oleh

Digital Tourism Sebagai Salah Satu Opsi Marketing Wisata Halal di Indonesia

-Tekno-728 views

Sapta Nirwandar yang saat ini sebagai Perwakilan Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah dalam (Marketeers edisi April 2015, hal 61) mengatakan potensi pariwisata halal begitu besar. Berdasarkan data dari UNWTO Tourism Highlights tahun 2014, terdapat sekitar 1 miliar wisatawan dunia dan diperkirakan akan naik menjadi 1,8 miliar pada tahun 20130 mendatang. Sebagai negara mayoritas penduduknya adalah muslim, Indonesia seharusnya mampu memaksimalkan potensi itu.

Pengguna internet belakangan ini meningkat drastis, di Indonesia sendiri pengguna internet sudah mencapai 171 juta. Diharapkan dengan menggunakan digital Tourism dapat memaksimalkan perkembangan Pariwisata Hala di Indonesia.

Menurut Sekjen APJII, Henri Kasyfi, survei ini melibatkan 5.900 sampel dengan margin of error 1,28 persen. Data lapangan ini diambil selama periode Maret hingga 14 April 2019. Hasilnya, menurut Henri, dari total populasi sebanyak 264 juta jiwa penduduk Indonesia, ada sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen yang sudah terhubung ke internet. Angka ini meningkat dari tahun 2017 saat angka penetrasi internet di Indonesia tercatat sebanyak 54,86 persen.

“Dari tahun ke tahun angka kita terus naik,” ungkapnya Menurut dia, kontribusi terbesar atas penetrasi internet di Indonesia berasal dari Pulau Jawa. Angka penetrasi di pulau ini mencapai 55 persen dari total keseluruhan. Sementara Pulau Sumatera berada di posisi kedua dengan menyumbang penetrasi terbesar 21%.
(https://tekno.kompas.com/read/2019/05/16/03260037/apjii-jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-tembus-171-juta-jiwa.)

Perubahan gaya hidup yang semakin go digital telah mengubah lansekap berbagai sektor industri, termasuk pariwisata menuju ke arah digital tourism. Selain mudah diakses, sasaran digital tourism lebih luas. Untuk memasarkan pariwisata halal yang ada di Indonesia dengan menggunakan digital tourism akan sangat efektif. Pasalnya, melihat banyaknya pengguna internet yang mencaoai 66,8% dari keseluruhan jumlah penduduk digital tourism dapat dijadikan sebagai marketing pariwisata halal yang sasarannya lebih luas dibandingkan dengan cara biasa.

Biasanya pariwisata halal di pasarkan ke masyarakat secara manual, misalnya menggunakan brosur dan menyebarkanyya, dengan mengadakan pelatihan atau seminar, dari omongan masyarakat satu ke yang lainnya. Metode marketing ini dipandang kurang efektif, melihat target nya dalam lingkup yang kecil, dan juga memerlukan sdm dan waktu yang lama.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menetapkan Go Digital Tourism sejak tahun 2017 dan mendukung Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diperingati setiap 12 Desember. Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru), Hiramsyah S. Thaib dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/12) menyatakan, terdapat 50% wisatawan asing yang datang ke Indonesia merupakan generasi milenial yang terkait erat dengan dunia digital dan teknologi.

“Untuk wisatawan nusantara sendiri, kita tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan rata-rata umur termuda di dunia yaitu 28 tahun, sehingga generasi milenial adalah pasar terbesar wisata Indonesia. Sejalan dengan itu, Menteri Pariwisata, Bapak Arief Yahya, telah menetapkan Go Digital atau Digital Tourism sebagai Top 1 Program Kementerian Pariwisata,” ujarnya. ( sumber : https://id.beritasatu.com/home/kemenpar-jadikan-go-digital-tourism-sebagai-top-1-program/183493)

Dengan menggunakan digital marketing, wisatawan tidak perlu repot dating ke travel agent dan dapat menggunakan smatphone nya untuk mempermudah perencanaan perjalanan wisata yang diinginkan.

“Saat ini orang yang mau berwisata sudah jarang yang datang langsung ke travel agent karena tidak efisien dan sangat menyita waktu. Hanya dengan smartphone di genggaman tangan sekarang transaksi belanja paket wisata online sudah bisa dengan mudah dilakukan atau istilahnya LBP (Look, Book and Pay),” kata Hiramsyah S. Thaib, Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Menurut penelitian Nielsen yang dikutip di Techinasia, sebanyak 13% total transaksi tercatat untuk travel berupa ticket flight atau hotel pada Harbolnas beberapa tahun lalu. Harbolnas memberikan kesempatan dan euforia bagi penggemar belanja online, termasuk belanja paket wisata melalui aplikasi airy, pergidotcom, bookingdotcom, zenrooms, nusatrip dan lainnya.

Dalam dunia digital, segala suatunya dapat terjadi dalam satu juta mil per menit. Konsumen sudah terbiasa mendapatkan informasi yang merek abutuhkan secara cepat. Konsumen lebih memilih menjadi actor penting dalam pemasaran digital. Maka sudah sepatutnya, Indonesia dapat memenuhu kebutuhan halal tourism. Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum pemasaran digital untuk melakukan ekspansi yang jauh lebih besar dari yang dicapai saat ini.

Ditulis oleh Cindy Permata Sari, mahasiswa.

Komentar

Berita lainnya