oleh

Lahan Basah, Solusi dari Perubahan Iklim

-Opini-464 views

Oleh: Winda Sartika Purba, Statistisi di Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, BPS

Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) jatuh pada tanggal 2 Februari 2019. Peringatan ini sebagai tindak lanjut kesepakatan dalam Konvensi Lahan Basah tanggal 2 Februari 1971, di Ramsar, Iran”. Hari ini bertujuan untuk memperingati akan kebutuhan untuk mempertahankan karakter ekologi lahan basah dan merencanakan dengan bijak penggunaan yang berkelanjutan. Tahun 2019 mengangkat tema “Wetlands and Climate Change”.

Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan tantangan global yang mempengaruhi semua penduduk di seluruh dunia. Perubahan iklim mengakibatkan perubahan pola cuaca, naiknya permukaan air laut, dan kejadian cuaca ekstrem lainnya. Hal tersebut dapat mengganggu ekonomi nasional, mempengaruhi kehidupan umat manusia, bahkan menelan korban jiwa (Buku Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, BPS)

Perubahan iklim menjadi hal yang sangat sering diperbincangan, lebih dekat lagi mungkin dulu kita berpikir dan beranggapan musim hujan selalu terjadi pada bulan yang berakhiran “ber”, mulai dari september-desember. Sekarang awal februari kita masih harus menghadapi hujan yang cukup sering terjadi.

Selain hujan, yang bisa langsung kita rasakan juga adalah suhu udara yang tinggi, di Indonesia suhu tertinggi mencapai 39,5 derajat celsius pada tanggal 27 Oktober 2015 dan baru-baru ini dibelahan dunia lain tanggal 15 Januari 2019 di Port Augusta di Australia mencapai suhu 48,9 celsius dan pemberitaan pada tanggal 31 Januari 2019 menampilakan suhu di Amerika tepatnya di North Dakota mencapai 54 derajat celsius.

Mungkin kita beranggapan, yah semua akan berlalu sesuai musimnya, padahal dampak dari hujan dan panas sangat signifikan dikehidupan kita. Hal ini dapat mengakibatkan banjir, kekeringan, gagal panen, ikan-ikan mati dls. Dan secara tidak langsung mempengaruhi (mungkin tidak banyak) dari akibat perubahan iklim karena kita misalnya masih belum terkena banjir. Saya tidak sedang mengharapkan kita harus merasakan dampak langsung tapi jika hal ini terus dibiarkan maka suatu saat kita mungkin akan merasakannya, mungkin bisa mengingat kembali banyak daerah-daerah yang dulu tidak pernah banjir malah sekarang banjir.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Perubahan iklim terus terjadi disertai dampaknya, bukan berarti kita tidak berdaya dan menerima begitu saja, sebagaimana tag line dari World Wetlands Day (WWD), “We are not powerless against climate change”. Lahan Basah adalah salah satu solusi dari perubahan iklim.

Kondisi Lahan Basah

Lahan basah terjadi dimana air bertemu dengan tanah. Lahan basah, seperti danau, sungai, rawa, rawa-rawa, lahan gambut, bakau, dan terumbu karang menyediakan jasa ekosistem yang penting dan kontribusi bagi mata pencaharian masyarakat. Lahan basah bertindak sebagai sumber dan pemurni air, melindungi kita dari banjir, kekeringan dan bencana lainnya, menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi jutaan orang, mendukung keanekaragaman hayati yang kaya, dan menyimpan lebih banyak karbon daripada ekosistem lainnya (The Global Wetland Outlook 2018).

Global Wetland Outlook 2018 menunjukkan banyaknya fungsi lahan basah, bahkan ternyata berkontribusi secara langsung dan tidak langsung pada 75 indikator pembangunan berkelanjutan atau yang sering dikenal dengan SDGs.

