oleh

Angka Kekerasan Terhadap Anak Masih Tinggi

-Opini-1.451 views

Anak adalah harta yang paling berharga. Kalimat yang sering diucapkan oleh orang tua tentang anak mereka. Logikanya, jika memiliki harta yang paling berharga maka akan dirawat dan dijaga dengan baik. Tapi, kalimat tersebut hanya menjadi status keren di media sosial yang kurang dipahami. Bagaimana tidak, dalam beberapa kasus masih sering didapati kekerasan pada anak dalam keluarga. Keluarga yang seharusnya tempat perlindungan utama bagi anak, namun berubah menjadi arena perang yang menakutkan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan hasil pengawasan kasus pelanggaran anak Januari hingga April 2019 masih tinggi. Pada tahun 2018 KPAI mencatat terdapat 4.885 kasus kekerasan anak yang dilaporkan.  Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar 4.579 kasus. Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Terlebih anak adalah penerus bangsa yang akan menentukan negara ini kedepannya.

Kasus – kasus kekerasan terhadap anak yang paling miris adalah jika berasal dari orang tua mereka sendiri. Seperti kasus balita berusia 16 bulan meninggal dunia karena disiksa oleh sang ibu kandung lantaran meresa kesal dengan mantan suaminya yang merupakan ayah kandung dari sang anak.

Selain itu, di media sosial juga dihebohkan dengan video bapak kandung yang menganiaya anaknya karena ingin mengancam sang istri yang kabur dari rumah. Dalam video tersebut terlihat bapak menyiksa anaknya dengan memukul, mencekik bahkan menutup mulut dan hidung sang anak agar sulit bernafas..

BACA JUGA:  Akhwat atau Cewek ?

Dari kasus diatas, perlu diketahui kekerasan pada anak tidak hanya kekerasan fisik saja, kekerasan psikis seperti melontarkan kata – kata kasar juga akan berdampak buruk bagi mental anak di masa yang akan datang. Bisa dilihat dari kasus – kasus tersebut, salah satu faktor penyebab kekerasan kepada anak adalah hubungan suami istri yang tidak seimbang. Sangat miris melihat anak selalu menjadi korban oleh orang tua yang ingin menuntaskan emosi kepada pasangannya.

Faktor penyebab lainnya juga dikarenakan ekonomi. Desakan ekonomi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari akan menimbulkan stress terhadap orang tua yang akhirnya sulit menahan emosi sehingga suka berkata kasar kepada anak, memarahi anak di depan orang lain, meremehkan anak atau tidak menghargai prestasi anak. Hal ini akan menyebabkan seorang anak susah bergaul karna tidak percaya diri atau merasa tidak berguna bagi orang lain.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Dampak dari kekerasan terhadap anak merupakan perkara yang serius. Berbagai dampak perlakuan kejam terhadap anak bisa dilihat dari penelitian UNICEF yang membagi menjadi empat area, yaitu :

  • Risiko kesehatan fisik meliputi: Penyakit menular seksual, HIV AIDS, genital urinary symptoms, irritable bowel symptoms, dan kehamilan yang tidak diinginkan.
  • Risiko kesehatan mental meliputi: Kecemasan luar biasa, rendah diri, menyakiti diri, bunuh diri, post traumatic disorder, obsessive compulsive, dan pengelolaan kemarahan yang buruk.
  • Keluaran kekerasan meliputi: Membawa senjata tajam, konflik dengan hukum, kekerasan, dan pelecehan terhadap keluarga dan lingkungan lainnya.
  • Dampak pada pendidikan dan ketenagakerjaan meliputi: Drop Out (DO) dari sekolah, pengangguran, berada dalam lingkungan kerja eksploitatif.

Untuk menghindari dampak negatif tersebut, kekerasan dalam pola asuh anak tidak dapat diterima sebagai hal yang wajar. Ketika kekerasan ikut dalam pola asuh anak, maka tindakan tersebut dapat mereka lakukan kembali. Albert Bandura (1959) menyimpulkan bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam ini disebut Observational Learning atau pembelajaran melalui pengamatan.

Memang peran orang tua dan keluarga yang sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak. Meskipun pemerintah juga sudah membuat Undang – Undang dan peraturan tentang perlindungan anak, namun tentunya hal itu tidak bisa menjamin anak – anak terhindar dari kekerasan.

BACA JUGA:  Akhwat atau Cewek ?

Perlunya kesadaran orang tua tentang pola asuh anak yang harus memiliki pengetahuan. Pengalaman ataupun nasehat dari orang – orang terdekat memang dibutuhkan, tetapi itu saja tidak cukup. Di Indonesia belum banyak sekolah atau khursus bagi orang tua untuk diarahkan bagaimana mendidik anak dengan tepat. Tentunya hal ini akan sangat membantu bagi calon orang tua ataupun orang tua yang kebingungan atau salah arah dalam mendidik anaknya.

Sebagai individu yang bemasyarakat harus lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar untuk mencegahnya kekerasan pada anak dengan cara tidak membiarkan hal tersebut terjadi. Jika menemukan terjadinya kekerasan terhadap anak, tegur dengan tegas. Apabila tidak mampu untuk menegur, maka laporkan kepada penegak hukum sehingga pelaku akan diadili sesuai perilaku yang diperbuatnya dan tentunya memberikan shock theraphy agar tidak melakukannya lagi.

Ditulis oleh Anindya Putri Afridelina, Mahasisiwi London School of Public Relations Jakarta

Komentar

Berita lainnya