oleh

Kelembagaan sebagai Syarat Utama Mewujudkan RW Ramah Anak

Ketua tim pengabdi Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (PS-KPP SKSG UI) Dr. Lita Sari Barus menilai, kelembagaan merupakan syarat utama dalam mewujudkan RW ramah anak. Kelembagaan dalam rangka menuju RW ramah anak telah dikeluarkan oleh Lurah melalui Surat Keputusan (SK). Pokja Gugus Tugas merupakan perwakilan dari masing-masing RT dan Klaster.

Ia mengatakan, anggota yang berasal dari perwakilan tersebut diharapkan dapat mengembangkan program dan kegiatan di lingkungan RT dan Klaster masing-masing sehingga anak memiliki lingkungan dan rasa nyaman ketika proses tumbuh kembang dan beraktifitas dalam kesehariannya. Kader PKK dan gugus tugas yang dipilih saat ini baru sebatas melaksanakan program-program top-down dari pemerintah kota Depok.

“Untuk itu diperlukan suatu forum diskusi dengan gugus tugas di lingkungan RW untuk memperoleh gambaran permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan berbagai program kegiatan,” katanya saat berbicara dalam diskusi terfokus ‘Optimalisasi Peran Kader PKK dalam Implementasi RW Ramah Anak di Kota Depok’, di Bella Casa Residence, Kota Depok, Minggu (28/07).

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

Menurut Lita, indikator-indikator yang disyaratkan dalam RW ramah anak telah memenuhi 6 indikator yaitu kelembagaan dan 5 hak pemenuhan terhadap hak anak. Selama ini, kegiatan-kegiatan baik terstruktur atau tidak terstruktur memang telah dilaksanakan di beberapa RW tersebut. Namun, pemahaman kader dan pengurus gugus tugas terhadap indikator tersebut masih terbatas.

Akses informasi warga terhadap indikator-indikator RW ramah anak belum menyeluruh dipahami oleh warga sehingga implementasi terhadap pelaksanaan dan program RW ramah anak belum dilaksanakan dengan baik.

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

“Namun untuk menghasilkan akses informasi yang baik diperlukan kelembagaan untuk memayungi berbagai elemen dan variabel dalam Kota Ramah Anak,” kata Lita.

Ketua RW 08 Bella Casa, Rahmat Hidayat mengatakan, anak-anak di lingkungan Bella Casa terdiri dari, 70% usia anak sekolah dasar ke bawah, dan 25% anak usia sekolah menengah pertama dan atas. Sementara 5% anak usia pada pendidikan tinggi.

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

Rahmat mengakui, fasilitas ramah anak saat ini mengandalkan fasilitas dari pengembang. Di cluster Dahlia sendiri, tidak ada fasilitas umum.

“Kita sebagai pengurus RW terus ihtiar meminta fasilitas ke pengembang,” kata Rahmat.

Problem lain, menurut Rahmat, adalah waktu belajar anak-anak dis ekolah yang pulangnya jam 4-5 sore. Sehingga, mereka nyaris tidak ada waktu untuk bermain bersama.

“Terkait organisasi karang taruna, sampai sekarang belum resmi. Pasalnya, SDM yang sangat minim,” katanya. *

Komentar

Berita lainnya