oleh

Melongok Klinik Psikologi di Kampus UI

Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, kita perlu adanya keseimbangan jiwa raga, rohani dan jasmani. Tak sedikit orang yang mengabaikan pentingnya kebutuhan jiwa yang berpengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku. Solusi untuk konsultasi penyakit gangguan mental kini semakin mudah ditemui, salah satunya dapat ditemui di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Terletak di dalam Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, klinik ini juga terbuka praktek untuk masyarakat umum. Pasien di klinik datang dari berbagai usia dan latar belakang, seperti pasangan suami istri, remaja, sampai anak berkebutuhan khusus.

Di klinik pasien akan disambut ramah oleh resepsionis untuk menanyakan tujuan berkonsultasi, calon pasien tak perlu khawatir jika sebelumnya belum pernah melakukan konsultasi ke psikolog.

Sebelum berkonsultasi, calon pasien harus mengisi data diri yang disiapkan di meja resepsionis untuk kepentingan pemeriksaannya.

“Untuk biaya pendaftaran saat pengisian data diri cukup membayar Rp20,000,” kata Arini, petugas resepsionis Klinik Terpadu UI yang sedang bertugas.

Suasana klinik psikologi tampak seperti klinik pada umumnya. Ada sofa di ruang tunggu dan disediakan ruang bermain anak.

BACA JUGA:  LPM Tirtajaya Depok Soroti Minimnya Infrastruktur bagi Pemenuhan Hak Anak

Setelah mengisi data diri, pasien yang telah terdaftar akan diajak berkonsultasi di ruangan khusus. Klinik psikologi memiliki beberapa ruangan-ruangan kecil untuk konsultasi pasien dengan psikolog.

Di Klinik Terpadu Psikologi UI sendiri, pasien akan ditangani oleh ahli. “Kalau psikolog yang bukan mahasiswa dikenakan tarif Rp170,000/jam, kalau yang menangani mahasiswa praktek Rp125,000/jam. Tapi untuk saat ini, mahasiswa praktek tidak menerima pasien dewasa, hanya anak-anak.” jelas Arini.

Hasil dari klinik psikologi tentu dapat dirasakan. Justino, salah satu mahasiswa desain grafis yang telah menjalani konsultasi mengaku sangat terbantu dengan konsultasi yang ia jalani.

“Awalnya karena memang banyak masalah, dan saat itu kuliah jadi berantakan, sering gak ngampus dan rasanya gak mau ngapa-ngapain. Sebelum datang ke psikolog, sempat bingung dan nervous, sih. Kayak gak tau apa yang nanti mau diceritain, tapi setelah coba search klinik psikologi di internet dan coba datang, ternyata membantu banget.” ujar Justino.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Berikan Layanan Ambulans Gratis untuk Warga Depok

Sebelum berkonsultasi, Justino mengisi selembar kertas tentang biodata diri dan keluhan yang dirasakannya, setelah itu ia menjalankan konsultasi di ruangan kecil dengan pending ruangan, berukuran 2×2, ada dua kursi dan satu meja.

“Waktu konsultasi pertama itu sama ibu usia sekitaran 40-an, ya kesan pertama pas konsultasi sih nyaman, ya. Ditanya gimana kabarnya trus apa keluhannya. Setelah selesai psikolog tadi kasih nomer kontaknya yang bias dihubungi untuk konsultasi selanjutnya,” kata Justino.

Konsultasi memakan waktu sekitar satu sampai dua jam. Menurut Justino, memang perlu menemukan psikolog yang pas untuk berkonsultasi karena berpengaruh dengan feedback dan chemistry yang kita rasakan.

“Setelah konsultasi pertama, saya lanjutkan lagi konsultasi dengan lain psikolog. Yang kedua ini laki-laki masih muda. Mungkin karena sama-sama laki-laki dan dia usianya juga gak terlalu jauh dari saya, jadi dari konsultasi yang sebelumnya saya merasa lebih nyaman dengan yang kedua ini,” sambungnya.

Justino juga menyayangkan tentang tanggapan masyarakat yang masih ragu datang ke klinik psikologi saat memang butuh pertolongan dari ahlinya. Bukan hal yang suram atau mengerikan untuk sekadar mengetahui kebutuhan jiwa dan mengetahuinya dari sudut pandang ahli.

BACA JUGA:  LPM Tirtajaya Depok Soroti Minimnya Infrastruktur bagi Pemenuhan Hak Anak

Beberapa orang mungkin sudah merasa cukup dengan bercerita ke orang terdekat, namun kembali lagi pada respon lingkungannya dalam menanggapi permasalahannya, ada yang memang membuahkan solusi baik atau malah menjatuhkan mental.

Jika dipikir kembali, setiap orang pasti punya masalah, namun tentu di titik paling rendah dan masalah terberat yang kita hadapi, bisa ada pemikiran kita memikul masalah itu sendiri dan rasa menyalahkan diri sendiri kalau diri kita yang paling salah.

“Buat saya gak perlu takut datang ke psikolog kalau memang butuh pertolongan. Jangan khawatir dengan anggapan ‘kalau lo ke psikolog berarti lo gila’. Enggak, itu gak benar, karena kalau pikiran itu dibiarkan itu juga akan menyiksa diri sendiri, yang akhirnya bisa bikin kita kehilangan motivasi dan semangat hidup.” (Adhita Dian)

Komentar

Berita lainnya