oleh

Faktor Ekonomi Penyebab Banyaknya Korban Perdagangan Manusia

-Opini-1.384 views

Permasalahan perekonomian di Indonesia tidak pernah usai untuk di bahas. Dari penurunan nilai tukar rupiah, rendahnya pendapatan negara dari ekspor dan kesenjangan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia menjadi masalah perekonomian yang ada. Kesenjangan perekonomian inilah yang menjadi akar dari masalah dalam kasus perdagangan manusia yang biasa dikenal dengan “Human Trafficking”.

Lima tahun yang lalu, International Organization for Migration (IOM) mencatatkan bahwa jumlah perdagangan orang atau human trafficking yang terjadi di Indonesia mencapai 6.651 orang. Angka tersebut merupakan jumlah paling besar di antara negara-negara tempat terjadinya human trafficking di dunia. Indonesia menempati posisi pertama dalam kasus perdagangan manusia yang menjadi salah satu negara asal utama dan negara tujuan serta transit bagi laki-laki, perempuan, dan anak-anak untuk menjadi pekerja paksa dan korban perdagangan seks.

Hingga saat ini, human trafficking di Indonesia masih terjadi. Pada April 2019, Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Markas Besar atau Mabes Polri membongkar empat jaringan internasional tindak pidana perdagangan orang. Kelompok perdagangan orang tersebut terdiri dari jaringan Maroko, Suriah, Turki, dan jaringan Arab Saudi. Sebanyak total lebih dari 1.000 warga negara Indonesia menjadi korban dalam sindikat keempat kelompok ini.

Dalam kasus ini, keempat kelompok terbukti mengirim pekerja secara non prosedural yang kebanyakan korban berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tersangka menjanjikan para korban akan menjadi asisten rumah tangga di Maroko dengan penghasilan Rp 3 – 5 juta perbulan. Pekerja rumah tangga merupakan mata pencaharian terbanyak yang dilakukan oleh perempuan Indonesia baik yang bekerja di dalam negeri maupun yang bekerja di luar negeri.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Pekerjaan ini tidak dianggap sebagai pekerja formal dan tidak dilindungi oleh undang – undang ketenagakerjaan setempat. Hal ini dimanfaatkan oleh opnum opnum yang tidak bertanggung jawab dalam menjalankan modus human trafficking. Korban human trafficking seringkali direkrut dengan iming – iming penawaran kerja yang memiliki gaji besar. Setelah modus berhasil dijalankan, korban banyak yang percaya dan akhirnya terjebak dalam kasus human trafficking.

Faktor ekonomi adalah faktor utama yang menjadi penyebab banyaknya korban yang tergiur dalam modus human trafficking. Ekonomi yang rendah dan pendidikan yang kurang menjadikan korban dengan mudah percaya atas iming – iming yang diberikan oleh para pelaku human trafficking. Korban perempuan yang telah bekerja di dalam dan di luar negeri di eksploitasi tenaga kerja bahkan kemudian dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Sedangkan korban lelaki dipekerjakan sebagai buruh, dan lainnya.

Perdagangan orang ini merupakan pekerjaan yang menguntungkan bagi satu pihak dimana pihak yang lain yakni korban pada akhirnya tidak mendapatkan apa – apa. Banyak kasus dari human trafficking ini yang mengakibatkan korban mendapat siksaan, bahkan menyebabkan kematian. Sementara para pelaku human trafficking yang menikmati hasil dari penjualan manusia ini tidak bertanggung jawab atas apapun. Dengan penghasilan yang besar dan tanggung jawab yang kecil bermodal mulut manis untuk menjalankan modus kepada banyak orang menyebabkan kasus human trafficking tidak pernah usai.

BACA JUGA:  Meminimalisir Mahalnya Ongkos Politik

Terkait hal tersebut, tantangan kita sebagai masyarakat Indonesia dalam memberantas kasus human trafficking tidaklah mudah. Tantangan dari dalam maupun dari luar terus berdatangan silih berganti. Dalam hal ini kita dituntut untuk tidak lagi menjadi masyarakat yang apatis dan mulai menjadi masyarakat yang peduli pada setiap kasus yang terjadi di tanah air, khususnya kasus yang memakan banyak korban.

Konstruktivisme menjadi hal yang sangat penting dalam menanggulangi permasalahan human trafficking yang ada. Dimana kita sebagai warga negara harus dapat membantu pemerintahan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada lingkungan sekitar dan orang – orang dengan ekonomi tingkat rendah yang membutuhkan pendidikan mengenai ancaman dan modus dari para pelaku human trafficking. Pembelajaran yang bersifat generatif memberikan pemahaman mengenai apa yang terjadi di masyarakat sangat di butuhkan untuk mencegah terjadinya human trafficking. Masyarakat di jaman sekarang haruslah mempunyai pengetahuan dalam hal yang sangat membahayakan seperti kasus perdagangan manusia yang telah menelan banyak korban.

BACA JUGA:  Mengapa Minyak Curah Harus Dilarang?

Kita menginginkan negara yang adil dan makmur. Negara yang bebas dari human trafficking. Usaha yang dilakukan pemerintah didukung oleh seluruh masyarakat yang ada dapat menyelamatkan korban – korban yang sudah ada dan mencegah para pelaku untuk menjalankan aksi modus human trafficking ini. Oleh karena itu penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang sulit terjangkau, masyarakat yang berada di pelosok dan pedalaman daerah, masyarakat dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah sangat memerlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai hal – hal yang mengancam kehidupan mereka.

Tidak hanya masyarakat yang menjadi korban, para pelaku kasus perdagangan orang pun memerlukan pemahaman agar tidak lagi melakukan hal yang tidak sesuai dengan hak asasi manusia ini. Peraturan mengenai mempekerjakan asisten rumah tangga juga perlu di atur dalam undang – undang, termasuk buruh dan pekerjaan lain yang sangat berpotensi untuk mengundang para pelaku kembali beraksi. Sanksi dan hukuman berat sangat dibutuhkan dalam mengatur kasus human trafficking ini agar tidak lagi terjadi.

Ditulis oleh Windy Melliani Mandari, mahasiswi Stikom London School of Public Relations Jakarta

Komentar

Berita lainnya