oleh

Memasuki Dunia YouTube Anak-Anak

-Opini-1.407 views

Sebuah video unboxing berhasil meraih view hingga 30 juta. Bukan gadget baru rilis yang dipertontonkan. Bukan pula tumpukan make up yang disebut-sebut wanita sebagai ‘racun’ sehingga ingin beli koleksi make up baru.

Video tersebut menunjukkan anak-anak imut yang sedang membongkar mainan baru. Telor kinderjoy, semacam itu. Harganya hanya 10 ribuan dan bisa ditemukan dimana saja.

Mengapa video itu sukses sekali menembus angka-angka fenomenal?

Unboxing telor kinderjoy bukanlah satu-satunya video YouTube dengan views banyak yang mencengangkan orang dewasa. Tak terhingga jumlah video serupa yang bertebaran di YouTube. Platform video yang awalnya terbilang jarang diakses anak, kini menjadi ‘Kerajaan’ bagi anak-anak.

Masih ingat dengan Baby Shark Dance? Video yang sukses menembus angka 2,8 triliun views, bersanding dengan lagu-lagu dari penyanyi terkenal seperti Justin Beber, Ed Sheeran dan Louis Fonsi. Ketenaran YouTube bukan lagi dinikmati oleh kalangan 13 tahun keatas. Bahkan bisa dibilang, banyak sekali profit yang bisa diambil dari viewer yang berupa anak-anak ini. Mulai dari para YouTuber hingga YouTube sebagai sebuah perusahaan sendiri, masing-masing ingin meraup keuntungan.

BACA JUGA:  Membangun Semangat Pemuda untuk Masa Depan

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Majalah Forbes pada akhir tahun lalu merangkum 10 orang dengan pendapatan terbanyak di YouTube. Pewdiepie, gamers dengan jumlah subscriber diatas 90 juta saja masih kalah dengan Ryan ToysReview, yang dikelola oleh anak umur 5 tahun dan menduduki posisi pertama. Angka yang fantastis, bukan?

Memang sudah lumrah bila anak-anak menyukai tontonan. Buktinya, acara-acara TV pun mengakuinya. Kalau tidak, koleksi kartun di TV sudah dikurangi sejak kapan tahu. Namun, kartun-kartun tersebut masih meraja hingga sekarang.

Perbedaan mencolok antara TV dan YouTube adalah fakta bahwa kita lebih memiliki kontrol akan apa yang ditonton. Tidak seperti TV yang porsi iklannya sudah ditentukan, kita hanya harus menunggu 5-30 detik saja sebelum mulai menonton video yang kita pilih sendiri.

BACA JUGA:  Saatnya Indonesia Tanpa Sampah Plastik

Apakah Berbahaya?

Dengan keunikan YouTube yang membuat kita bebas memilih apa yang kita tonton, anak-anak lebih menggandrungi YouTube daripada TV. Namun, dengan mudahnya akses YouTube, sebuah pertanyaan pun terlintas di pikiran orangtua; Apakah perkembangan YouTube berefek bahaya bagi tumbuh kembang anak?

Untuk menjawabnya, kita mesti memahami dulu bagaimana kerja YouTube. Bila lewat TV kita masih bisa memantau apa yang ditonton anak, kini anak dapat menonton YouTube lewat gadget siapapun, tidak mesti gadget orangtua. Maka itu perlunya anak dibentengi dengan pemahaman dasar tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Selain itu, bila berada di dalam rumah dengan gadget orangtua, anak dapat diberi screentime alias waktu untuk menonton. Waktu ini mesti diterapkan dengan teratur dan tidak boleh dilanggar. Sebab apabila dilanggar, anak bisa-bisa ketagihan atau malah mencari kesempatan memegang gadget diluar rumah.

BACA JUGA:  Agar Persahabatan Tak Lekang oleh Waktu

YouTube pun bukannya tidak menyadari fenomena ini. Kini dengan hadirnya fitur YouTube Kids yang berupa aplikasi dari Perusahaan YouTube sendiri, orangtua dapat mensortir apa saja yang boleh ditonton anak. Di YouTube pun bukan hanya video unboxing yang tersedia untuk anak, berbagai kartun mendidik juga mulai bermunculan. Nusa, misalnya. Kartun yang dibuat oleh Little Giant dan dikomandoi oleh Ustad Felis Siauw ini mengajarkan hal-hal dasar tentang akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh: Aiman Nabilah R, Mahasiswi STEI SEBI.

*Artikel yang terbit dirubrik OPINI merupakan tanggung jawab penuh penulis.

Komentar

Berita lainnya