Namun, apa yang terjadi dengan lahan basah saat ini? Sejak tahun 1970, telah hilang 35 persen, dimana ini tiga kali lebih banyak dari kehilangan luas hutan secara global. Spesies yang bergantung pada lahan basah mengalami penurunan yang serius, penurunan telah mempengaruhi 81 persen populasi spesies lahan basah daratan dan 36 persen spesies pesisir dan laut. Hilangnya lahan basah berlanjut dengan dampak negatif langsung dan terukur seperti kualitas dan ketersediaan air, ketahanan pangan, keanekaragaman hayati dan penyerapan karbon.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Kondisi dan Pengelolaan Lahan Basah di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Kita telah masuk dalam anggota Konvensi Ramsar (konvensi ini sering disebut dengan nama ini karena dilakukan di Ramsar) tahun 1991 dengan diterbitkannya Keppres 48 tahun 1991 yang merupakan Ratifikasi Konvensi Ramsar di Indonesia.

Lahan basah di Indonesia misalnya sungai kondisinya bisa dikatakan cukup memprihatinkan, tahun 2017 terdapat 84 sungai yang diukur kualitasnya dan hasilnya 38 kondisi cemar berat, 26 cemar sedang- cemar berat, dan 11 cemar sedang. Penyebab pencemaran ini berupa limbah dari pabrik dan sampah yang dibuang keperairan. Selain itu tahun 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga memantau sampah pesisir dan laut di 18 kabupaten/kota dan hasilnya terdapat 553.984,55 gram (Statistik Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KLHK 2017)

Data PODES 2018 menunjukkan terdapat 10.127 Desa yang perilaku membuang sampah pada umumnya ke perairan, 9.673 desa ke sungai/ saluran irigasi/ danau/ laut dan 454 desa ke drainase.

Selain kondisi diatas, lahan basah yang sering menjadi perhatian adalah mangrove, tumbuhan ini mampu menyimpan karbon 50 kali lebih banyak dari hutan tropis. Karena spesialnya tumbuhan ini, di Indonesia ada strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove, Pepres No 73 Tahun 2012. Pepres ini menyatakan bahwa bahwa ekosistem mangrove merupakan sumberdaya lahan basah wilayah pesisir dan sistem penyangga kehidupan dan kekayaan alam yang nilainya sangat tinggi, oleh karena itu perlu upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara lestari untuk kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Tahun 2016-2017 menunjukkan angka deforestasi hutan mangrove didalam dan diluar kawasan hutan mencapai 12.633,1 Ha/tahun (2.184,8 di hutan mangrove primer dan 10.448,3 di hutan mangrove sekunder), KLHK 2017.

Upaya mempertahankan kondisi lahan basah

Pada tanggal 26 Januari 2019 diadakan penggalangan donasi untuk penanaman mangrove dengan harga satu batangnya 8.000 rupiah. Hal ini merupakan inisiatif dari “Nosarara Pariri”, yaitu para awardee penerima beasiswa LPDP Angkatan PK-135. Dalam rangka turut berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan dan pencegahan bencana dan menargetkan menanam 1.000 mangrove untuk Cisadane.

Selain itu, Data PODES 2018 menunjukkan terdapat 19.005 dari 83.931 Desa yang melakukan pelestarian lingkungan yang didalamnya berupa penanaman/ pemeliharaan pepohonan di lahan kritis, penananman mangrove dan sejenisnya.

Langkah yang Bisa Dilakukan

Pemerintah dengan pepresnya sudah memiliki strategi penanganan lahan basah, hasilnya bisa dilihat dari hasil rehabilitasi mangrove yang mencapai 14.566 Ha mulai dari tahun 2013-2017 (KLHK, 2017) mungkin angka ini terlihat kecil, namun upaya yang dilakukan cukup nyata.

Bagaimana dengan kita? Kita bisa melakukan hal yang cukup besar seperti penggalangan dana untuk penanaman mangrove seperti yang dilakukan awerdee penerima beasiswa LPDP dan kita juga bisa melakukan hal sederhana dengan tidak membuang sampah ke perairan. Kita bisa melalukan sesuatu atas perubahan iklim yang terjadi.

Komentar

Berita lainnya