oleh

Nikah Dini vs Zina Dini

-Opini-662 views

Oleh: Najwa Najahah, Aktivis Dakwah, Tinggal di Depok

Menikah merupakan suatu hal yang didamba-dambakan kaum pria maupun wanita, apalagi ini termasuk dalam ibadah. Namun hal tersebut kini dipersulit ketika meja hijau yang diketok pada Senin (16/9) kemarin terkait revisi UU perkawinan yang berhubungan dengan batas minimal usia laki-laki ataupun perempuan sama-sama harus menginjak 19 tahun. Sebelumnya, usia laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Meski belum disahkan oleh presiden, UU ini menuai banyak pro dari sejumlah golongan.

Di sisi Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI berharap pada sidang paripurna nanti keputusan Baleg DPR RI tentang usia perkawinan 19 tahun akan disahkan. KPAI menilai keputusan ini menjadi kado terbaik bagi anak-anak Indonesia dari DPR RI masa bakti periode 2014-2019 di akhir periodenya.

Belum lagi, Ketua Umum Partai PSI, Grace Natalie menyebut revisi pasal 7 ayat 1 ini sebagai kemenangan besar bagi kaum perempuan dan anak. Kegemaran partai melakukan show up dengan cara kontroversial. Misalnya dengan mendukung sesuatu yang menimbulkan kontra di negeri mayoritas Muslim. Mulai dari ‘menjual’ sikap penolakan atas poligami dan perda-perda berlandas Islam ternyata belum cukup. Kini dengan terang-terangan mereka mendukung hal yang bertentangan dengan syariat Islam, seakan-akan ada misi yang perlu dicapai di balik ini.

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Benar saja, didukung oleh kegagalan Indonesia dalam merealisasikan target Millenium Development Goal’s (MDGs) 2015 serta dalam Sustainable Development Goal’s (MDGs) 2030, mereka pun bertujuan untuk menghapus segala bentuk praktik berbahaya atas anak seperti mutilasi kelamin (sunat) perempuan, kawin paksa dan pernikahan dini. Padahal kesemuanya dianggap bertalian juga dengan tujuan-tujuan lain seperti kesehatan, pendidikan dan eleminasi kemiskinan. Gejolak kontroversi ini sendiri telah muncul sejak Indonesia menandatangani konfrensi Internasional tentang batasan usia anak adalah 18 tahun. Padahal dalam Islam sendiri menetapkan batas usia menikah adalah jika sudah tercapai aqil baligh.

Dan kesetaraan yang diambil dalam perevisian UU ini dipertimbangkan oleh Mahkamah Konstitusi karena pada aturan sebelumnya yang terdapat kesenjangan batas usia menikah antara laki-laki dan perempuan dianggap sebuah diskriminasi. Lantas dalam sibuknya menggali-gali hukum demi mengejar target yang didikte Barat ini, mereka buta dan tuli akan fakta bahwa anak-anak mereka sudah tenggelam dalam pergaulan bebas.

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Jika ditelaah dalam kehidupan anak-anak banyak dihabiskan dalam sekolah, tak ada satu pun kurikulum yang membahas aturan pergaulan yang sesuai dengan Islam. Belum lagi dalam media massa, masih mendapatkan izin menyiarkan konten pornografi dan pornoaksi. Tata aturan sosial di tengah masyarakat pun dibiarkan liberal dan serba boleh. Pacaran bahkan perzinaan dianggap biasa dan merupakan urusan pribadi dan tak masuk ranah hukum. Walaupun sudah tahu berisiko ‘kecelakaan’ maka edukasi seks pun telah diajarkan, apabila terlanjur hamil, aborsi aman siap diberikan dengan alasan keselamatan kesehatan ibu.

Ditambah lagi angka-angka mengerikan dalam tabel data-data pergaulan bebas anak yang kian hari makin membesar. Dan berbuah kasus HIV/AIDS yang menelan 30% remaja di dalam 10.203 kasus dalam rentang hanya 3 bulan.

Beginilah tuaian dari sistem sekularisme dan liberalisme. Agama disingkirkan dan manusia dibiarkan bertindak sebebas-bebasnya. Tidak ingatkah kalian sabda Rasulullah SAW, “ Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al Hakim, al Baihaqi at Thabrani).

BACA JUGA:  Apasih Maumu?

Tidakkah kalian takut karena telah bersikap lancang dan masih terus berpura pura buta dan tuli? Kalian merasa marah akan pernikahan dini namun diam pada zina dini? Padahal telah tercantum solusi permasalahan kini dalam Al Qur’an dan As-Sunnah yang telah tertoreh bukti kejayaannya dalam sejarah terdahulu, ketika pemerintahannya membuahkan generasi emas, yang hak-haknya terpenuhi, masa depannya dilindungi, serta kejaminan atas keamanan. Mulai dari hak hidup, hak nafkah, pengasuhan, pendidikan, kesehatan sampai kepergaulan. Bukan menjadikan generasi letoy bin alay masa kini, yang mengundang azab dari Allah SWT. Nauzubillahi min dzalik.

Semoga kita tidak termasuk golangan tersebut dan makin giat menyebarkan pemahaman ini karena kita tidak ingin menjadi orang yang terkena azab juga karena membiarkan kemungkaran.[]

Komentar

Berita lainnya