahami publik. Tahu tahu kita hanya mendapatkan kabar akhir hidupnya saja.

Era revolusi industri 4.0 disertai dengan kemajuan teknologi ternyata diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, hingga tingginya angka bunuh diri ini. Lalu apalah artinya kemajuan ilmu, teknologi dan infrastruktur jika nilai manusianya kini makin tak berarti? Apa artinya jika rasa kekeluargaan hilang? Apa artinya jika rasa kemanusiaan sirna?[]

Komentar

Berita lainnya