oleh

Ancaman Plastik bagi Ekosistem Lingkungan Diatas Batas Aman

JAKARTA— Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah Tiongkok. Meski begitu, pengelolaan sampah plastik masih rendah, tanggung jawab perusahaan terhadap sampah-sampah mereka pun minim. Dari data Sustainable Waste Indonesia (SWI), kurang dari 10% sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50% tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Serta data yang diperoleh dari United Nations Oceans Convention pada tahun 2017, limbah plastik di lautan telah membunuh satu juta burung laut dan 100 ribu mamalia laut, kura-kura dan ikan. (Sabtu,21/05)

Menurut peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck (2015),Indonesia berada di urutan kedua dengan penyumbang sampah plastik di laut terbesar sebanyak 187,2 ton. Di ikuti oleh Filipina 83,4 juta ton diperingkat ketiga, Vietnam 55,9 juta ton diperingkat ke empat dan Sri Lanka14,6 juta ton pada peringkat ke lima. Pada peringkat pertama china merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar di laut sebanyak 262,9 juta ton. Padahal di lain hal, Indonesia merupakan negara penghasil ikan terbesar urutan ke-4 di dunia.

Menurut Riza Lestari Ningsih sebagai perwakilan Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta (Sabtu, 21/05) mengutarakan, “ satu Kecamatan di Jakarta menghasilkan 168 ton sampah perhari, 60.5 persen sampah Jakarta berasal dari rumah tangga dan apartemen. Sisi lain jumlah sampah yang berasal dari badan air dan kepulauan seribu mencapai 207 ton perhari”.

Seperti kasus yang terjadi di kota-kota besar beberapa kurun waktu ini, sejumlah sampah plastik menumpuk di sungai-sungai sehingga menutup area sungai dan mematikan ekologi lingkungan sekitar.

“Oleh karena itu kami berupaya dalam isu sampah ini harus ada sistem pengelolaan sampah, kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah dimulai dari tahapan (reuse) penggunaan kembali sampah, pembatasan sampah (reduce), dan daur ulang sampah (recycle) sementara untuk penanganan sampah dengan tahapan pemilahan, pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, pengolahan sampah dan pemprosesan akhir sampah”, tandas Riza Lestari Ningsih.

Sejumlah daerah mempunyai kasus yang sama sungai tercampur busa dan plastik akibat pembuangan limbah dari pabrik-pabrik yang tidak diolah secara baik maupun tidak memiliki pengolahan limbah secara baik. Bahkan lebih mirisnya sampah Indonesia hingga terdampar di Phuket, Thailand, hal tersebut memicu kegeraman negara-negara Asia Tenggara dalam permasalahan plastik terutama dari wilayah Indonesia.

“Lingkungan adalah sumber daya bagi mata pencaharian masyarakat, merawatnya berarti merawat sumber-sumber penghidupan masyarakat. Bila lingkungan sudah rusak maka kehidupan masyarakat akan cepat berangsur-angsur tenggelam. Kepedulian kita serta gerakan bersama diharapkan mengembalikan ekosistem lingkungan tersebut. Seperti pada saat Idul Adha kemarin Dompet Dhuafa sudah mengurangi pemakaian plastik dalam pengemasan daging kurban, dengan mengganti berupa besek dari bambu, hal ini selain berdampak pada lingkungan juga berdampak pertumbuhan ekonomi kerakyatan dengan menghidupkan pengrajin besek dari bambu”, ujar Bambang Suherman sebagai Direktur Program Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa sendiri sudah lama memberikan perhatian pada isu lingkungan, berbagai progam lingkungan sudah dilakukan, seperti sedekah pohon, air untuk kehidupan, pengelolaan limbah dan sebagainya. Karena dengan lingkungan yang lestari dapat mendorong tumbuhnya ekonomi sirkuler di masyarakat. Dompet Dhuafa melalui progam semesta hijau mendukung upaya di berbagai di sektor lingkungan yang mampu mengangkat kemandirian dhuafa demi Keselamatan Bumi harus tetap dijaga. Sebab, anak cucu kita di masa mendatang harus tetap hidup di Bumi yang bersih dan bebas dari sampah plastik.

“Di hari yang sama terdapat 15 titik aksi di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Pantai Padang hingga Pantai Warna Oesapa Kupang dengan melibatkan 1128 relawan serta komunitas lokal dalam rangka World Clean Up Day tidak hanya membersihkan area pantai, sungai bahkan gunung dari sampah, dalam aksi ini relawan juga mengajak peran serta masyarakat pesisir dalam mengelola lingkungan agar sehat dan produktif”, tutup Bambang Suherman.

Komentar

Berita lainnya