oleh

Perpeloncoan, Sudah Saatnya Dihentikan

-Opini-961 views

Oleh : Rahma Nufaisa

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Sabtu 13 Juli 2019 dunia pendidikan berduka. Salah satu peserta didik baru SMA Taruna Nusantara Palembang meninggal dunia pada saat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS).

Korban bernama Delwyn (14) dilaporkan meninggal pukul 4 subuh saat sebelumnya mengalami kejang-kejang di asrama sekolah pada dini hari usai mengikuti kegiatan orientasi. Akibat kejang-kejang pihak sekolah mengantarkan korban ke RS Myria Palembang, namun nyawa korban tak tertolong.

Pihak sekolah kemudian menghubungi keluarga korban dan sesampainya di rumah sakit keluarga korban yang mencurigai luka memar memutuskan untuk mengautopsi jenazah ke RS Bhayangkara Palembang.

Hasil forensik menunjukkan korban mengalami pendarahan di kepala, dada dan kaki. Hal tersebut terjadi karena resapan darah akibat benturan yang sangat keras.

Setelah kejadian tersebut polisi memeriksa sebanyak 8 orang saksi secara intensif hingga keluar satu nama yang ditetapkan sebagai tersangka yang tak lain adalah staf pengajar di SMA Taruna Nusantara. Hal tersebut dilakukan tersangka karena korban yang tidak tuntas mengikuti long march akibat kelelahan, korban pun dianiaya pelaku dengan tendangan dan pukulan di kepalanya dengan bambu.

Begitu miris catatan cerita pendidikan di Indonesia. Peristiwa perponcolan seperti sudah mendarah daging seakan tak ingin lepas dalam setiap kegiatan orientasi peserta didik baru. Hampir setiap tahun ditemukan kasus para peserta orientasi yang meninggal dunia akibat kelelahan atau perpeloncoan.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 18 tahun 2016 pasal 5 sudah jelas bahwa pengenalan lingkungan sekolah dilarang bersifat perpeloncoan atau tindak kekerasan lainnya. Apabila terbukti melakukan pelanggaran maka kepala dinas provinsi memberikan sanksi kepada kepala/wakil kepala sekolah/guru berupa pemberhentian sementara/tetap dari jabatan. Namun peraturan tersebut seakan hanya penghambat kecil yang sering diabaikan beberapa oknum.

Guru sebagai orang tua kedua para peserta didik seharusnya dapat mengayomi dan memberikan kasih kasang kepada peserta didik, bukan sebagai pelaku kekerasan yang berujung trauma pada peserta didik ataupun berakhir dengan menghilangkan nyawa seseorang.

Peran dinas pendidikan beserta petinggi sekolah sangat dibutuhkan guna mencetak pengajar yang profesional dan berakhlak. Kegiatan seperti pemberian sosialisasi dan seminar dapat dilangsungkan guna meningkatkan profesionalisme para pengajar. Peran pelajar juga sangat dibutuhkan guna lebih menghormati dan menghargai para pengajar dengan menunjukkan sikap yang santun.

Peran semua pihak sangat dibutuhkan demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang sehat dan berprestasi.

Komentar

Berita lainnya