oleh

Kekayaan Laut Vs Sampah Laut di Indonesia

DEPOK POS – Sebagai negara maritim, 75 persen wilayah Indonesia merupakan wilayah perairan yang terdiri dari sekitar 3,351 juta km² wilayah laut (perairan pedalaman, kepulauan, dan laut territorial) dan sekitar 2,936 juta km² wilayah perairan Zona Ekonomi Ekslusif dan landasan kontinen. Serta, berdasarkan data BIG tahun 2016, Indonesia juga memiliki panjang garis pantai kurang lebih 99.093 km. Wilayah perairan Indonesia memiliki 27,2 persen dari seluruh spesies flora dan fauna yang terdapat di dunia, meliputi 12 persen mamalia; 23,8 persen amfibi; 31,8 persen reptilian; 44,7 persen ikan; 40 persen moluska; dan 8,6 persen rumput laut. Tidak heran jika Indonesia menjadi negara yang mempunyai produksi perikanan tangkap tertinggi kedua di dunia setelah China pada perairan laut (Data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), 2018).

Penyebaran daerah penangkapan ikan di Indonesia mencapai luas sekitar 5,8 juta km2 yang terbagi menjadi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yaitu Selat Malaka, Samudera Hindia (2 WPPNRI), Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Selat Makassar-Laut Flores, Laut Banda, Teluk Tomini-Laut Seram, Laut Sulawesi, Samudera Pasifik, dan Laut Arafura-Laut Timor. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, No. 47/KEPMEN-KP/2016 tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di WPPNRI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, potensi lestari sumber daya ikan di Indonesia saat ini mencapai 9,9 juta ton yang tersebar di sebelas WPPNRI. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis kecil 3,52 juta ton, ikan pelagis besar 2,49 juta ton, ikan demersal 2,32 juta ton, ikan karang 977 ribu ton, udang penaeid 327 ribu ton, lobster 8,8 ribu ton, kepiting 44,5 ribu ton, rajungan 48,7 ribu ton, dan cumi-cumi 197 ribu ton.

Potensi perikanan di Indonesia harus dikelola dengan baik dan bertanggung jawab agar kegiatannya dapat berkelanjutan sehingga menjadi salah satu sumber modal utama pembangunan Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 pasal 6 ayat 1 tentang Perikanan yang menyebutkan bahwa pengelolaan perikanan dalam WPP-RI dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumber daya ikan. Selain pengelolaan ikan, sampah yang terdapat pada laut juga dapat mempengaruhi kualitas wilayah perairan Indonesia dan yang terkandung di dalamnya. Menurut WHO, sampah di laut 80 persen bersumber dari daratan. Hal ini berkaitan dengan kurang baiknya pengelolaan sampah di daratan. Sampah di darat bila tidak dikelola dengan benar akan terbawa ke sungai, bahkan ke laut, dan pada akhirnya akan menumpuk di laut. Selain bersumber dari daratan, sampah di laut Indonesia juga dapat bersumber dari kapal nelayan dan juga sampah dari negara lain yang terbawa arus.

Sampah di laut, khususnya sampah plastik, dapat mengancam biota-biota yang ada di laut. Hewan-hewan seperti ikan, kura-kura, bahkan burung akan tidak sengaja memakan sampah plastik tersebut karena mengira sampah plastik adalah makanannya. Sampah plastik juga dapat mengancam terumbu karang. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, sekitar 36,18 persen dari 1.067 lokasi terumbu karang di Indonesia dengan kondisi rusak. Hal ini berarti tanpa adanya sampah plastik pun terumbu karang di Indonesia sudah terancam punah. Ditambah adanya sampah plastik yang menutupi permukaan laut, semakin akan merusak terumbu karang, dimana terumbu karang membutuhkan cahaya matahari agar dapat bertahan hidup. Padahal, terumbu karang ini memberikan manfaat sangat besar bagi jutaan penduduk yang hidup dekat pesisir.

Selain dapat mengancam biota laut, sampah laut juga berbahaya bagi hasil tangkapan ikan di laut dan kesehatan manusia. Sampah plastik di laut mengganggu aktivitas nelayan yang sedang melaut. Selain menghambat laju kapal, juga mengganggu proses penangkapan ikan. Nelayan yang melakukan penangkapan ikan menggunakan jaring akan merasakan dampak langsung dari sampah laut ini. Sampah laut akan ikut terjaring bersama dengan ikan dan komoditas laut lainnya. Apabila sampah laut semakin banyak, maka bisa dibayangkan hasil tangkapan ikan di jaring tersebut mayoritas sampah. Sifat sampah plastik yang sulit hancur juga mengakibatkan tingkat kesehatan biota laut menurun, sehingga mengakibatkan tangkapan ikan oleh nelayan menurun. Laut yang telah tercemar sampah, artinya virus, bakteri, dan parasit akan hidup di dalam laut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit bagi orang-orang yang berenang di laut, seperti penyakit diare, infeksi hidung, telinga, dan mata, serta gangguan pada kulit. Ditambah, sampah plastik di laut lama kelamaan akan terurai di laut dan dimakan oleh ikan dan berujung pada manusia memakan ikan tersebut, sehingga dengan kata lain plastik itu masuk ke tubuh manusia.

Sangat memprihatinkan kondisi laut di Indonesia. Apabila dibiarkan akan berdampak tidak hanya pada kelestarian biota laut saja, tetapi juga kelangsungan hidup manusia. Agar kondisi sampah di laut tidak semakin parah, maka dibutuhkan kesadaran dan peran dari semua kalangan dan aspek, baik itu pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

*Annisa Febriana Ayub, Statistisi Pertama Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Badan Pusat Statistik

Komentar

Berita lainnya